Pendidikan Vokasi Indonesia Jauh Tertinggal

Koran Sindo, halaman 2

Pengembangan pendidikan kejuruan atau vokasional di Indonesia sangat jauh tertinggal. Kawasan Eropa dan Amerika hampir 95% lulusan peserta didik dari pendidikan kejuruan, sementara di Indonesia hanya 5%. Hal itu diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Budi Djatmiko saat menghadiri wisuda politeknik LP3EI di Jakarta, Kemarin (18/9).

Budi menjelaskan, 95% sistem pendidikan tinggi di Eropa dan Amerika merupakan pendidikan vokasional setara diploma 3 (D-3) dan diploma 4 (D-4), dan sisanya sebesar 5% untuk pendidikan akademis. Karena, 95% pasar kerja lebih membutuhkan lulusan vokasi daripada lulusan akademik.

Budi mengungkapkan, di Indonesia ada 4.500 perguruan tinggi negeri dan swasta  dengan 26.000 program studi (prodi). Namun, hanya 5% prodi yang mengembangkan pendidikan vokasional, sedangkan 95% sisanya menghasilkan mahasiswa akedemik (S-1 hingga S-3).

Budi berpendapat, mahasiswa akademik lebih cocok menjadi dosen dan peneliti. Mereka tidak mungkin bisa langsung disuruh kerja karena kultur belajarnya teoretis daripada praktik. Oleh sebab itu, Budi berharap pemerintah membuat desain akhir untuk memperbanyak pendidikan vokasi jenjang D-3 dan D-4 dengan merujuk delapan profesi yang ada dalam kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti insinyur, arsitek, tenaga pariwisata, akuntan, dokter gigi, tenaga survei, praktisi medis, dan perawat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s