Tumbuhkan Kerukunan-Toleransi

Kompas, halaman 11

Pendidikan di sekolah dan luar sekolah berperan menguatkan  kesadaran individu untuk mewujudkan kerukunan dan toleransi di tengah keberagaman. Saatnya, muatan pendidikan tak jauh dari kehidupan masyarakat dengan menggali kearifan lokal. Hal itu mengemuka dalam “Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat alias Kopi Darat, Rabu (14/9).

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan, dan Pelatihan Kementerian Agama Abdul Rahman Masud mengatakan, sejak 2010, Kemenag merilis survei Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang melihat tiga variabel utama, yakni toleransi, kesetaraan, dan kerjasama. Hasil KUB paling tinggi di atas rata-rata nasional (75,36 persen), antara lain, NTT, Bali, dan Maluku. Sementara terendah di Aceh. Terlihat ada hubungan antara pekerjaan, aktif berorganisasi, dan pendidikan terhadap sikap rukun.

Menurut Abdul, jika pendidikan toleransi, kerja sama dan kesetaraan tinggi, harmoni atau krukunan pun tinggi. Jadi, pendidikan perlu untuk mengembangkan wawasan multikultural peserta didik. Semua pihak, baik yang mayoritas, mesti bersama-sama arif dalam menerima perbedaan. Pendidikan berperan mempromosikan kerukunan, yakni membangun pribadi seseorang. Makin tinggi pendidikan, semakin terbuka wawasannya. Pendidikan toleransi berguna untuk mengatasi perilaku tidak toleran dan kekerasan.

Penelitian pada mahasiswa yang dilakukan Kemenag itu menunjukkan, lingkungan pendidikan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama. Artinya, lingkungan pendidikan positif dapat menumbuhkan kerukunan pada mahasiswa dan guru. Sebaliknya, hasil belajar pendidikan agama memiliki pengaruh terkecil dibandingkan faktor-faktor lainnya.

Ahmad Suaedy dari Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia, mengatakan, mengutip riset yang pernah dilakukan Kemenag, sekolah-sekolah agama cenderung membuat siswa intoleran dalam pemikiran, curiga pada agama lain, dan enggan menerima tetangga yang berbeda agama. Penyebabnya, bisa jadi karena pendidikan cenderung dieksklusifkan, ditarik dalam realitas dalam masyarakat, dan hanya dalam ruang kelas.

Ia menambahkan, pendidikan agama, sosiologi, dan ilmu lainnya yang diajarkan di sekolah tercerabut dari apa yang ada di lingkungan sekitar. Padahal, banyak tradisi, ajaran agama, dan nilai-nilai keberagaman sebagai kearifan lokal yang dapat membuat siswa memahami arti kerukunan dan toleransi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s