Segera Atasi Masalah Putus Sekolah

Kompas, halaman 12

Pendekatan pendidikan formal yang dilakukan dengan cara tidak konvensional diperlukan untuk mengatasi persoalan tingginya angka putus sekolah. Jika tidak diatasi secara serius, tingginya angka putus sekolah akan menyebabkan jumlah tenaga kerja yang hanya berijazah SD bertambah besar dan memberatkan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Kepala Subdirektorat Pendidikan Tinggi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Amich Alhumami mengatakan, angka putus sekolah di Indonesia yang tinggi merupakan kumpulan dari kasus-kasus istimewa. Ia menjelaskan, anak-anak yang putus sekolah mayoritas berada di tempat terpencil yang tidak memiliki fasilitas pendidikan. Mereka juga merupakan anak-anak miskin yang keluarganya tidak mampu membiayai ongkos transportasi menuju sekolah, anak-anak dengan disabilitas, serta anak-anak yang ingin mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.

Di dalam beberapa kasus, kata Amich, pemda tidak bisa membangun sekolah di tempat yang terpencil karena anggaran terbatas. Kartu Indonesia Pintar dan BOS hanya mengongkosi seragam, sepatu, buku pelajaran, dan kegiatan di sekolah.

Salah satu anak yang meninggalkan bangku sekolah ialah masriyah (16) dari Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia berhenti sekolah saat duduk di kelas VII. Di desanya, hanya ada satu SMP swasta yang satu kelasnya berisi 50 siswa. Menurut dia, mayoritas guru berasal dari lingkungan sekitar yang pendidikannya hanya SMA sederajat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s