Ombudsman RI: Pelanggaran Penerimaan Siswa Baru Banyak Terjadi di Jakarta.

www.tempo.co

Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menemukan sejumlah pola pelanggaran dalam pelaksanaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) online tahun ini, dimana Jakarta menjadi kota yang paling banyak melakukan pelanggaran dalam penerimaan siswa. Pelanggaran yang terjadi antara lain manipulasi transkrip pada saat pendaftaran online, penyalahgunaan wewenang dari pejabay dinas pendidikan, penambahan kuota bangku sekolah ilegal, dan pungutan liar.

Asisten Ombudsman RI Bidang Pendidikan Zainal Mutaqqin mengatakan, pelanggaran juga banyak terjadi di Depok, Bekasi, Tangerang Selatan, Sulawesi Selatan, Bandung, dan Subang. Temuan tersebut disimpulkan Ombudsman RI setelah memeriksa seluruh laporan yang terkumpul di pusat pengaduan PPDB di Jakarta maupun di derah-daerah lain. Pihaknya juga melakukan observasi ke instansi bersangkutan untuk mencari fakta dan indikasi penyimpangan.

Zainal mengungkapkan bahwa terdapat tiga jenis pelanggaran yang sering terjadi antara lain pungutan liar, penyimpangan prosedur, dan manajemen yang buruk pada instansi pendidikan terkait.

Komisioner Ombudsman RI Ahmad Suaedy menilai, pengawasan terhadap pelaksanaan PPDB masih lemah. Menurut Suaedy, pemerintah daerah pun kurang menindaklanjuti pelanggran. Suaedy menyarankan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, serta jajaran pejabat lainnya harus membuat saluran pengaduan khusus terkait dengan pelanggaran tersebut, Sehingga keluhan masyarakat terkait dengan PPDB dapat segera diatasi.

Suaedy juga mengungkapkan, Ombudsman RI meminta pemerintah daerah untuk membangun sistem PPDB yang transparan. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan informasi perihal kuota atau bangku yang disediakan sekolah, minimal dua bulan sebelum pelaksanaan PPDB Ia juga menyarankan untuk lebih transparan terkait dengan peneriman siswa dan zonasi sekolah, serta standardisasi kualitas sekolah. Sehingga, nantinya, tidak ada lagi di sekolah-sekolah tertentu yang bangkunya kosong karena siswa lebih memilih sekolah favorit daripada sekolah yang dekat dengan rumah mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s