Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah

www.antaranews.com

Pendidikan karakter, atau ajaran kebaikan, harus dimulai dari rumah di mana anak-anak dapat belajar melalui contoh positif dan dorongan dari orang tua mereka. Meskipun pendidikan karakter diajarkan di sekolah, hal itu tidak serta merta membuat pendidikan itu sesuai dengan keinginan para orang tua untuk diajarkan ke anak-anak mereka, sebab jika ajaran kebaikan itu tidak diperkuat dan dicontohkah di rumah, maka ajaran itu tidak akan menunjukkan karakter yang baik atau memberikan kebaikan.

Anak-anak yang tidak menerima pendidikan karakter yang baik di rumah akan mengalami kurangnya sifat kebaikan yang mendasar. Hal tersebut menyebabkan dilema moral dalam masyarakat. Oleh karena itu, para orang tua harus menyadari bahwa pendidikan karakter, yang meliputi kejujuran, sikap dapat dipercaya, rasa hormat, tanggung jawab, adil, peduli sesama, dan bahkan dalam hal berkewarganegaraan, harus dimulai di rumah karena guru tidak bisa sendirian melakukan semuanya.

Kejujuran dan sifat dapat dipercaya adalah dasar untuk membangun karakter di rumah, tetapi orang tua sering dihadapkan dengan sifat anak-anak yang tidak dapat dipercaya. Sejak usia dini, setiap hari anak-anak ditantang untuk menjadi warga negara yang baik. Dalam keluarga, anak-anak belajar bekerja sama dan terikat satu sama lainnya sebagai satu kesatuan untuk membahas masalah-masalah yang ada di lingkungan mereka dan membuat sebuah perubahan.

Terkait hal ini, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, menyatakan, nilai-nilai revolusi mental dapat diajarkan oleh keluarga, yang berfungsi sebagai wahana utama bagi generasi muda dalam membentuk karakter bangsa. Ia mengatakan, revolusi mental yang dimulai dalam keluarga dapat berperan dalam menanamkan nilai-nilai agama, sosial, dan budaya guna membentuk mentalitas, karakter, dan perilaku anak.

Menurut Sirait, pendidikan karakter dalam keluarga perlu diprioritaskan guna menciptakan generasi emas yang positif. Hal itu diungkapkan Sirait sehubungan dengan meningkatnya jumlah kasus kekerasan seksual dan kejahatan kejahatan lainnya yang pelakunya masih tergolong anak-anak atau remaja.

Adanya fakta bahwa anak-anak dan remaja terlibat dalam kasus pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya merupakan suatu hal yang sangat memprihatinkan. Sehingga, Indonesia saat ini tengah berada dalam keadaan darurat dalam hal kejahatan seksual atau darurat pelecehan terhadap anak. Oleh karena itu, gerakan revolusi mental yang sedang didengungkan oleh pemerintah diharapkan membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat.

Agar gerakan nasional revolusi mental itu dapat berhasil dan menyentuh akar permasalahan, masyarakat harus didorong untuk berinisiatif dalam kehidupan mereka. Terlebih, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan telah mendesak sekolah untuk membentuk tim pencegahan kekerasan terhadap anak. Tim tersebut akan melakukan deteksi dini akan adanya penyimpangan-penyimpangan sebagai bagian dari upaya untuk merespon meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak.

Kasus penyimpangan seksual harus cepat dideteksi guna mengatasi dan mencegah kasus pelecehan seksual di kalangan anak-anak, karena kejahatan terhadap anak-anak bersifat brutal. Bahkan, pendidikan anak usia dini di lingkungan rumah dan sekolah sangat penting karena dapat menanamkan nilai-nilai yang baik dan mengembangkan kepribadian anak.

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Men PPPA) Yohana Yembise menyatakan bahwa meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia akan menimbulkan tantangan serius bagi keberadaan bangsa Indonesia untuk bersaing dengan negara lain.

Kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak terlepas dari peran anak-anak, yang jumlahnya mencapai 34 persen dari total penduduk Indonesia. Yohana mencatat bahwa peran dari sekitar 87 juta anak Indonesia sepenuhnya bergantung pada perlindungan dan pemenuhan hak-hak mereka dari sejak lahir hingga berusia 18 tahun. Dia menegaskan, meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap anak masih merupakan masalah serius bagi perkembangan anak secara optimal di Tanah Air.

LinkL http://www.antaranews.com/en/news/104760/character-education-begins-at-home

Advertisements

Character Education Begins at Home

www.antaranews.com

Character education, or the teaching of virtues, should start at home where children can learn through positive examples and encouragement from their parents. Although character education is imparted in schools, it is not always merely the education that parents want their children to receive since if virtues are not reinforced and modeled at home, they will not exhibit good character or positive virtues.

Children who fail to receive character education at home will lack basic virtues that can led to moral dilemmas in society. Therefore, parents have to realize that character education, which encompasses honesty, trustworthiness, respect, responsibility, fairness, caring for others, and even citizenship, should begin at home as teachers cannot do it all alone.

Honesty and trustworthiness are the foundation on which character is built at home, but parents are often confronted with children who are not trustworthy. From an early age, one is challenged to be a good citizen on a daily basis. Within the family, children learn to work together and bond with each other as a single unit to address issues in their community and make a difference.

In light of this, the National Commission for Child Protection Chairman Arist Merdeka Sirait has stated that the values of mental revolution can be imparted by the family, which serves as the primary vehicle for the young generation in shaping the character of the nation. He said, mental revolution will start within families that can play their part by instilling religious, social, and cultural values in order to shape the mentality, character, and behavior of children.

According to Sirait, character education in the family needs to be prioritized in order to create a golden generation that does not demonstrate negative behavior. Sirait made the statement in connection with the increase in the number of cases of sexual violence and other crimes whose perpetrators are still classified as children or adolescents.

There are facts that children and teenagers are involved in cases of rape and other sexual offenses, and this is already very alarming. Hence, this demonstrates that Indonesia is in a state of emergency with regard to sexual crimes or the equivalent of what has been called as child abuse emergency. Therefore, the mental revolution movement, which is being echoed by the government, is expected to bring about a significant change in society.

For the national movement of mental revolution to yield results and to touch the root cause of the problem, the public must be encouraged to take the initiative in their homes.

In addition, Culture and Education Minister Anies Baswedan has urged schools to set up a team to prevent violence against children. The team will conduct an early detection of any irregularities as part of the efforts to respond to the growing incidence of violence against children.

Sexual deviance must be quickly detected to address and prevent sexual abuse among children, for crimes against children are brutal in nature. Indeed, early childhood education at home and at school is very important as it can instill good values and develop a childs personality.

Womens Empowerment and Child Protection Minister Yohana Yembise had earlier stated that the increase in violence against children in Indonesia will pose a serious challenge to the existence of this nation in competing with other countries.

The quality of Indonesian human resources is inseparable from the role of children, who constitute 34 percent of the total population. Yembise noted that the role of some 87 million children in Indonesia was entirely dependent on their protection and the fulfillment of their rights from the cradle to 18 years of age. She reiterated that the increase in the number of child abuse cases still poses a serious problem for the optimal development of children in the country.

LinkL http://www.antaranews.com/en/news/104760/character-education-begins-at-home

antaranews_characters education begins at home

 

Empat PTN Diguyur Rp2,5 triliun

Koran Sindo, Halaman 5

Empat perguruan tinggi negeri (PTN) menerima kucuran dana dari Islamic Development Bank (IDB) sebesar USD189 juta atau sekitar Rp2,5 triliun untuk mengembangkan kampusnya. Keempat PTN itu adalah Universitas Jember, Universitas Negeri Malang, Universitas Mulawarman Samarinda, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, dana yang berasal dari program pinjaman hibah luar negeri IDB itu untuk proyek pengembangan empat universitas atau Project4in1 dan diharapkan selesai dalam jangka waktu empat tahun. Dana tersebut akan digunakan untuk proyek pembangunan center of excellence (CoE). Pembangunan CoE difokuskan untuk ketahanan pangan Indonesia, yaitu meningkatkan kualitas produksi beras Indonesia melalui pengembangan karakteristik genetika sehingga menghasilkan produksi unggulan beras.

Rektor Universitas Mulawarman Masjaya menjelaskan, dengan dana tersebut mereka akan membangun enam gedung baru sebagai tambahan sarana kelas dan laboratorium. Selain itu, pihaknya akan menguliahkan kembali 20 dosen di jenjang S-3 serta melatih kembali 100 dosen di berbagai pusat pelatihan. Peningkatan pembuatan jurnal dan kerja sama dengan pihak lain turut dilakukan.

Sementara itu tahun ini IDB akan mengucurkan dana sekitar USD824 juta untuk membiayai proyek infrastruktur, pendidikan, dan pembangkit listrik di Indonesia. Komitmen tersebut dituangkan dalam penandatanganan kesepakatan antara IDB dengan 14 negara anggota di sela-sela penutupan Sidang Tahunan IDB Ke-41, di Jakarta, kemarin.

Four PTN receive Rp2.5 trillion windfall

Koran Sindo, page 5

Four state universities (PTN) have received funds from the Islamic Development Bank (IDB) amounting to USD189 million or equivalent to Rp2.5 trillion to develop their campuses. These four PTNs are University of Jember, State University of Malang, Mulawarman University Samarinda and University of Sultan Ageng Tirtayasa.

Minister of Research, Technology and Higher Education, Muhammad Nasir, said that the funds from this foreign grant program of IDB were intended for the development project of the four universities or Project 4 in 1, which is expected to be completed within four years. These funds will be used for the project to build center of excellence (CoE). CoE establishment will focus on Indonesian food security by improving the quality of the nation’s rice production through the development of genetic characteristics that will result in a superior rice strain.

The Rector of University of Mulawarman, Masjaya, explained that the funds will be used to construct six new buildings for additional classes and laboratories. Furthermore, they will also send 20 lecturers to earn their S-3 degree and send 100 lecturers to various training centers. They will also work on the improvement in recording journals and cooperation.

This year IDB will provide funds amounting to USD824 million to sponsor projects in infrastructure, education and power plants in Indonesia. This commitment was stipulated through the signing of an agreement between the IDB and 14 member countries at the closing of IDB’s 41st Annual Meeting in Jakarta, yesterday.

koran Sindo_empat PTN diguyur rp2-5 triliun

Gencarkan Penelitian ke Industri

Jawa Pos, page 26

Mulai tahun ini, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mempermudah pertanggungjawaban penelitian perguruan tinggi. CHal itu dilakukan untuk mempercepat hilirisasi dan komersialisasi penelitian ke dunia industri.

Hal itu dikatakan Menristek Dikti Muhammad Nasir di sela-sela kegiatan pemberian bantuan dana pendidikan Astra, kemarin (19/5). Dia menyatakan, di antara 700 penelitian inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi, tidak sampai 10 penelitian berubah menjadi produk industri.

Salah satu yang menghambat terserapnya inovasi perguruan tinggi oleh dunia industri adalah penelitian yang begitu panjang karena proses administrasi yang berbelit-belit dan pertanggungjawaban keuangan menggunakan dana dari pemerintah. Oleh sebab itu, lanjut Nasir, untuk mengefisienkan hal itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Direktorat Pajak untuk mengubah komponen-komponen yang berada dalam laporan pertanggungjawaban.

Nasir menambahkan, semua upaya itu dilakukan untuk memaksimalkan komersialisasi inovasi. Idealnya, sebuah riset dan penelitian harus menghasilkan produk yang dapat diaplikasikan di tengah kehidupan masyarakat dan mampu diserap dunia industri.

Industry-Oriented Researches Intensified

Jawa Pos, page 26

Started from this year, the Research, Technology and Higher Education Ministry simplifies the financial settlement of research projects at universities. It is carried out to accelerate the creation of research value added and commercialization to the industrial sector.

It was conveyed by Research, Technology and Higher Education Minister Muhammad Nasir on the sideline of the Astra education assistant fund event yesterday (19/5). He asserted out of 700 innovative researches produced by universities, only less than 10 researches which were transformed to be industrial products.

One of the industrial sector’s constraints to absorb the universities’ innovations is the long period of time required to accomplish a research project funded by the government budget due to complicated administration and financial settlement process. Nasir asserted to simplify the procedure, the ministry had coordinated with the Finance Ministry and The Directorate General of Tax to amend the list of components to be completed in the settlement report.

Nasir added all of the efforts were undertaken to optimize the commercialization of innovations. Ideally, a certain research should result in a product which could be applied in the daily lives of society and able to be absorbed by the industrial sector.

jawa pos_gencarkan penelitian ke industri

Kemendikbud Telah Bentuk 31 Kampung Literasi

www.antaranews.com

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah membentuk sebanyak 31 kampung literasi di 31 kabupaten untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, juga membangun kemandirian masyarakat. Kepala Subdirektorat Keaksaraan dan Budaya Bangsa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Samto mengatakan, kementerian menaargetkan akan ada 514 kampung literasi pada 2019 dengan anggaran Rp160 juta per kabupaten.

Ketua Harian Literasi Nasional itu mengatakan kampung literasi merupakan model pembelajaran keaksaraan yang komprehensif, bukan sekadar belajar membaca, menulis, dan berhitung, tapi juga melakukan aktivitas lainnya seperti kelompok kesenian hingga belajar ketrampilan untuk meningkatkan kecakapan hidup. Embrio kampung literasi bisa berupa taman baca masyarakat (TBM) yang di sana terdapat aktivitas seperti kegiatan baca tulis, aktivitas budaya dan ketrampilan.

Kampung literasi, lanjut dia, bagian dari Gerakan Indonesia Membaca yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan minat baca dan menambah pengetahuan masyarakat.

Pemeringkatan literasi internasional (Most Literate Nations in the World) yang mengukur tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat dunia menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari total 61 negara yang disurvei, atau Indonesia hanya lebih baik dari Botswana. Samto juga mengakui jumlah penduduk Indonesia yang buta aksara cukup besar yakni 5.984.075 jiwa atau 3,70 persen dari jumlah penduduk. Samto menambahkan, angka ini harus terus diupayakan turun. Gerakan Indonesia Membaca dan kampung literasi merupakan upaya yang diharapkan akan berhasil menurunkan angka tersebut.

Link: http://www.antaranews.com/berita/561729/kemdikbud-telah-bentuk-31-kampung-literasi