Gelontorkan Rp 164 Miliar

Jawa Pos, halaman 32

Persiapan di Indonesia dalam menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) terlihat saat pemerintah gencar memberikan beasiswa maupun alokasi dana untuk memajukan pendidikan. Upaya peningkatan pendidikan di negara-negara ASEAN itu menarik simpati dari Uni Eropa (UE). Melalui proyek SHARE, UE membantu agar tercipta harmonisasi pendidikan dengan program pertukaran pelajar.

Team Leader SHARE, Steffan Hell dalam SHARE Policy Dialogue di gedung Sekretaria ASEAN kemarin (24/8) mengatakan, UE sebelumnya juga mengintegrasikan pendidikan antarnegara agar pelajar mudah mangakses ilmu dan informasi yang dibutuhkan.

Program nyata SHARE adalah dengan menggelontorkan dana sebesar € 10 juta (sekitar 164 miliar) untuk program pertukaran pelajar. Nantinya, dana tersebut dikelola dan dilalokasikan oleh konsorsium secara internasional ke lembaga pendidikan tinggi dan para mahasiswa di negara ASEAN.

Peneliti pendidikan dari Asosiasi Universitas Eropa (EUA), Ligia Deca, menerangkan bahwa proses integrasi universitas di UE tidak sama dengan di ASEAN. Diperlukan konektivitas yang lebih erat sehingga proses itu dapat berjalan dengan lancar.

Ligia mengatakan, adaptasi dan adopsi praktik yang relevan dengan konteks ASEAN akan menjadi kunci dalam kerjasama ini. Oleh sebab itu, diperlukan diskusi mengenai jaminan kualitas universitas, kerangka kualifikasi, serta struktur gelar yang ada di universitas tersebut. Terutama di negara Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam.

Advertisements

Rp 164 Billion Fund Allocated

Jawa Pos, page 32

Preparation towards the ASEAN Economic Community (AEC) implementation can be seen from the government’s program to award scholarships and improve education. The efforts of ASEAN member countries to do so attract the European Union’s (EU) interest. Through the SHARE Project, EU supports the efforts to harmonize education by conducting the student exchange program.

SHARE Team Leader Stefan Hell on the SHARE Policy Dialogue held in the ASEAN Secretariat Building, yesterday (8/24), said previously EU had integrated inter-country education so that students could access the required knowledge and information easily.

To realize the support, SHARE allocates € 10 million fund (approximately Rp 164 billion) for the student exchange program. The fund will be managed and allocated by an international consortium to higher education institutions and students in ASEAN countries.

Education researcher at the European University Association (EUA) asserted university integration process in EU countries was different with ASEAN. A stronger connectivity is needed to make the similar process in ASEAN run well.

Ligia said the adaptation and adoption of relevant practices with ASEAN contexts would be the key of cooperation success. Consequently, it requires a series of discussion on university quality assurance, qualification framework and degree structure in the respective universities, particularly in Cambodia, Laos PDR, Myanmar and Viet Nam.

Rp 164 Billion Fund Allocated

Rp 164 Billion Fund Allocated

Dinas Lakukan Sidak ke Kantin Sekolah

http://www.thejakartapost.com

Dalam upaya untuk mengekang peredaran makanan yang mengandung aditif berbahaya, seperti formalin dan boraks, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah DKI Jakarta (KUMKMP) melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah kantin sekolah.

Kepala Unit Pengawasan dan Pengendalian KUMKMP Ety Syartika mengatakan, inspeksi dilakukan sebagai bentuk perlindungan bagi konsumen. Namun, hingga saat ini, KUMKMP belum menemukan indikasi penjualan makanan berbahaya.

Di antara kantin yang diinspeksi adalah adalah di SD Negari SD 07 Kramat Pela, Jakarta Selatan, SMP Lab School di Jakarta Selatan, SD Negeri 03 Cibubur Jakarta Timur dan SD Negeri 02 Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu.

Ety mengatakan, selain pemeriksaan acak yang melibatkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Jakarta, KUMKMP juga mengambil langkah-langkah preventif untuk menjaga siswa menjauhi makanan berbahaya.

Ety menambahkan, anak-anak biasanya tidak memiliki pemahaman yang cukup terhadap makanan yang berbahaya tersebut. Lembaganya harus menjelaskan tentang karakteristik-karakteristik makanan berbahaya sehingga anak-anak dapat lebih berhati-hati saat membeli makanan ringan.

Agency Inspects School Canteens

http://www.thejakartapost.com

In an effort to curb the circulation of food containing harmful additives, such as formaldehyde and borax, the Jakarta Small and Medium Enterprises Cooperatives Agency (KUMKMP) conducted unannounced inspections at a number of school canteens.

KUMKMP supervision and control unit head Ety Syartika said, those inspections were a form of protection for consumers. But as of now, KUMKMP has yet to find any indication of noxious products being sold.

Among the canteens inspected were those located at state elementary school SDN 07 Kramat Pela in South Jakarta, private junior high school SMP Lab School in South Jakarta, state elementary school SDN 03 Cibubur in East Jakarta and state elementary school SDN 02 Pramuka Island in the Thousand Islands.

Ety said that aside from the random inspections, which involved the Jakarta Food and Drug Monitoring Agency (BPOM), her institution had also been taking preventive measures to keep school students away from dangerous products.

Ety added, children usually don’t have enough understanding of such harmful foods. Her institution has to explain about the characteristics so that the children can be more cautious when buying snacks.

Link: http://www.thejakartapost.com/news/2015/08/24/greater-jakarta-agency-inspects-school-canteens.html

Agency Inspects School Canteens

Agency Inspects School Canteens

Perguruan Tinggi RI Terbanyak di ASEAN

Republika, halaman 7

Perguruan tinggi (PT) di Indonesia mencatat jumlah terbanyak di seantero Asia Tenggara (ASEAN). Direktur Utama ASEAN University Network (AUN) Nantana Gajaseni mengatakan, Indonesia memiliki lebih dari 3.000 perguruan tinggi (PT).

Posisi selanjutnya, kata dia, diikuti oleh Filipina dengan 2.299 perguruan tinggi. Sementara negara-negara ASEAN lainnya, hanya memiliki ratusan perguruan tinggi. Hal ini merupakan menjadi tantangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, karena setiap negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda.  Selain itu, beragamnya kemampuan dan keberadaan fasilitas lokal di masing-masing negara juga menjadi kendala. Terdapat 7.446 perguruan tinggi dari 10 negara anggota ASEAN yang memiliki sistem pendidikan yang beragam.

Dia pun menjelaskan, ASEAN dan European Union Support to Higher Education in ASEAN Regional (SHARE) bertujuan untuk memetakan kerja sama di bidang pendidkan tinggi di Asia Tenggara. Untuk itu dialog kebijakan SHARE yang berlangsung dari 24 hingga 25 Agustus tersebut akan dihadiri oleh para pejabat tinggi di bidang pendidikan, selain peneliti dan akademisi dari negara anggota ASEAN yang juga turut hadir.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) ASEAN Alicia Dela Rosa Bala menerangkan, di samping untuk memetakan pendidikan tinggi di ASEAN, dialog tersebut juga untuk bisa mengindentifikasi dan menyinergikan mahasiswa, institusi pendidikan tinggi dan profesional di ASEAN.

RI has the Biggest Number of Universities in ASEAN

Republika, page 7

Indonesia has the biggest number of universities among ASEAN member countries. The ASEAN University Network (AUN) Executive Director Nantana Gajaseni said currently there were more than 3,000 universities in Indonesia.

According to Gajaseni, it was subsequently followed by the Philippines which had 2, 299 universities. The other ASEAN countries only have hundreds of universities. There remains a challenge to improve the quality of education since each country has its own education system. In addition, the variation of local facilities in each country remains a constraint. There are 7,446 universities in 10 ASEAN countries which have different education system.

Gajaseni explained ASEAN in cooperation with European Union Support to Higher Education in ASEAN Regional (SHARE) aimed to map higher education cooperation in Southeast Asia. In doing so, the SHARE Policy Dialogue will be held from 24 to 25 August attended by high-level officials in education sector along with researchers and academics from ASEAN member countries.

ASEAN Deputy Secretary General Alicia Dela Rosa Bala asserted aside from ASEAN higher education mapping, the dialogue aimed to identify and synergize student, higher education institutions and professionals in ASEAN.

RI has the Biggest Number of Universities in ASEAN

RI has the Biggest Number of Universities in ASEAN

Membangun Asa dan Nilai Toleransi

Kompas, halaman 1

Di sebuah sekolah yang terletak di kawasan Wara, Negeri (Desa) Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, pekan lalu sejumlah anak pun menyapa ramah. Di dalam ruangan kelas terpajang beberapa poster, seperti huruf, angka, alat musik tradisional, dan binatang yang diterangkan dalam bahasa Inggris. Poster itu merupakan buah karya yang dilukis oleh siswa. Itulah sekolah Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Al-Syukriyyah.

Kepala Sekolah MI Terpadu Al-Syukriyyah, Zulkifli Lestaluhu, menuturkan, sekolah itu didirikan Rahmat Setiawan, pegiat sosial asal Sumedang, Jawa Barat, yang bertugas di Ambon pasca konflik sosial yang berlangsung beberapa tahun sejak 1999. Sekolah itu sengaja dijadikan pusat belajar alternatif untuk menampung anak-anak korban kerusuhan. Kegiatan operasional kala itu dibantu lembaga donor dan pemerintah.

Namun, setelah Rahmat kembali ke kampung halamannya tahun 2010, aktivitas sekolah nyaris terhenti. Tidak ada lagi anggaran operasional. Banyak siswa memilih meliburkan diri karena tak punya pilihan. Warga pun mencibir dan menilai sekolah itu tak bermutu sehingga lulusannya bakal ditolak jika mendaftar ke jenjang berikutnya.

Kini, siswa yang terdaftar di sekolah itu sebanyak 42 orang. Sejak tahun 2007, ada 10 alumnus yang kini menempuh pendidikan di sejumlah sekolah menengah pertama di Ambon. Lulusan tahun pelajaran 2007/2008 dan 2008/2009 masing-masing lima orang.

Tenaga pengajar sebanyak 12 orang, dengan latar belakang sarjana lima orang, diploma III dua orang, dan sisanya SMA. Beberapa dari mereka yang lulusan SMA sedang mengikuti kuliah di Ambon. Oleh karena keterbatasan dana yang dimiliki manajemen sekolah, setiap guru yang mengajar hanya digaji Rp 150.000 per bulan.

Zulkifli menambahkan, toleransi dan menghargai perbedaan sangat ditekankan di sekolah itu. Sikap intoleransi terbukti membuat Kota Ambon hancur lebur dilanda konflik sosial bernuansa agama. Ia tak ingin peristiwa kelam itu memengaruhi sikap dan pikiran anak-anak. Generasi muda harus diajarkan tentang nilai kemanusiaan. Konflik terjadi karena orang tidak menghargai kemanusiaan.