Tangkal Komunisme, Pendidikan Pancasila Wajib Masuk Kurikulum

Suara Pembaruan, halaman 16

Hilangnya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila akan menyebabkan berbagai ideologi menyimpang, seperti komunisme, tumbuh subur di Indonesia. banyak sistem di Indonesia, termasuk pendidikan, memberikan ruang subur bagi tumbuhnya ideologi menyimpang tersebut. Hal itu diungkapkan sejarawan sekaligus Rektor Universitas Podomoro Cosmas Batubara.

Untuk mengatasi hal itu, lanjut Cosmas, nilai-nilai Pancasila harus masuk kurikulum, sehingga setiap guru bisa menjelaskannya, dan siswa pun bisa memahaminya sejak dini. Nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kerukunan, musyawarah, toleransi beragama nyaris sudah tidak diajarkan lagi di sekolah.

Budayawan Thowaf Zuharon, mengatakan, setelah era reformasi, Pancasila mulai dilupakan. Tidak hanya itu, generasi yang lahir setelah tahun 1990 juga kehilangan informasi mengenai ganasnya pembantaian oleh Partai Komunis Indonesia di masa lalu. Sebelum tahun 1998, ada pendidikan moral Pancasila di sekolah yang kemudian kini diganti dengan pendidikan kewarganegaraan.

Thowaf menambahkan, generasi muda saat ini lebih menyukai ideologi impor yang mereka impor dan dapatkan dari dunia maya. Karena itu, ia mendesak pemerintah untuk segera memasukan Pancasila di dalam kurikulum pendidikan karena Pancasila merupakan nutrisi penting untuk mencegah generasi muda terjerumus ke dalam ideologi yang menyimpang.

Advertisements

Pancasila Education Must be Included in Curriculum to Deter Communism

Suara Pembaruan, page 16

The loss of comprehension on the values of the state ideology Pancasila will flourish various deviant ideologies, such as communism, in Indonesia. A broad range of systems in Indonesia, including education system, provide space to grow the deviant ideologies. It was asserted by historian and Podomoro University rector Cosmas Batubara.

To deal with this situation, Cosmas said the values of Pancasila must be included into curriculum. By doing so, all teachers could explain it and students could also comprehend it from an earlier stage. The values of Pancasila such as gotong royong (mutual cooperation), harmony, musyawarah (discussion) and religious tolerance had barely been taught at schools.

Cultural expert Thowaf Zuharon said in the reform era, Pancasila was started to be abandoned. Furthermore, generations who were born after 1990 did not get information on the cruelty of massacres carried out by the now defunct Indonesian Communist Party (PKI) in the past. Prior to 1998, there was Pancasila moral education held at schools that was subsequently replaced by civic education.

Thowaf added the current young generation preferred imported ideologies received by them from the virtual or cyber world. Accordingly, he urged the government to include Pancasila into the education curriculum immediately. Pancasila is an important nutrient to prevent the young generation from falling into deviant ideologies.

suara pembaruan_tangkal komunisme pendidikan pancasila wajib masuk kurikulum

Menteri Anies: “Mindset” Masyarakat terhadap SMK Harus Diubah

http://www.kompas.com

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menuturkan, kampanye Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) perlu digalakkan. Ada persepsi di masyarakat yang harus diubah terkait pendidikan kejuruan. Padahal, kata Anies, tak jarang orang-orang yang menempati jabatan strategis di perusahaan justru lulusan sekolah kejuruan. Mayoritas masyarakat masih berpikir bahwa SMK masih kalah ketimbang pendidikan umum.

Anies menambahkan, memasuki abad ke-21, banyak pekerjaan baru yang 10 tahun lalu belum ada, tetapi sekarang justru tengah berkembang. Fenomena ini, menurut dia, harus bisa diantisipasi masyarakat Indonesia. Kemendikbud pun pada tahun lalu membuat sub direktorat baru, yaitu Direktorat Penyelarasan Kejuruan dan Industri.

Direktorat tersebut dibentuk untuk menyelaraskan kebutuhan masyarakat. Harapannya, jangan sampai anak bangsa terus menerus dididik pada bidang-bidang yang sebetulnya tak dibutuhkan.

Minister Anies: Public Mindset towards SMK Should be Changed

http://www.kompas.com

Minister of Education and Culture Anies Baswedan said campaigning Vocational Secondary Schools (SMK) should be augmented. There is a perception in society which should be changed in regards vocational education. In fact, said Anies, not infrequently people who hold strategic positions in companies are vocational school graduates. The majority of the public still think that SMKs are still behind general education.

Anies added, entering the 21st century, there are many new jobs that did not exist 10 years ago, but are now growing. This phenomenon, according to him, should be anticipated by Indonesian society. Last year, Kemendikbud also made a new sub-directorate, namely the Directorate of Vocational and Industrial Alignment.

The directorate was established to harmonize the needs of society/the community. The hope is so the nation’s children are not continually educated in fields that are actually not needed.

Link: http://edukasi.kompas.com/read/2016/05/21/22290911/menteri.anies.mindset.masyarakat.terhadap.smk.harus.diubah

kompascom_menteri anies mindset masyarakat terhadap SMK harus diubah

Mendikbud Berharap Sekolah Muhammadiyah dapat menjadi Model

http://www.antaranews.com

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan berharap sekolah-sekolah yang dikelola oleh Muhammadiyah mampu menjadi model bagi sekolah lainnya di Indonesia. Menurut Anies, sekolah-sekolah yang dikelola Muhammadiyah harus bisa menjadi contoh sekolah yang berintegritas bagi sekolah lainnya. Hal itu diungkapkan Anies saat menutup Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) yang diselenggarakan PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (24/5).

Menurut Anies, agar mampu menjadi contoh bagi sekolah lainnya Muhammadiyah perlu melakukan pembaruan standar, bukan hanya mengacu standar dalam negeri tapi mampu mengadopsi standar internasional.

Menurut dia, tantangan lembaga pendidikan di Indonesia saat ini adalah selalu ingin menerapkan standar yang nyaman tanpa ingin menggunakan standar mutu yang telah diadopsi oleh negara-negara lainnya. Padahal, apabila standar mutu pendidikan yang diterapkan sekolah masih di bawah negara-negara lainnya, maka menurut Anies akan sulit mencapai kemajuan.

Kemendikbud, telah memfasilitasi pelatihan bagi ratusan guru untuk memperkaya wawasan mengenai metode pembelajaran sekolah-sekolah di luar negeri. Tujuannya agar mereka melihat dunia, karena jika guru terinspirasi maka akan muncul orang cerdik pandai dengan wawasan yang luas. Lebih lanjut ia menambahkan, pengelola sekolah-sekolah Muhammadiyah harus mampu mewarisi keteladanan KH. Ahmad Dahlan yang banyak membuat terobosan atau pembaruan dalam strategi dakwahnya.

Mendikbud Expects Muhammadiyah Schools to Become Models

http://www.antaranews.com

Minister of Education and Culture Anies Baswedan expects schools managed by Muhammadiyah to be models for other schools in Indonesia. According to Anies, the schools organized by Muhammadiyah should become examples of schools with integrity for other schools. This was disclosed by Anies when closing the Progressive Indonesian National Convention or Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) held by PP Muhammadiyah at the University of Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tuesday (24/5).

According to Anies, in order to be examples for other schools Muhammadiyah needs to update standards, not only referring to the standard within the country but capable of adopting international standards.

According to him, the challenge of educational institutions in Indonesia is currently always wanting to apply a comfortable standard without wanting to use the quality standard already adopted by other countries. In fact, if the education quality standard implemented by the school is still below that of other countries, then according to Anies it would be difficult to achieve progress.

Kemendikbud, has facilitated the training of hundreds of teachers to enrich knowledge on the learning methods of schools abroad. The goal is so they see the world, because if teachers are inspired then there will appear clever persons with extensive knowledge. He further added, the organizers of Muhammadiyah schools should be able to inherit the example of KH. Ahmad Dahlan who made many breakthroughs or revitalization in his communication strategies.

Link: http://www.antaranews.com/berita/562875/mendikbud-berharap-sekolah-muhammadiyah-dapat-menjadi-model

antaranews_mendikbud berharap sekolah muhammadiyah dapat menjadi model

SMK Kekurangan 18.000 Guru

Koran Sindo, halaman 2

Target pemerintah menuntaskan program Wajib Belajar (Wajar) 12 tahun melalui sekolah menengah kejuruan (SMK) terkendala kurangnya guru kejuruan. Hal itu diungkapkan Direktur Pembinaan SMK Direktorat Pendidikan Dasar Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Mustaghfirin Amin.

Mustaghfirin mengatakan, Indonesia kekurangan sebanyak 18.000 guru SMK. Saat ini jumlah guru SMK di Tanah Air mencapai 270.000. ia yakin masalah itu dapat teratasi ketika tanggung jawab sekolah menengah tidak lagi di kabupaten/kota, tetapi di provinsi. Pertambahan siswa SMK per tahunnya mencapai 150.000 orang. Jumlah itu naik drastis karena SMK sekarang sudah tidak dipandang sebagai kelas dua, terlebih kompetensi siswa SMK sudah mengacu pada standar industri.

Mustaghfirin mengatakan, penataan SMK di daerah memang perlu disebarluaskan lagi dengan pemetaan. Saat ini distribusi guru memang tidak memungkinkan karena ada otonomi daerah. Maka, dengan adanya Undang Undang Nomor 23/2014 tentang Pemerintah Daerah, penataan guru SMK pun akan meluas ke semua daerah. Nantinya, pemerintah provinsi yang akan menata distribusi guru.

Mengenai penambahan guru kejuruan, Mustaghfirin menambahkan, bisa saja tenaga ahli di industri diminta mengajar sebagai guru atau menjaring peserta Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK. Namun demikian, hal itu tidak dapat dipaksakan karena mereja juga dibutuhkan oleh dunia industri.