Krisis Guru, Tiap Bulan di Kabupaten Ini Kehilangan 20-25 Guru

http://www.kompas.com

Krisis guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur terus berlanjut. Setiap bulan, Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan kehilangan 20-25 orang guru. Hilangnya guru tersebut disebabkan karena ada yang pensiun dan meninggal dunia. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan Yusuf Suhartono mengatakan, krisis guru di Pamekasan didominasi pada tingkat Sekolah Dasar.

Bahkan, menurut Yusuf, di salah satu SD di wilayah terpencil, ada yang hanya satu orang guru PNS merangkap kepala sekolah. Yusuf menambahkan, krisis guru SD sementara ini masih bisa diatasi dengan banyaknya guru berstatus honorer. Namun hal itu kurang maksimal karena guru honorer tidak memiliki ikatan dinas. Sehingga ketika ada kebutuhan dinas, para guru itu tidak bisa dimanfaatkan.

Apalagi, kata Yusuf, kesejahteraan yang diterima para guru honor tidak jelas sumber pendapatannya. Yang ada hanya bagi guru honorer yang sudah masuk data Tenaga Harian Lepas (THL) yang diambilkan dari APBD Kabupaten Pamekasan. Masing-masing guru berstatus THL setiap bulan menerima honor Rp 500.000.

Dinas Pendidikan melalui Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Pamekasan, sudah mengajukan tambahan formasi guru PNS, setiap ada peluang rekruitmen CPNS ke Badan Kepegawaian Nasional. Namun, yang diterima pengajuannya hanya 40 orang. Sedangkan kekurangan guru di Kabupaten Pamekasan sampai tahun 2015 ini, mencapai 800 orang.

Advertisements

Teacher Crisis, This Regency Loses 20 to 25 Teachers Each Month

http://www.kompas.com

Civil servant teacher (PNS) crisis in Pamekasan Regency is continuing. Each month, the Pamakesan Regency Education Agency lost 20 to 25 teachers as the teachers retired or died. The Education Agency Head Suhartono said the teacher crisis in Pamekasan mainly occurred at the elementary school level.

Even, according to Yusuf, one of elementary schools in a remote area only had one PNS teacher who was also in charge as school principal. Yusuf added the elementary school teacher crisis insofar was resolved by the big number of honorary teachers. However, the situation is not ideal as the honorary teachers do not have official commitments. When the certain official needs require them, the teachers cannot be assigned to do so.

Moreover, according to Yusuf, there was no any clear budget source to finance the honorary teachers’ incentive. The budget is only available for honorary teachers who are already recorded in the freelance workers (THL) data which is allocated in the Pamekasan Regency Regional State Budget (APBD). Each THL teacher receives a Rp 500,000 monthly incentive.

The Education Agency through The Pamekasan Regency Civil Service Board (BKD) had proposed the additional PNS teacher formation in the CPNS recruitment to the State Civil Service Board (BKN). However, there was only a 40 additional teachers was approved while the shortage of teachers in Pamekasan Regency reached 800 teachers in 2015.

Link: http://regional.kompas.com/read/2015/07/30/10545901/Krisis.Guru.Tiap.Bulan.di.Kabupaten.Ini.Kehilangan.20-25.Guru.?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

kompasCom_Krisis Guru Tiap Bulan di Kabupaten Ini Kehilangan 20-25 Guru

KPAI Tidak Temukan Tindak Kekerasan dalam Orientasi SMP Flora

The Jakarta Post, halaman 9

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) wilayah Bekasi telah mengkonfirmasi bahwa pihaknya belum menemukan adanya hubungan antara kematian Evan Christopher Situmorang, 12 tahun, siswa SMP Flora Bekasi, dengan kegiatan masa orientasi sekolah (MOS) yang diselenggarakan oleh sekolahnya.

KPAI telah melakukan wawancara dengan pihak sekolah dan empat siswa anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), yang juga bertindak sebagai panitia MOS. KPAI juga memeriksa semua foto dan video dokumenter yang berhubungan dengan MOS tersebut, namun tidak ditemukan adanya tindak kekerasan ataupun bullying.

Ketua KPAI Kota Bekasi Sya’roni mengatakan, setelah memeriksa rentetan kegiatan MOS tersebut, mulai dari foto, video dan dokumen lainnya, mereka tidak menemukan adanya tindakan atau perlakuan aneh terhadap para siswa baru.

Evan, warga Pondok Ungu Bekasi, meninggal pada 30 Juli setelah mengalami kejang-kejang. Ayahnya, Jossey Situmorang mengatakan, setelah anaknya mengeluh sakit di kakinya, ia membawanya Puskesmas terdekat, dan Evan didiagnosa memiliki tingkat asam urat yang tinggi. Kemudian ayahnya membawa Evan ke Rumah Sakit Citra Harapan Bekasi, namun Evan meninggal dalam perjalanan.

Keluarga mengaku bahwa Evan mengalami rasa sakit di kakinya selama dua minggu setelah ikut program MOS hari terakhir, pada tanggal 9 Juli, dengan berjalan kaki sejauh 4 kilometer.

Masyarakat kemudian menuduh pihak sekolah setelah adanya berita dari akun Facebook milik kerabat orang tua Evan, Selly Christina Siregar, yang mem-posting status bahwa kematian Evan disebabkan oleh kelelahan akibat kegiatan MOS.

Syahroni mengatakan, pihak SMP Flora melakukan MOS seperti biasanya. Para siswa hanya diminta untuk membawa barang-barang seperti tag nama dan “belatung panas,” yang artinya nasi goreng pedas.

Pada hari terakhir MOS, para siswa juga melakukan perjalanan dari pos ke pos dengan total ada lima pos, yang masing-masing meminta mereka untuk bernyanyi dan melakukan permainan. Mereka berjalan hanya sejauh 1,5 kilometer. Di setiap pos, mereka bisa beristirahat dan mengambil air mineral yang disediakan oleh panitia.

Herson Nainggolan, pengawas program MOS di SMP Flora mengatakan, program tersebut memiliki tujuan pendidikan dan tidak mengindikasikan adanya perpeloncoan. Dia mengatakan, dalam formulir pendaftaran Evan tercatat tidak memiliki catatan medis yang mengkhawatirkan. Evan hanya mengeluh bahwa kakinya sakit dan tidak dapat digerakkan pada tanggal 28 Juli. Dan itu bukan pada masa MOS berlangsung, tetapi ketika kelas sudah dimulai.

Kegiatan MOS di SMP Flora berlangsung pada 6-10 Juli. Setelah itu, sekolah libur Idul Fitri dan kembali belajar mulai 27 Juli. Herson berpendapat bahwa panitia, memang memberlakukan hukuman seperti skot-jam dan push-up bagi mereka yang didapati mengulangi kesalahan, seperti lalai membawa artikel yang diminta selama beberapa kali. Dea, 12 tahun, teman sekelas Evan, mengatakan, selama MOS hukuman yang diterimanya hanya bernyanyi dan menari.

Syahroni mengatakan, KPAI masih akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mereka akan mencari tahu apakah pihak sekolah mengadakan kegiatan lainnya selama liburan Idul Fitri.

Namun demkian, orang tua Evan memutuskan untuk tidak menuntut pihak sekolah. Mereka tidak ingin menyalahkan kematian anak mereka kepada pihak sekolah meskipun mereka yakin bahwa program MOS tersebut yang telah memperburuk kesehatan anaknya.

Ketua Bidang Pengaduan dan Advokasi KPAI Kota Bekasi Rury Arief mengatakan, orang tua Evan hanya ingin pihak sekolah datang ke rumah mereka untuk meminta maaf, terutama kepala sekolah.

KPAI Finds No Violence in SMP Flora Orientation

The Jakarta Post, page 9

The Bekasi chapter of the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) has confirmed that it has yet to find any relation between the death of Evan Christopher Situmorang, a 12-year-old student of SMP Flora junior high school in Bekasi, and the orientation activities held by the school.

The commission had questioned on Monday the school’s authorities and four students from the Student Executive Organization (OSIS), who also acted as the committees of the orientation program, and also checked all relevant photos and documentary videos and found nothing about bullying or violence.

KPAI Bekasi head Sya’roni said, after checking the rundown [of the orientation activities], photos, videos and other documents, they had found no peculiar activities or treatment of the freshmen.

Evan, a resident of Pondok Ungu in Bekasi, died on July 30 after going into convulsions. His father, Jossey Situmorang, said that after his son complained about pain in his legs, he took him to a community health center (Puskesmas) nearby, where he was diagnosed as having a high level of uric acid. Then the father took him to Citra Harapan Hospital in Bekasi, but Evan failed to survive.

His family claimed that he experienced pain in his legs for two weeks after going on a 4-kilometer walk on the last day of the orientation program, which fell on July 9.

Public started to accuse the school after a Facebook account reportedly belonging to a relative of Evan’s parents, Selly Christina Siregar, posted a status saying that Evan’s death was caused by exhaustion brought about by the orientation activities.

SMP Flora, Syahroni said, conducted the orientation as per normal. The students were just asked to bring things like name tags and “hot maggots,” which meant spicy fried rice.

On the last day of the orientation, the students also took a walk from post to post, totaling five posts, each of which required them to sing and play a game. The walk was only 1.5 kilometers. In each post, they could take a rest and drink mineral water provided by the committee.

Herson Nainggolan, the supervisor for the school’s orientation program said the program had educational purposes and had no indication of hazing. He said that Evan’s registration form recorded no alarming concerns in his medical record. Evan just complained that his leg hurt and could not be moved on July 28. That wasn’t on the orientation week, but when class had started.

SMP Flora’s orientation week ran on July 6 to 10. After that, the school enjoyed the Idul Fitri holiday and was back to class starting on July 27. Herson argued that the committee, indeed, enforced punishments like hop scotch and push-ups for those who repeat mistakes, like neglecting several times to bring required articles. Evan’s classmate Dea, 12, said that during the orientation, the punishments were only singing and dancing.

Syahroni said that the commission would still conduct further investigations. They would find out whether the school held other activities during the Idul Fitri holiday.

Evan’s parents, however, have decided not to sue the school. They don’t want to blame their son’s death on the school, although they were said they were sure that it was the orientation program that had aggravated his health.

KPAI Bekasi indictment and advocacy head Rury Arief said that the parents only wanted the school’s authorities to come to their homes to apologize, especially the headmaster.

jakpos_KPAI Finds No Violence in SMP Flora Orientation

Industri dan Riset Harus Bersinergi

Republika, halaman 5

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir meminta agar adanya sinergitas antara pelaku industri dan peneliti. Sehingga, hasil riset berguna bagi khalayak umum. Sejauh ini, hasil penelitian sebatas berhenti di perpustakaan saja karena tidak ada titik temu antara kebutuhan industri dengan hasil riset.

Nasir menjelaskan, agar terjadi match antara pelaku industri dan peneliti, dua pihak mesti berbenah. Pelaku industri sebaiknya meningkatkan bantuan pendanaan untuk peneliti. Sedangkan, peneliti harus meningkatkan kualitas SDM-nya sehingga bisa menjawab kebutuhan pelaku industri.

Salah satu kiat yang akan dilakukan Kemenristek Dikti adalah memperkuat penelitian berbasis hulu ke hilir. Caranya, yakni dengan membuka komunikasi intensif dengan pelaku usaha yang ada. Nantinya, akan ada tawaran bagi pelaku usaha supaya mereka dapat lebih intens menggandeng peneliti dari kampus.

Nasir menambahkan, hingga saat ini sudah ada 27 pelaku industri yang mengikat kerja sama penelitian hilir ke hulu dengan berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia. Idealnya, Indonesia bisa meniru Stanford University USA, dimana mereka melokalisasi pusat teknologinya di Sillicon Valley. Dengan demikian, saat perusahaan membutuhkan hasil penelitian kampus, mereka dapat langsung membeli dengan datang ke tempat itu.

Private Sector and Research Must Synergize Each Other

Republika, page 5

Research, Technology and Higher Education Minister Muhammad Nasir urged the synergy between private sectors and researchers to make research products worked for the public. So far, the research products are still only used in the library since the overlaps between private sector needs and research products are still limited.

Nasir explained to match private sector and researchers the two parties must make improvements. The private sector must increase the amount of financial assistances for researchers. Meanwhile the researchers must improve their quality to meet the private sector’s needs.

One of steps which will be carried out by the ministry is strengthening the upstream to downstream-based research. To do so, the ministry will communicate intensively with private sector. There will be offerings for the private sector to collaborate with researchers from universities.

Nasir added currently 27 companies are undertaking the upstream to downstream-based research in cooperation with a number of universities across Indonesia. Ideally, Indonesia can replicate Stanford University in USA which localizes its technology center in the Silicon Valley. Therefore, when companies need the university’s research products, they can purchase the products directly in the center.

rep_industri dan riset harus bersinergi

Tiga Juta Guru Akan Diuji Ulang

Koran Sindo, page 3

Tahun ini pemerintah akan menguji kompetensi tiga juta guru se- Indonesia. Sebanyak 1,6 juta guru yang sudah diuji bahkan akan diuji kembali agar ada potret kompetensi guru.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sumarna Suraprnata mengatakan, uji kompetensi ini lantaran para guru yang sudah ikut ujian hasilnya kurang memuaskan. Ujian akan dilakukan di 26.000 kelompok kerja guru (KKG). Pranata mengatakan, uji kompetensi ini dilakukan karena pemerintah ingin mempunyai data kompetensi guru secara keseluruhan.

Perolehan nilai dari uji kompetensi yang akan dilakukan menjelang akhir tahun ini akan dibagi per 10 kelompok seperti sebelumnya. Dari perolehan nilai itu, pembinaan akan dilakukan. Kemendikbud akan mempersiapkan 1.900 modul terstandar sebagai obat bagi pembinaan guru. Modul ini akan didigitalisasi dan di-upload di laman Ditjen GTK. Namun, modul tersebut juga akan disebar melalui VCD dan dicetak sebanyak mungkin agar kompetensi guru dapat diperbaiki.

Pranata mengungkapkan, UKG ini harus dilakukan karena ada target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) rata-rata kompetensi guru pada 2019 mencapai angka 8.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengatakan, berbagai proses yang sudah dilakukan, termasuk sertifikasi dan peningkatan kualifikasi, dipandang belum mampu meningkatkan kompetensi guru. Dia bahkan mengakui uji kompetensi guru (UKG) pun menunjukkan hasil yang belum memuaskan.

Menurutnya, pengelolaan guru yang sentralistik dan regulasi perlu ditata agar tidak tumpang tindih. Penilaian kinerja guru yang dilakukan seharusnya berbasis pembinaan dan bukan sanksi. Selain itu, pendidikan dan pelatihan berbasis mutu juga harus diikuti oleh semua guru dan tidak berbasis proyek.