WHO Minta Indonesia Kurangi Angka Pernikahan Dini

The Jakarta Post, halaman 1

Organisasi Kesehatan Dunia WHO telah meminta Indonesia untuk memperbaharui komitmennya guna mengurangi angka kematian ibu dan bayi dengan melakukan kampanye bagi pasangan muda yang sudah menikah untuk menunda kehamilan, karena Indonesia mengalami lonjakan jumlah angka pernikahan dini.

Dalam sebuah seminar WHO untuk kawasan Asia Tenggara yang diikuti oleh 11 negara ASEAN, WHO menyarankan pihak yang berwenang menangani masalah kesehatan di Indonesia dapat menjangkau para orangtua dan pasangan muda dalam memberikan informasi tentang risiko yang ditimbulkan akibat kehamilan di usia muda, baik untuk ibu dan bayi.

Undang-Undang Pernikahan tahun 1974 menetapkan bahwa usia minimum bagi perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. Namun dari sudut pandang kesehatan, usia perempuan yang siap secara fisik dan mental untuk menikah adalah pada usia 21 tahun, sedangkan laki-laki pada usia 25 tahun.

Menurut data WHO, meskipun Indonesia telah mengalami penurunan yang signifikan sebesar 72 persen dalam hal angka kematian ibu, yaitu dari 446 per 100.000 kelahiran hidup pada 1990 menjadi 126 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, namun Indonesia masih berada di antara 11 negara di kawasan ASEAN yang rentan terhadap angka kematian ibu dan bayi yang tinggi karena pernikahan di bawah umur merupakan hal yang lazim di kawasan itu.

Kemajuan Indonesia dalam mengurangi angka kematian ibu masih tertinggal dari negara-negara lain di kawasan itu, termasuk Timor Leste, yang telah menurunkan angka kematian ibu sebesar 80 persen sejak 1990 hingga 2015, yaitu dari 1.800 per 100.000 kelahiran hidup menjadi hanya 215. Dalam periode yang sama, Maladewa telah menunjukkan penurunan sebesar 90 persen, sedangkan Bhutan sebesar 84 persen.

Data statistik WHO mengungkapkan bahwa sekitar 43 persen anak perempuan di Indonesia menikah pada usia 18 tahun dan melahirkan anak pada usia 19 tahun.

Neena Raina, koordinator WHO untuk wilayah Asia Tenggara yang menangani masalah ibu, bayi baru lahir, dan kesehatan anak dan remaja, mendorong pasangan muda yang telah menikah untuk menikmati kebersamaan mereka selama beberapa tahun sebelum mencoba untuk memiliki bayi. Dia mengatakan, Lebih baik bagi mereka untuk menunda melahirkan hingga berusia 20 tahun, sehingga mereka bisa bersenang-senang untuk beberapa tahun pertama dalam pernikahan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia tercatat telah mengalami lonjakan jumlah pernikahan dini akibat kampanye intensif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Muslim konservatif. Hal itu menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya risiko kesehatan.

Secara terpisah, Kepala Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty mengakui bahwa sejak jatuhnya rezim Orde Baru dan adanya sistem desentralisasi, mendorong keluarga untuk ikut dalam program keluarga berencana (KB) menjadi semakin sulit.

BKKBN baru-baru ini meluncurkan sebuah program kampanye yang diberinama Generasi Berencana (Genre) untuk mencegah pernikahan di kalangan remaja dalam upaya untuk menyebarkan informasi tentang risiko dalam pernikahan dini di kalangan anak muda yang berusia antara 10 dan 24 tahun.
surya mengatakan, pada akhirnya, itu semua tergantung pada komitmen pemerintah daerah untuk mempromosikan program keluarga berencana. Sekarang program tersebut telah diabaikan dan banyak orang yang menikah dalam usia yang terlalu muda dan mereka tidak mengatur jarak kelahiran anak-anak mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s