Fondasi Pendidikan Perlu Diperkuat

Koran Sindo, halaman 5

Kementrian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan saat ini sudah banyak capaian pendidikan yang telah diraih. Karena itu, pemerintahan baru perlu memperkuat program pendidikan berkelanjutan yang telah dirintisnya.

Beberapa standar nasional pendidikan yang menjadi capaian Kemendikbud selama ini, misalnya standar pembiayaan BOS, Bidik Misi, bantuan siswa miskin, dan bantuan operasional PTN. Nuh mengusulkan pemerintah baru nanti untuk menaikkan unit cost untuk pembiayaan tersebut.

Capaian lain Kemendikbud adalah dalam hal peningkatan kinerja pendidikan dengan memperluas akses yaitu dengan adanya pendidikan menengah universal (PMU), dan juga untuk standar sarana prasarana rehabilitasi ruang kelas, pembangunan perguruan tinggi, dan akademi komunitas.

Nuh menambahkan, perbaikan di sektor tenaga pendidik adalah sektor yang paling rumit. Meski ada 1.716.458 guru yang sudah tersertifikasi, lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK) harus direformasi kembali. Kemendikbud telah merintis program beasiswa bagi calon guru dan kuliah berasrama karena guru harus menguasai komptetensi sosial, pedagogi, profesional dan personal.

Mendikbud Nuh juga mengklaim, Kurikulum 2013, yang diiterapkan secara masif tahun ini, dari sisi substansi sudah bagus, namun pemerintah baru nanti perlu menata kembali pengadaan bukunya. Kurikulum 2013 memakai konsep mata pelajaran tematik integratif dan aktif dengan implemantasi pembelajaran yang didasarkan pada diskusi, mencoba sendiri, dan mengomunikasikan pada yang lain.

Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah berpendapat, dair segi pembiayaan pemerintah dan DPR berhasil meningkatkan unit cost biaya pendidikan karena setiap tahun anggaran pendidikan yang selalu naik. Kedepan, pemerintah harus membuat bantuan pendidikan lebih tepat sasaran, meningkatkan sosialisasi dan pendistribusian tanpa potongan, dan juga harus menyentuh pendidikan swasta.

Selain itu, pemerintah harus teliti membuat skema anggaran karena pada 2010 lalu dianggarkan Rp 26 triliun untuk rehabilitasi sekolah, tapi tidak mencukupi. Banyak sekolah yang sudah reyot tidak kebagian anggaran rehab.

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo mengatakan, pihaknya mengapresiasi adanya tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan tunjangan prosefesi untuk kesejahteraan guru. Disamping, peningkatan mutu guru dengan proses sertifikasi dan beasiswa.

Education Foundation Needs to be Strengthened

Koran Sindo, page 5

Ministry of Education and Culture (Kemendikbud) stated at present there have been many educational attainments achieved.   Therefore, the new government needs to strengthen education programs continuing what has been started.

Several education national standards of the Kemendikbud attained so far, for example are the funding standards of BOS, Bidik Misi, underpriviledged student assistance, and PTN operational assistance. Nuh proposed the new government to later raise the unit costs of such funding.

Other Kemendikbud attainments are in terms of improved education performance by expanding access, namely with the existence of universal secondary education or pendidikan menengah universal (PMU), and also for the equipment and infrastructure standard for classroom rehabilitation, higher education development, and community academy.

Nuh added, improvement in the education staff is the most complicated.   Although there are 1,716,458 teachers already certified, Educational institutions of educator resources (LPTK) must be reformed. Kemendikbud has started a scholarship program for prospective teachers and college dormitories because teachers must master social, pedagogic, professional and personal competencies.

Mendikbud Nuh also claims, the 2013 Curriculum, applied en masse this year, in terms of substance it is already good, however the new government will later need to reorganize its book procurement. Curriculum 2013 uses the concept of integrative and active thematic subjects by implementing learning based on discussion, hands-on, and communicating to others.

House Commission X member Ferdiansyah is of the opinion that in terms of funding the government and the House of Representatives (DPR) successfully increased the unit cost of education fees because every year education budget always rises.   In future, the government must make the education assistance more appropriately targeted, improving familiarizing and distribution without cuts, and also must touch private education/schools.

In addition, the government must be meticulous in making the budget scheme because last 2010, Rp 26 trillion was budgeted for school rehabilitation, but it did not sufficiently cover (the real cost).   There are many dilapidated schools that did not receive the rehab budget.

Meanwhile, Chairman of the Board of the Indonesian Teachers Association (PGRI) Sulistyo said his party appreciates the presence of functional allowance, special allowance, and professional allowance for teachers’ welfare.   In addition, is the teacher quality improvement with the certification process and scholarships.  

Education Foundation Needs to be Strengthened

Education Foundation Needs to be Strengthened

Penerbit Selewengkan Buku Kurikulum

Media Indonesia, halaman 11

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh mengakui penyaluran 245 juta buku pelajaran kurikulum 2013 tersendat. Perlambatan distribusi disebabkan penerbit yang ‘nakal’ dengan tidak mendistribusikan buku ke sekolah-sekolah, tapi menjualnya ke toko buku. Penyebab lainnya ialah adanya libur panjang sekolah dan Ramadhan.

Nuh meminta agar penerbit menghormati kesepakatan kontrak yang telah dibuat. Yaitu buku didistribusikan secara gratis ke sekolah, lantaran buku-buku itu telah dibeli Kemendikbud dengan kisaran harga Rp 9.000 per buah.

Sejumlah penerbit yang ‘bandel’, lanjut Nuh, sengaja menjual buku-buku itu ke toko buku dengan harga sekitar Rp 20.000 per buku untuk meraup untung besar. Nuh menyatakan, mereka tidak akan segan member sanksi kepada penerbit yang nakal. Dia juga mengimbau kepada toko buku agar tidak membeli produk buku kurikulum yang ditawarkan penerbit.

Dirjen Pendidikan Menengah (Dikmen) Kemendikbud Achmad Jazidie menambahkan, pihaknya masih terus menelusuri sejumlah laporan terkait praktik penjualan buku oleh sejumlah penerbit.

Kendati masih ada sejumlah kendala, Nuh masih optimistis penyaluran 245 juta buku kurikulum 2013 akan sampai ke semua sekolah sesuai jadwal, yakni paling lambat 15 Agustus. Untuk mengantisipasi keterlambatan, Kemendikbud telah membagikan isi materi kurikulum 2013 kepada para guru dalam format compact disc (CD) yang bisa digandakan, selain itu, isi kurikulum bisa diunduh dari situs Kemendikbud.

Publishers Deviated Curriculum Books

Media Indonesia, page 11

Education Minister (Mendikbud) M Nuh admitted the distribution of 245 million curriculum 2013 textbooks was sluggish.   The distribution delay was caused by ‘delinquent’ publishers that did not distribute the books to schools, but sold them to book stores.   Another cause is the long school and Ramadhan holiday.

Nuh asked the publishers to respect the agreement made; namely to distribute the books free of charge to schools, because the books had been bought by the Ministry of Education (Kemendikbud) at a price of about Rp 9,000 per piece.

A number of ‘delinquent’ publishers, continued Nuh, deliberately sold the books to bookstores at a price of around Rp 20,000 per book to gain large profit. Nuh stated they would not hesitate to slap sanctions on the delinquent publishers.   He also appealed to bookstores not to purchase the curriculum book products offered by the publishers.

Director General of Secondary Education (Dikmen) Kemendikbud Achmad Jazidie added his party was still investigating a number of reports involving the sale of books by a number of publishers.

Despite a number of constraints, Nuh was still optimistic the distribution of 245 million curriculum 2013 books would arrive in all the schools as scheduled, the latest by 15 August. Addressing the delay, Kemendikbud had distributed the content of curriculum 2013 materials to teachers in compact disc (CD) format, which could be copied; in addition, the curriculum content could be downloaded from the Kemendikbud site.

Publishers Deviated Curriculum Books

Publishers Deviated Curriculum Books

Ajak Siswa Rasakan Fenomena Alam

Kompas, halaman 11

Kecintaan siswa terhadap ilmu sains dan matematika dapat ditingkatkan lewat pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Guru mengajak siswa merasakan fenomena alam dengan melihat, menyentuh, dan meraba. Murid akan lebih mudah memahami persoalan dan solusinya.

Melva Manalu, guru sains SD Nasional Plus BPK Penabur, Bogor, mengatakan, selama ini banyak siswa tidak menyukai sains dan matematika karena menganggap pelajaran itu sulit. Jika guru bisa mengubah paradigma itu dengan metode pengajaran yang menyenangkan, siswa akan tertarik belajar.

Bulan lalu Melva Manalu bersama Binar Kasih Sejati, guru sains Sekolah International Darul Hikam, Bandung, Jawa Barat, mendapatkan beasiswa pendidikan Honeywell Educators @Space Academy (HESA) di Alabama, Amerika Serikat. Program yang diikuti 240 guru dari 27 negara itu diharapkan membantu guru menjadi pendidik yang efektif dalam mata pelajaran teknologi, rekayasa, matematika dan sains (science, technology, engineering, math, STEM).

Selama program yang berlangsung pada 11-24 Juni, guru menjalani pelatihan dengan fokus bidang ilmu pengetahuan dan ekplorasi angkasa, seperti pelatihan jadi astronot, simulasi penerbangan jet, pelatihan ketahanan hidup didarat dan lautan, serta simulasi penerbangan interaktif. Program itu merupakan kerjasama antara US Space and Rocket Centre dan Honeywell.

Dari pengalaman mengikuti program itu, Melva menyadari, selama ini guru lebih sering memberikan rumus-rumus sains dan matematika tanpa mengajak siswa mengetahui manfaatnya dan cara menerapkannya dalam kehidupan. Melva mengatakan, hal itu membuat siswa mudah bosan saat belajar disekolah. Guru lainnya, Binar, menuturkan, dalam pembelajaran, siswa sebaiknya diajak memecahkan suatu persoalan melalui simulasi individu atau kelompok, caranya, bisa dengan permainan eduaktif.

Invite Students to Feel the Phenomenon of Nature

Kompas, page 11

Students’ love for science and mathematics could be enhanced through learning in contextual approach. The teacher invites students to feel nature phenomenon by seeing, touching, and feeling/ stroking.   It would be easier for pupils to understand a problem and its solution.

Melva Manalu, science teacher of SD Nasional Plus BPK Penabur, Bogor, said so far many students do not like science and mathematics because they consider the subjects difficult.   If the teacher can change such paradigm with an enjoyable teaching method, students would be interested in learning.

Last month Melva Manalu together with Binar Kasih Sejati, science teacher of Darul Hikam International School, Bandung, West Java, obtained an education scholarship from Honeywell Educators @Space Academy (HESA) in Alabama, the United States.   The program participated by 240 teachers from 27 countries is expected to help teachers to be effective educators in the subjects of science, technology, engineering, math, STEM.

During the program held on 11-24 June, teachers underwent training focused on the field of science and space exploration, such as training to become astronauts, jet flight simulation, survival training on land and sea, as well as interactive flight simulation.  The program is a cooperation between US Space and Rocket Centre and Honeywell.

From the experience of taking part in the program, Melva realized, all this time teachers more often provide science and mathematics formula without inviting students to know the benefits and how to apply them in life.  Melva said this made students easily bored when studying in school.  The other teacher, Binar explained in learning, students should be invited to solve problems through individual or group simulation, possibly by way of educational games.

Invite Students to Feel the Phenomenon of Nature

Invite Students to Feel the Phenomenon of Nature

Pelajar Indonesia Raih Tiga Emas

Kompas, halaman 12

Pelajar Indonesia meraih tiga medali emas dan satu medali perak di Olimpiade Biologi Internasional ke-25 yang berlangsung di Bali, 6-12 Juli 2014. Prestasi pelajar Indonesia dalam ajang itu meneruskan tradisi perolehan medali dalam beragam kompetisi sains internasional.

Medali emas untuk tim Indonesia dalam Olimpiade Biologi Internasional (International Biology Olympiad/IBO) ke-25 diraih Samuel Henry Kurniawan, pelajar SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, Banten; Valentino Sudaryo dari SMA Tunas Bangsa, Pontianak, Kalimantan Barat; dan Kelvin Suriyaputra dari SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta. Adapun medali perak diraih Hana Fauzyyah Hanifin, pelajar dari SMA Semesta, Semarang, Jawa Tengah.

Perolehan medali tahun ini memperbaiki prestasi Indonesia pada ajang IBO ke-24 di Bern, Swiss. Tahun lalu, tim olimpiade Biologi Indonesia meraih satu medali emas dan tiga medali perak.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim menyatakan bangga dengan prestasi yang diraih dan kesuksesan penyelenggaraan ajang ini.  

IBO ke-25 diikuti 61 negara, termasuk Indonesia. Setiap Negara mengirimkan paling banyak empat pelajar. Selain tim peserta, IBO ke-25 di Bali juga dihadiri delegasi peninjau dari Luksemburg, Malaysia, dan Suriah.

Ketua pelaksana IBO ke-25, Agus Dana Permana, menyatakan, perolehan medali itu merupakan prestasi individu, untuk mempertahankan prestasi, bahkan meningkatkannya, perlu pelatihan dan pembinaan yang intensif mulai dari sekolah, dan juga membutuhkan dukungan dan komitmen dari pemerintah.

Tim IBO Indonesia juga kerap memperoleh medali, yang menjadi bukti prestasi anak bangsa di kancah kompetisi berskala dunia untuk calon-calon ilmuwan. Anugrah Erlaut, yang saat ini melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, setelah lulus dari Nanyang Technological University, Singapura, adalah periah emas dalam IBO ke-20 di Jepang, 2009. Tradisi medali berlanjut pada IBO ke-24 di Swiss, 2013. Medali emas untuk Indonesia dalam IBO ke-24 diperoleh Rhogerry Deshycka. Dalam situs Kemdikbud disebutkan, Rhogerry diterima di Departemen Biologi Massachutes Institutes of Technology. Amerika Serikat.