Pelajaran Agama Kurang Menarik

Media Indonesia, halaman 13

Mata pelajaran agama kerap dinilai kurang menarik oleh para murid. Padahal, pendidikan Islam didesain menjadi salah satu sarana mengajarkan nilai-nilai toleransi ang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Hal itu diungkapkan pakar pendidikan Islam Amin Haedari dalam sebuah diskusi bertajuk Mengelola Perbedaan dan Memelihara Kerukunan melalui Pendidikan, di Jakarta, Rabu (14/9).

Oleh Karena itu, lanjut Amin, perlu perbaikan metodologi pendidikan agama mulai tingkat sekolah dasar hingga pendidikan tinggi. Pendidikan agama perlu dikemas lebih menarik tanpa harus mengubah kurikulum dan materi belajar. Salah satunya adalah dengan mengubah pendekatan, semisal diskusi kelompok dan dialog.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan, dan Pelatihan Kementerian Agama, Abdul Rahman Masud, mengatakan, lingkungan mempunyai pengaruh besar dalam menciptakan harmonisasi kehidupan beragama. Sebuah studi yang dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada 2010, factor lingkungan memiliki pengaruh terbesar, yaitu 72% terhadap toleransi antar umat. Sebaliknya, pendidikan agama berpengaruh kecil, hanya 1,2%.

Sementara, perwakilan dari Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia, Ahmad Suaedy, memandang perlunya para siswa diajarkan mengenai kearifan lokal untuk memperkaya pemahaman mengenai keberagaman. Selama ini, lanjutnya, local knowledge dianggap tidak ilmiah dan tidak penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s