Ajak Siswa Rasakan Fenomena Alam

Kompas, halaman 11

Kecintaan siswa terhadap ilmu sains dan matematika dapat ditingkatkan lewat pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Guru mengajak siswa merasakan fenomena alam dengan melihat, menyentuh, dan meraba. Murid akan lebih mudah memahami persoalan dan solusinya.

Melva Manalu, guru sains SD Nasional Plus BPK Penabur, Bogor, mengatakan, selama ini banyak siswa tidak menyukai sains dan matematika karena menganggap pelajaran itu sulit. Jika guru bisa mengubah paradigma itu dengan metode pengajaran yang menyenangkan, siswa akan tertarik belajar.

Bulan lalu Melva Manalu bersama Binar Kasih Sejati, guru sains Sekolah International Darul Hikam, Bandung, Jawa Barat, mendapatkan beasiswa pendidikan Honeywell Educators @Space Academy (HESA) di Alabama, Amerika Serikat. Program yang diikuti 240 guru dari 27 negara itu diharapkan membantu guru menjadi pendidik yang efektif dalam mata pelajaran teknologi, rekayasa, matematika dan sains (science, technology, engineering, math, STEM).

Selama program yang berlangsung pada 11-24 Juni, guru menjalani pelatihan dengan fokus bidang ilmu pengetahuan dan ekplorasi angkasa, seperti pelatihan jadi astronot, simulasi penerbangan jet, pelatihan ketahanan hidup didarat dan lautan, serta simulasi penerbangan interaktif. Program itu merupakan kerjasama antara US Space and Rocket Centre dan Honeywell.

Dari pengalaman mengikuti program itu, Melva menyadari, selama ini guru lebih sering memberikan rumus-rumus sains dan matematika tanpa mengajak siswa mengetahui manfaatnya dan cara menerapkannya dalam kehidupan. Melva mengatakan, hal itu membuat siswa mudah bosan saat belajar disekolah. Guru lainnya, Binar, menuturkan, dalam pembelajaran, siswa sebaiknya diajak memecahkan suatu persoalan melalui simulasi individu atau kelompok, caranya, bisa dengan permainan eduaktif.

Invite Students to Feel the Phenomenon of Nature

Kompas, page 11

Students’ love for science and mathematics could be enhanced through learning in contextual approach. The teacher invites students to feel nature phenomenon by seeing, touching, and feeling/ stroking.   It would be easier for pupils to understand a problem and its solution.

Melva Manalu, science teacher of SD Nasional Plus BPK Penabur, Bogor, said so far many students do not like science and mathematics because they consider the subjects difficult.   If the teacher can change such paradigm with an enjoyable teaching method, students would be interested in learning.

Last month Melva Manalu together with Binar Kasih Sejati, science teacher of Darul Hikam International School, Bandung, West Java, obtained an education scholarship from Honeywell Educators @Space Academy (HESA) in Alabama, the United States.   The program participated by 240 teachers from 27 countries is expected to help teachers to be effective educators in the subjects of science, technology, engineering, math, STEM.

During the program held on 11-24 June, teachers underwent training focused on the field of science and space exploration, such as training to become astronauts, jet flight simulation, survival training on land and sea, as well as interactive flight simulation.  The program is a cooperation between US Space and Rocket Centre and Honeywell.

From the experience of taking part in the program, Melva realized, all this time teachers more often provide science and mathematics formula without inviting students to know the benefits and how to apply them in life.  Melva said this made students easily bored when studying in school.  The other teacher, Binar explained in learning, students should be invited to solve problems through individual or group simulation, possibly by way of educational games.

Invite Students to Feel the Phenomenon of Nature

Invite Students to Feel the Phenomenon of Nature

Pelajar Indonesia Raih Tiga Emas

Kompas, halaman 12

Pelajar Indonesia meraih tiga medali emas dan satu medali perak di Olimpiade Biologi Internasional ke-25 yang berlangsung di Bali, 6-12 Juli 2014. Prestasi pelajar Indonesia dalam ajang itu meneruskan tradisi perolehan medali dalam beragam kompetisi sains internasional.

Medali emas untuk tim Indonesia dalam Olimpiade Biologi Internasional (International Biology Olympiad/IBO) ke-25 diraih Samuel Henry Kurniawan, pelajar SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, Banten; Valentino Sudaryo dari SMA Tunas Bangsa, Pontianak, Kalimantan Barat; dan Kelvin Suriyaputra dari SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta. Adapun medali perak diraih Hana Fauzyyah Hanifin, pelajar dari SMA Semesta, Semarang, Jawa Tengah.

Perolehan medali tahun ini memperbaiki prestasi Indonesia pada ajang IBO ke-24 di Bern, Swiss. Tahun lalu, tim olimpiade Biologi Indonesia meraih satu medali emas dan tiga medali perak.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim menyatakan bangga dengan prestasi yang diraih dan kesuksesan penyelenggaraan ajang ini.  

IBO ke-25 diikuti 61 negara, termasuk Indonesia. Setiap Negara mengirimkan paling banyak empat pelajar. Selain tim peserta, IBO ke-25 di Bali juga dihadiri delegasi peninjau dari Luksemburg, Malaysia, dan Suriah.

Ketua pelaksana IBO ke-25, Agus Dana Permana, menyatakan, perolehan medali itu merupakan prestasi individu, untuk mempertahankan prestasi, bahkan meningkatkannya, perlu pelatihan dan pembinaan yang intensif mulai dari sekolah, dan juga membutuhkan dukungan dan komitmen dari pemerintah.

Tim IBO Indonesia juga kerap memperoleh medali, yang menjadi bukti prestasi anak bangsa di kancah kompetisi berskala dunia untuk calon-calon ilmuwan. Anugrah Erlaut, yang saat ini melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, setelah lulus dari Nanyang Technological University, Singapura, adalah periah emas dalam IBO ke-20 di Jepang, 2009. Tradisi medali berlanjut pada IBO ke-24 di Swiss, 2013. Medali emas untuk Indonesia dalam IBO ke-24 diperoleh Rhogerry Deshycka. Dalam situs Kemdikbud disebutkan, Rhogerry diterima di Departemen Biologi Massachutes Institutes of Technology. Amerika Serikat.

Indonesian Students Win Three Golds

Kompas, page 12

Indonesian students won three gold medals and one silver medal in the 25th International Biology Olympiad held in Bali, 6-12 July 2014.  The achievements of Indonesian students in this event continues the tradition of medals acquisition in various international science competitions.

The gold medals for the Indonesia team in the 25th International Biology Olympiad were won by Samuel Henry Kurniawan, student of SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, Banten; Valentino Sudaryo of SMA Tunas Bangsa, Pontianak, West Kalimantan; and Kelvin Suriyaputra of SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta. Whereas the silver medal was won by Hana Fauzyyah Hanifin, student of SMA Semesta, Semarang, Central Java.

This year’s medals acquisition improved Indonesia’s achievement in the 24th IBO event in Bern, Switzerland. Last year, the Indonesia Biology Olympiad team won one gold and three silver medals.

Deputy Education Minister Musliar Kasim declared he was proud of the achievements and the success of holding this event.    

61 countries, including Indonesia, participated in the 25th IBO.   Each country sent a maximum of four students.    In addition to the participating teams, the 25th IBO in Bali was also attended by observer delegations from Luxemburg, Malaysia, and Syria.

Chairman of the 25th IBO, Agus Dana Permana, said the medals acquisition is that of individual achievements; to maintain such achievements, even to improve them, requires intensive training and coaching starting from the school, and also requires the support and commitment of the government.

Indonesia’s IBO team often wins medals, as proof of the achievements of the nation’s children in global scale competitions for prospective scientists. Anugrah Erlaut, who is currently continuing education in the Bandung Institute of Technology, after graduating from Nanyang Technological University, Singapore, is a gold medalist in the 20th IBO in Japan in 2009.  The medal (winning) tradition continued in the 24th IBO in Switzerland in 2013.  The gold medal for Indonesia in the 24th IBO was won by Rhogerry Deshycka. In the Kemdikbud site, it is mentioned that Rhogerry was accepted in the Biology Department of Massachusetts Institute of Technology, U.S.A.

Indonesian Students Win Three Golds

Indonesian Students Win Three Golds

Indonesia Kirimkan Pelajar ke Ajang Internasional

Kompas, halaman 11

Indonesia mengirimkan 31 pelajar terbaiknya ke berbagai ajang olimpiade sains dan seni tingkat internasional. Pelajar yang akan membawa harum nama bangsa itu diharapkan mendapat perhatian dan dukungan dalam kelanjutan pendidikannya.

Dalam acara pelepasan, di Jakarta, Rabu (2/7), Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, anak-anak bangsa yang berprestasi harus dihargai. Bahkan, anak-anak berpotensi dalam bidang sains dan seni itu diharapkan bisa melanjutkan pendidikan hingga tingkat doktor guna menambah jumlah doktor yang masih minim di Indonesia.

Olimpiade yang diikuti ialah Olimpiade Matematika Internasional di Afrika Selatan, Olimpiade Fisika Internasional di Kazakhstan, Olimpiade Komputer Internasional di Taiwan, Olimpiade Kimia di Vietnam, Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika di Romania, serta Olimpiade Geografi Internasional di Polandia.

Indonesia juga menjadi tuan rumah Olimpiade Biologi Internasional tahun ini di Bali pada 5-13 Juli. Untuk ajang seni, Indonesia mengikutsertakan desain poster Angger Putri Tanjung (SMAN 1 Rembang) dalam Festival Seni Internasional Siswa SMA di Jepang.

Nuh mengatakan, anak-anak bangsa yang berprestasi itu harus didata dan dilacak keberlanjutan studinya, baik di dalam maupun luar negeri. Karena pemerintah telah menyediakan banyak beasiswa, terutama beasiswa dari dana abadi, untuk menjamin anak-anak berprestasi ini bisa kuliah ditempat terbaik.

Nuh menambahkan, SIngapura gencar memburu anak-anak Indonesia yang berprestasi internasional. Karena itu, perguruan tinggi dalam negeri diharapkan mau memperhitungkan prestasi mereka untuk bisa diterima di perguruan tinggi ternama.

Indonesia Sends Students to International Arena

Kompas, page 11

Indonesia sends 31 of its best students to the international science and arts olympics.   It is expected that these students who will give the nation a good name will be provided attention and support in their further studies.

In the sending off event in Jakarta, Wednesday (2/7), Minister of Education and Culture Mohammad Nuh said achieving students of the nation must be appreciated.  The students with potential in the fields of science and the arts should be expected to further their education to the doctoral level to increase the number of doctors in Indonesia, which are still minimal.

Attended are the International Mathematics Olympics in South Africa, the International Physics Olympics in Kazakhstan, the International Computer Olympics in Taiwan, the Chemistry Olympics in Vietnam, the International Astronomy and Astrophysics in Romania, as well as the International Geography Olympics in Poland.

Indonesia is also host for the International Biology Olympics this year in Bali on 5-13 July.   For the arts, Indonesia sent poster designer Angger Putri Tanjung (SMAN 1 Rembang) to the International Arts Festival in Japan.

Nuh said the data of the nation’s achieving students must be collected and traced in the continuity of their studies, within the country as well as abroad.   The government has provided many scholarships, especially scholarships from endowment funds, to ensure these achieving students could study in the best universities.

Nuh added Singapore incessantly hunts for Indonesian students with international (standard) achievement.  Therefore, tertiary institutions in the country are expected to be willing to consider/ factor in their achievements to be accepted in well known universities.

Perdebatan tentang Pendidikan, Riset Tidak Mengesankan

The Jakarta Post, halaman 4

Putaran keempat dari debat presiden yang menampilkan dua calon wakil presiden pada hari Minggu hanya menawarkan sekilas potensi perbaikan di masa depan dalam pendidikan dan riset, serta dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang ada.

Selama perdebatan Jusuf Kalla menekankan perlunya meningkatkan pembangunan karakter dan profesionalisme para guru, sedangkan Hatta Rajasa berbicara soal bagaimana meningkatkan riset untuk kegunaan bisnis.

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Djaali mengatakan pada hari Senin bahwa ia menyambut baik program-program para kandidat; ia menekankan perlunya pemimpin masa depan untuk lebih terlibat dalam meningkatkan institusi pengajaran.   Meningkatkan institusi yang menghasilkan guru berkualitas, sama pentingnya dengan berfokus kepada kesejahteraan guru.

Menurut Djaali, kini terdapat 12 universitasyang dikhususkan untuk memproduksi guru (LPTK), serta terdapat 24 fakultas pendidikan mengajar negeri.  Ia menyarankan pemerintahan berikutnya agar berfokus kepada peningkatan fasilitas-fasilitas ini untuk mendukung proses pendidikan.  Ia juga mengatakan fasilitas-fasilitas tersebut akan membantu calon-calon guru berinteraksi dengan elemen-elemen lain di lingkungan fakultas, serta memberi mereka bimbingan yang amat dibutuhkan.

Pakar pendidikan Doni Koesoema yang juga penasehat Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), mengatakan perdebatan menawarkan sedikit dalam hal inovasi pendidikan, dan bahwa kedua kandidat perlu berfokus pada meningkatkan implementasi dari kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang ada.

Doni yang juga seorang guru mengatakan bahwa subsidi pengajaran tetap butuh perbaikan, namun ia menggarisbawahi bahwa salah satu masalah terbesar di dalam sistem pendidikan adalah peraturan-peraturan yang tidak realistis.    Doni juga mengatakan sistem evaluasi pendidikan perlu dirubah, terutama dalam hal mengintegrasikan dan meningkatkan kurikulum pendidikan 2013 dan ujian nasional.

Sementara itu, periset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) Indria Samego mengatakan peningkatan anggaran riset menjadi Rp 10 triliun (US$834 juta) untuk lima tahun seperti yang diusulkan Hatta belumlah cukup dan masih jauh dari optimal.

Debate on Education, Research Unimpressive

The Jakarta Post, page 4

The fourth round of presidential debates that featured the two vice presidential hopefuls on Sunday offered only a glimpse of potential future improvements in education and research, as well as in the implementation of existing policies.

During the debate, Jusuf Kalla emphasized the need to improve character building and the professionalism of teachers, while Hatta Rajasa spoke of how to improve research for the use of business.

Jakarta State University (UNJ) Rector Djaali said on Monday that while he welcomed the candidates’ programs, he emphasized the need for future leaders to engage more in improving teaching institutions. Improving the institutions, which produced qualified teachers, would be just as important as focusing on the welfare of the teachers.

According to Djaali, there are currently 12 universities dedicated to producing teachers (LPTK), as well as another 24 state-teaching education faculties. He suggested the next government should focus on improving these facilities to support the education process. He also said such facilities would help to prospective teachers interact with other elements of the faculty environment, as well as provide them with much-needed guidance.

Education expert Doni Koesoema who is also an advisor to the Federation of Indonesian Teachers (FSGI), said the debate offered little in terms of education innovation, and that both candidates needed to focus on improving the implementations of existing policies and regulations.

Doni who is also a teacher, said that teaching subsidies  remained in need of improvement, but underlined that one of the biggest problems in the education system was unrealistic regulations. Doni also said the education evaluation system needed to be revamped, especially in terms of integrating and improving the 2013 education curriculum and the national exams.

Meanwhile, Indonesian Institute of Sciences (LIPI) researcher Indria Samego said increasing the research budget to Rp 10 trillion (US$834 million) for five years as proposed by Hatta was still not enough, and It’s still far from optimal.

Debate on Education, Research Unimpressive

Debate on Education, Research Unimpressive

Pendidikan Sepanjang Hayat Jadi Agenda

Kompas, halaman 12

Pendidikan pada masa depan seharusnya disiapkan dengan semangat menjadikan warga negara pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan diagendakan dengan fokus kesetaraan, kualitas, dan pembelajaran.

Guna mencapai tujuan pendidikan sepanjang hayat, dibutuhkan guru-guru profesional dan berkualifikasi. Selain itu, para guru perlu didukung dengan baik lewat pendidikan, pelatihan, dan perlindungan untuk mencapai target pendidikan pendidikan sepanjang hayat.

Tantangan dunia pendidikan tak sekadar membuat anak-anak usia sekolah berada di sekolah dan belajar, tetapi juga menyediakan kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi pemuda dan orang dewasa sepanjang hidup mereka.

Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova mengatakan, hal tersebut merupakan visi kuat dari pendidikan sebagai hak asasi manusia, sama halnya untuk kesetaraan gender, sebagai penggerak untuk mengurangi kemiskinan. Hal itu juga untuk membantu pembangunan berkelanjutan.

Visi pendidikan dunia setelah 2015 tertuang dalam perjanjian Muskat untuk menggantikan Pendidikan untuk Semua. Visi tersebut diharapkan menjadi acuan dalam kebijakan pendidikan di negara-negara yang telah mengadopsi pendidikan untuk semua, termasuk Indonesia.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asahpena) Budi Trikorayanto, mengatakan bahwa  pendidikan tidak terbatas di sekolah atau pendidikan formal. Pendidikan informal dan nonformal perlu didukung agar semangat belajar sepanjang hayat tercipta lewat jalur pendidikan manapun.

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto mengatakan, pendidikan sepanjang hayat dapat terwujud bila ada rasa senang belajar. Pendidikan di sekolah yang sarat hafalan, berpikir tingkat rendah, dan sulit diaplikasikan dalam kehidupan membuat siswa tidak keratif dan inovatif. Pendidikan harus mampu membuat siswa mencintai belajar. Dengan demikian, seseorang mampu belajar dengan motivasi dari dalam dirinya sepanjang hidup.

Long-Life Education is in the Agenda

Kompas, page 12

Education in the future should prepare citizens for life-long learning.  Therefore, the focus of education policy agenda is on equality, quality and learning.

In order to achieve the goal of lifelong education requires professional and qualified teachers.  In addition, the teachers need to be supported properly through education, training, and protection to achieve the target of lifelong education.

The educational challenge is not merely to keep school-age children in school and learning, but also to provide education and training opportunities for youth and adults throughout their lives.

UNESCO Director General Irina Bokova said that it is a strong vision for education as a human right, as well as for gender equality, as a driving force for reducing poverty. This is also to help sustainable development.

The vision of the education world beyond 2015 is stipulated in the Muskat agreement to replace  Education for All.   The vision is expected to be the reference for education policy in countries that have adopted education for all, including Indonesia.

Deputy Chairman of the Association of Home Schooling and Alternative Education (Asahpena) Budi Trikorayanto said that education is not limited to the school or formal education.  Informal and nonformal education need to be supported so that the spirit of lifelong learning is created through any educational path.

In line with this, Bandung Institute of Technology Professor Iwan Pranoto said lifelong education can be realized when there is a joy for learning.   Education in school that is saturated with memorization, lower level thinking, and difficult to apply in life prompts students not to be creative and innovative.   Education must be capable of making students love learning.  Therefore, a person is capable of learning with motivation that comes from within throughout his/her lifetime.

Long-Life Education is in the Agenda

Long-Life Education is in the Agenda