Kualitas Tenaga Kerja Terancam

Kompas, halaman 1

Angka putus sekolah secara garis besar semakin berkurang pada setiap tahun ajaran baru. Namun, jumlah siswa sekolah dasar yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama, serta yang putus sekolah di bangku SD, masih relatif tinggi, yaitu 1.1014.079 orang. Kondisi ini jelas akan berdampak sangat buruk terhadap mutu angkatan kerja di masa depan. Jumlah itu diperparah dengan akumulasi siswa yang hanya berijazah SD dari tahun-tahun ajaran sebelumnya, yaitu 1.422.932 orang pada 2012/2013, 1.426.926 siswa (2013/2014), dan 1.170.135 siswa (2014/2015).

Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas Amich Alhumami mengatakan, situasi buruk itu diperparah dengan fakta bahwa sekarang 42,9 persen rakyat Indonesia hanya berpendidikan SD. Ia juga mengemukakan, sepertiga dari penduduk Indonesia, yaitu 76 juta orang, hanya berijazah maksimal SMP sederajat. Ia mengingatkan, kondisi ini sangat membahayakan bagi mutu dan kapasitas angkatan kerja bangsa.

Menurut Amich, dengan tingkat pendidikan rendah, otomatis pilihan pekerjaan terbatas pada bidang yang tidak mengandalkan pemikiran tingkat tinggi. Jenis pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tingkat menengah, seperti teknisi atau karyawan, juga tidak bisa diakses karena mereka tidak memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan. Akibatnya, di era Masyarakat Ekonomi ASEAN, Indonesia berisiko mendapati jenis-jenis pekerjaan strata menengah akan diduduki pekerja asing, karena angkatan kerja mayoritas tidak kompetitif.

Di samping menyebabkan keterbatasan pada akses  pekerjaan, ketidakterampilan tenaga kerja Indonesia juga berdampak signifikan dalam sektor sosial dan ekonomi. Pekerjaan yang hanya mengandalkan tenaga tidak memiliki peluang bagi peningkatan karier. Artinya, dalam jangka panjang, tidak akan ada peningkatan pendapatan. Selain itu, lanjut Amich, orang yang berpendidikan rendah umumnya juga kurang mempunyai daya nalar dan wawasan. Hal-hal seperti pengelolaan keuangan secara bijak atau asuransi kesehatan tidak terlalu dipahami sehingga mereka berisiko tidak bisa memperbaiki tingkat kesejahteraan diri maupun keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s