Misteri Pelaksanaan Sertifikasi Guru

Kompas, p 7

Artikel ini ditulis oleh Hafid Abbas, Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta. Pada 14 Maret 2013 Bank Dunia meluncurkan publikasi “Spending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia”. Publikasi itu menunjukkan, para  guru yang telah memperoleh sertifikasi dan yang belum ternyata menunjukkan prestasi yang relatif sama. Kesimpulan Bank Dunia itu diperoleh setelah meneliti sejak 2009 di 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia, dengan melibatkan 39.531 siswa. Padahal, penyelenggaraannya telah menguras sekitar dua pertiga dari total anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen APBN. Pada 2010 saja biaya sertifikasi mencapai Rp 110 triliun.

Tiga Implikasi

Dari temuan Bank Dunia, terdapat tiga implikasi penting yang harus dibenahi. Pertama, bagaimana menghilangkan pola formalitas penyelenggaraan program sertifikasi guru. Kedua, bagaimana mengaitkan program sertifikasi guru dengan pembenahan mekanisme pengadaan dan perekrutan calon guru di perguruan tinggi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Ketiga, bagaimana menyelenggarakan program sertifikasi guru agar lebih berbasis kelas. Selama ini guru yang mengikuti PLPG tidak dirancang untuk mengamati kompetensinya mengajar di kelas.

Data menunjukkan, pada 2011, TIMMS (studi internasional tentang matematika dan IPA) melaporkan, untuk matematika skor Indonesia 386 dan untuk IPA skor Indonesia 406. Selanjutnya studi PISA (program penilaian siswa internasional untuk IPA, dan membaca) menunjukkan Indonesia selalu berada pada urutan kelompok terendah di dunia.

Fokus ke PBM di kelas

Guru-guru di Manabo, Manila akan memperoleh tambahan insentif jika meraka secara nyata berinovasi meningkatkan mutu proses belajar-mengajar (PBM) di kelas. Cara mengukurnya, pengawas atau pemilik sekolah cukup mengamati kegiatan PBM secara berkala; apakah terdapat persiapan yang memadai atau tidak, apakah ada media belajar sebagai kreasi inovatif guru atau tidak, dan seterusnya. Pembinaan kesejahteraan dan promosi karier para guru dilakukan dengan berbasiskan pada kinerja dalam meningkatkan kualitas PBM-nya.

Akhirnya, meski penyelenggaraan sertifikasi guru telah berdampak positif terhadap peningkatkan kesejahteraan guru, yakni dapat menurunkan jumlah guru yang kerja rangkap secara drastic dari 33 persen sebelum sertifikasi ke 7 persen sesudah sertifikasi, perubahan apa pun yang dilakukan, kurikulum apa pun yang diberlakukan, dan kebijakan apapun yang hendak diambil, jika tak menyentuh perbaikan proses belajar-mengajar di kelas, hasilnya akan sia-sia.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s