Guru Keberatan Standar Sertifikasi

Koran Sindo, halaman 2

Rencana kenaikan standar kelulusan ujian sertifikasi mendapatkan reaksi keras dari beberapa asosiasi guru di Indonesia. Mereka menilai kebijakan tersebut terkesan dipaksakan dan hanya memperberat beban para guru.
Jika sebelumnya standar nilai kelulusan dalam ujian sertifikasi dengan range 1-100, guru cukup mendapatkan nilai 40, tahun ini dinaikkan menjadi minimal 80.

Kenaikan standar kelulusan ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas para guru yang lulus ujian sertifikasi. Apalagi berdasarkan penelitian dari Bank Dunia, kualitas guru lulusan sertifikasi dan nonsertifikasi tidak berbeda jauh. Kemendikbud meyakini kebijakan ini tidak akan memberatkan para guru karena telah dilakukan sosialisasi sejak tahun lalu.

Ketua Umum PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rasyidi di Jakarta kemarin (19/09), menilai kenaikan standar nilai kelulusan hingga 100% sungguh di luar akal sehat. Menurutnya, angka 80 yang harus dipenuhi oleh peserta ujian sertifikasi hanya akan menjadi pressure mental bagi para guru. Ia meminta Kemendikbud membuat persyaratan yang masuk akal, yang sesuai kaidah akademik.

Unifah menjelaskan, PGRI sudah lama meminta Kemendikbud untuk memperbaiki kualitas pelaksanaan ujian sertifikasi bagi para guru. Salah satunya dengan memverifikasi persyaratan ujian sertifikasi secara lebih ketat. Namun, ternyata Kemendikbud justru menaikkan batas kelulusan. Ia meminta pemerintah untuk memperbaiki sistem pembinaan bagi para guru. Hanya, perbaikan tersebut harus memberikan stimulasi positif sehingga para guru berlomba lomba meningkatkan prestasi.

Sementara itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mempertanyakan proses sosialisasi kebijakan kenaikan standar nilai kelulusan dalam ujian sertifikasi para guru. Namun demkian, menurutnya,   kenaikan batas kelulusan uji sertifikasi ini terlalu tinggi dan sangat dipaksakan. Dia pun mempertanyakan kebijakan ini dengan realita jumlah guru yang saat ini masih kurang. Dia menjelaskan, jika para calon guru ini tidak lulus ujian sertifikasi maka izin mengajar pun tidak akan dikeluarkan.
Retno menilai, untuk membangun kualitas guru tidak bisa dengan menaikkan standar kelulusan uji sertifikasi dan UKG saja. Diperlukan suatu program pelatihan guru melalui pemetaan yang sesuai dengan kebutuhan guru, terencana dengan sangat baik dan berkesinambungan. Pelatihan yang dilakukan juga jangan melulu soal perubahan kurikulum, tetapi lebih komprehensif sesuai kebutuhan guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s