Mendikbud: Guru Juga Memiliki Self Assessment Seperti Pilot dan Dokter

www.detik.com

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diikuti oleh 2.360.388 pengajar sekolah formal se-Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan, UKG sama halnya dengan penilaian diri untuk pilot, dokter, dan profesi lainnya. Tak ada istilah lulus atau tak lulus dalam UKG. Ini lebih kepada self assesment.

Materi yang diujikan dalam UKG juga menyerupai penilaian diri profesi lainnya. Tetapi pada UKG juga terdapat materi berkaitan dengan bidang yang diajar serta serta strategi pembelajaran atau pedagogi.

Menurut Anies UKG merupakan cerminan, guru jadi tahu di mana kemampuan yang masih kurang. Setelah tahu kekurangannya, nanti baru akan ada training atau pelatihan-pelatihan. Ini berbeda dengan cara lama yang semua guru diberi banyak pelatihan yang sama tetapi tidak pernah ada tes untuk mengukurnya.

Pelaksanaan UKG sudah berjalan sejak tanggal 9 November 2015. Anies juga menyebut nantinya akan ada semacam rapor untuk guru. Ujian ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Advertisements

Mendikbud: Teachers Also Have Self Assessment As Pilots and Doctors

www.detik.com

The Ministry of Education and Culture held the Teacher Competency Test (UKG) which was participated by 2,360,388 teachers of formal schools throughout Indonesia. Minister of Education and Culture (Mendikbud) Anies Baswedan said UKG is the same as self assessment for pilots, doctors, and other professions. There is no passing or failing in UKG. This is more of a self assessment.

The material tested in UKG is also similar to self assessments of other professions. But in UKG there are also materials related to the field taught as well as the learning strategy or pedagogy.

According to Anies UKG is a reflection, so teachers would know which skills are still lacking. After knowing the shortcomings, then later there would be trainings. This differs from the old way in which all teachers are given the same training, but never any tests to gauge/ measure them.

UKG implementation has run since 9 November 2015. Anies also said there would later be a sort of report card for teachers. This exam refers to Law Number 14 Year 2005 on Teachers and Lecturers, and Government Regulation Number 74 Year 2008 on Teachers.

Link: http://news.detik.com/berita/3082986/mendikbud-guru-juga-memiliki-self-assesment-seperti-pilot-dan-dokter

detiknews_Mendikbud-Guru Juga Memiliki Self Assessment Seperti Pilot dan Dokter

 

Hanya 0,09 persen PDB Indonesia untuk Riset

www.antaranews.com

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan hanya 0,09 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dialokasikan untuk penelitian atau riset. Nasir mengungkapkan, jumlah riset di Indonesia hanya 0,09 persen, jika dibandingkan dengan Thailand, maka selisih 0,6 persen, sedangkan untuk Malaysia selisih 0,91 persen.

Ia mengatakan, 84 persen dari angka 0,09 persen itu disumbangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), padahal di negara maju riset selalu didukung dunia industri.

Menurut Nasir, peneliti Indonesia yang terdata sekitar 250 orang dari 1 juta penduduk, yang berarti jumlah peneliti tersebut tentu saja terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 240 juta jiwa. Jumlah peneliti Indonesia yang terdaftar di LIPI ada 8 ribu orang dan 16 ribu peneliti bekerja di perguruan tinggi, sementara peneliti di bawah naungan institusi swasta belum dipastikan jumlahnya.

Terakhir, Nasir menambahkan, harus ada komitmen antara peneliti dengan perguruan tinggi supaya riset yang dihasilkan bisa mempunyai makna, dengan cara hilirisasi kepada industrialisasi, atau lebih bagus lagi bekerja sama dengan pihak pemerintah daerah.

Ia mencontohkan bahwa Universitas Airlangga, Surabaya, memiliki Fakultas Farmasi, dimana 92 persen obat-obatan dibeli dari luar negeri, jika hal itu memicu dosen atau mahasiswa membuat riset, maka harga obat-obatan di Indonesia bisa ditekan. Jika kemudian dosen atau mahasiswa bisa memanfaatkan hasil bumi untuk menjadi bahan baku obat, maka hasilnya akan sangat bermanfaat dan bisa menekan harga obat-obatan yang dinilai sangat mahal.

Only 0.09 percent of Indonesia’s GDP for Research

www.antaranews.com

Minister of Research, Technology, and Higher Education Mohamad Nasir said only 0.09 percent of Indonesia’s Gross Domestic Product (GDP) is allocated for research. Nasir disclosed, the amount for research in Indonesia is only 0.09 percent, when compared with Thailand, there is a difference of 0.6 percent, whereas with Malaysia the difference is 0.91 percent.

He said, 84 percent of the 0.09 percent figure is contributed by the state budget (APBN), when actually in developed countries research is always supported by the industrial world.

According to Nasir, Indonesia’s researchers recorded are around 250 people from 1 million of the population, which means the number of researchers are too few compared to Indonesia’s population which is close to 240 million people.The number of Indonesian researchers registered in LIPI total 8 thousand people and 16 thousand researchers work in universities, while the number of researchers under the auspices of private institutions have not been ascertained.

Finally, Nasir added, there should be commitment among researchers with universities so that the research produced could be meaningful, by way of downstreaming to industrialization, or even better cooperation with the regional administrations.

He gave example that the University of Airlangga, Surabaya, has a Faculty of Pharmacy, of which 92 percent of drugs are purchased overseas; if this triggers lecturers or students to conduct research, then the price of drugs in Indonesia could be suppressed. If later lecturers or students could utilize crops to become raw materials for drugs/medicines, the result would be very useful and could suppress the price of drugs/medicines which are deemed to be very expensive.

Link: http://www.antaranews.com/berita/532026/hanya-009-persen-pdb-indonesia-untuk-riset

antaranews_Hanya 009 persen PDB Indonesia untuk Riset

Klub Kembang Tawarkan Kegiatan Alternatif bagi Anak-Anak

The Jakarta Post, halaman 10
bermunculannya pusat-pusat perbelanjaan di seantero Jakarta yang menawarkan konsep one-stop entertainment untuk seluruh keluarga, dan kurangnya taman umum di Ibukota, menyebabkan kegiatan rekreasi warga Jakarta umumnya hanya berputar di sekitar mal terdekat mereka.

Namun, Klub Kembang di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, menawarkan kegiatan alternatif bagi anak-anak dan orang tua. Ketika para pengunjung memasuki pintu gerbang, mereka dapat melihat daftar kegiatan yang akan diadakan yang ditulis di papan tulis dengan kapur warna-warni, sebelum mereka mendapati taman bermain ruang terbuka yang luas di mana bak pasir, trampolin dan papan perosotan berada. Fasilitas-fasilitas tersebut tampaknya menjadi favorit anak-anak dilihat dari banyaknya jumlah anak-anak yang mengerumuninya. Klub Kembang juga menawarkan kegiatan lain seperti yoga, muay thai dan studio seni bagi anak-anak.

Lucky Palupi, salah satu perwakilan dari Klub Kembang mengatakan, mereka bermitra dengan Ganara Art Studio, yang bertanggung jawab untuk kegiatan seni dan komunitas Weekend Workshop [WeWo], serta penyelenggara kegiatan yang berhubungan dengan kerajinan seperti membuat kaos dengan motif warna-warni.

Salah seorang guru dari Ganara Art Studio, Indira, percaya akan pentingnya seni dan kerajinan bagi perkembangan anak. Dia mengatakan, seni dan kerajinan tangan membantu meningkatkan keterampilan motorik halus, yang sangat penting bagi perkembangan anak-anak, dari umur satu setengah hingga 4 tahun. Hal itu penting bagi anak-anak untuk mengeksplorasi lingkungan mereka melalui kegiatan motorik. Agar kegiatan berjalan tidak membosankan, imbuhnya, ia biasanya memilih tema yang berbeda setiap minggunya, terutama pada acara-acara khusus seperti Halloween atau Thanksgiving.

Klub Kembang merupakan bagian dari sejarah Sekolah Kembang yang sudah berdiri selama 40 tahun. Klub Kembang didirikan pada bulan September 2014, berdasarkan ide dari direktur sekolah tersebut yaitu Marvin Suwarso, yang ingin menciptakan suatu bentuk usaha yang berorientasi keluarga. Marvin mempunyai ide untuk membuat tempat untuk menumbuhkan cinta seni, lingkungan dan keluarga. Berdasarkan misi tersebut, Adinda Simandjuntak, pendiri Klub Kembang, kemudian datang dengan membawa beberapa ide untuk kegiatan-kegiatan di klub tersebut.

Lucky menunjukkan keprihatinannya ketika ditanya mengenai kurangnya taman bermain bagi anak-anak di Ibukota. Ia mengatakan, anak-anak perlu bermain dan mereka perlu mempertajam kemampuan sensorik mereka melalui berbagai kegiatan, dan orang tua pun harus mendukung mereka dengan cara apapun. Dia menambahkan bahwa alam memiliki banyak hal untuk ditawarkan, dan ia meminta semua anak di Indonesia untuk pergi keluar dan bermain, menjelajahi lingkungan mereka dan bersenang-senang.

Club Kembang offers alternative children’s activities

The Jakarta Post, page 10

With shopping malls springing up all over Jakarta offering one-stop entertainment for the entire family and a lack of public parks in the capital, the leisure activities of Jakartans usually revolve around their nearest mall.

However, Club Kembang (Flower Club) in Kemang, South Jakarta, offers alternative activities for both children and parents. As visitors enter the gate, they can check out the lists of activities to be held written on a blackboard with colorful chalk, before finding a spacious open space playground where a sandbox, trampoline and slide are located. Those facilties seemed to be favorites among children judging by how many of them gathered around them.The club also offers other activities such as kids yoga, kids muay thai and an art studio.

Lucky Palupi, one of the representatives of Club Kembang said, they partnered with Ganara Art Studio, which was responsible for art activities and the Weekend Workshop [WeWo] community, the organizer of craft-related activities such as making tie-dye T-shirts.

A teacher from Ganara Art Studio, Indira, believes in the importance of arts and crafts for child development. She said, Arts and crafts helped improve fine motor skills, which were extremely important for their development, from one-and-a-half to 4 years old. It was important for children to explore their surroundings through motoric activities. To keep everything fresh, she added, she usually had different themes every week, especially on special occasions like Halloween or Thanksgiving.

Club Kembang, part of the 40-year-old Sekolah Kembang, was established in September 2014, based on the idea of the school’s director, Marvin Suwarso, who wanted to create a family oriented establishment. Marvin had an idea to create a place to foster the love of art, environment and family. Based on that mission, Adinda Simandjuntak, the founder of Club Kembang, came up with several ideas for club activities.

Asked about the lack of playgrounds for kids in the city, Lucky shared her concerns. Children need to play, she said, they need to sharpen their sensory skills through various activities, and parents have to support them in any way possible. She added that nature had a lot to offer and she asked all children in Indonesia to go out and play, explored their surroundings and had fun.

the jakarta post_club Kembang offers alternative children activities

Dorong Kompetensi Guru Hadapi MEA

Media Indonesia, halaman 14

Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), terutama sumber daya manusia (SDM) yang baik. Hal itu harus dipersiapkan semaksimal mungkin agar bisa bersaing di regional ASEAN.

Rektor Universitas Terbuka Tian Belawaty mengatakan, MEA bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia, terutama dengan bonus demografi yang terjadi di Indonesia.

Menurut Tian, sangat penting bagi guru menyadari hal tersebut untuk mempersiapkan anak didik agar bisa diandalkan untuk mengisi keuntungan bagi Indonesia. namun, kualitas pendidikan tidak hanya dari guru saja melainkan beberapa faktor lain seperti infrastruktur, sarana dan prasarana, hingga lingkungan, termasuk orang tua yang juga harus diperhatikan.

Tian menggarisbawahi bahwa sumber daya manusia yang akan bersaing di masa MEA merupakan generasi yang lahir dalam era perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi digital. Sehingga, guru yang mau mendidik anak-anak tersebut harus bisa menyesuaikan diri memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat pembelajaran. Dengan demikian, guru-guru Indonesia tidak akan kalah dengan pengajar di negara tetangga.