Buat Kondisi Nyaman

Kompas, halaman 12

Faktor ekonomi serta perasaan tidak mendapat hal-hal yang dibutuhkan membuat anak-anak memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan di sekolah. Diperlukan strategi baru yang membuat anak-anak betah belajar agar mereka bisa menjadi warga yang berkualitas.

Susilo Adinegoro, Direktur Sanggar Anak Akar, lembaga swadaya masyarakat yang membina anak-anak putus sekolah di Jakarta dan sekitarnya, mengatakan banyak sekali anak yang stres karena beban akademik yang berat.  Ia menjelaskan, sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah bersifat sangat kaku. Segala sesuatu dinilai dengan angka sehingga siswa dituntut untuk selalu memiliki nilai yang baik. Akan tetapi, aspek penanaman pengertian mengenai pentingnya mempelajari suatu subyek kerap dilupakan.

Berdasarkan Ikhtisar Data Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015/2016, siswa yang lulus SD tetapi tidak melanjutkan ke SMP 946.013 orang. Ditambah dengan jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP tetapi tidak lulus (51.541 orang), maka ada 997.554 anak Indonesia yang hanya berstatus tamatan SD pada 2015/2016. Situasi semakin memprihatinkan karena ada 68.066 anak lainnya yang bahkan tidak melanjutkan studi di SD pada 2015/2016. Kalau hal ini terus terjadi setiap tahun dan tidak dilakukan terobosan, jumlah orang Indonesia yang maksimal hanya memegang ijazah SD terus meningkat.

Menurut Susilo, pada beberapa komunitas, sistem sekolah formal sulit diterapkan. Kondisi ini ditemukan, misalnya, pada komunitas yang menuntut anak untuk membantu orangtua. Situasi serupa terjadi dalam komunitas terpencil yang hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga dan mereka kesulitan untuk mengirim anak-anak ke sekolah formal.

Susilo mengatakan dalam keadaan seperti ini, bisa dilakukan sekolah berbasis komunitas. Lagi pula, prinsip pendidikan di Indonesia adalah wajib belajar, bukan wajib sekolah. Dengan demikian, lingkungan sekitar adalah kampus, sedangkan orangtua merupakan guru utama. Kurikulumnya diadaptasi dari kurikulum nasional. Penerapan pengajarannya disesuaikan dengan kondisi tempat anak tersebut tinggal.

Sementara itu, pakar manajemen pendidikan dan bimbingan konseling Universitas Indraprasta PGRI, Heru Sriyono, menilai, kepenatan masyarakat terhadap pendidikan formal disebabkan oleh tidak berkembangnya sebagian besar metode pendidikan di sekolah. Guru-guru umumnya sangat bergantung pada kurikulum sehingga nyaris tidak ada variasi. Heru menambahkan bahwa kebutuhan siswa berbeda-beda, tergantung latar belakang pribadi serta lingkungan tempat tinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s