RI Berupaya Tingkatkan pendidikan

The JakartaPost, halaman 1

Indonesia beresiko kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dividen demografis – yang akan mencapai puncaknya pada 2025 hingga 2030 – karena Indonesia saat ini tengah berjuang untuk meningkatkan kualitas anak mudanya di bidang pendidikan guna menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas.

Dividen demografis adalah ketika proporsi jumlah masyarakat dalam kelompok usia produktif (15 sampai 64 tahun) mencapai jumlah maksimal dan rasio ketergantungannya berada pada tingkat paling rendah. Hal ini dianggap sebagai bonus demografis, karena negara tersebut akan memiliki kesempatan untuk memanfaatkan penduduk usia kerjanya dan memaksimalkan produktifitas ekonominya.

Komposisi tenaga kerja di Tanah Air saat ini bisa mengindikasikan bahwa bonus demografi tersebut masih jauh dari yang diharapkan bagi negara sebesar Indonesia, sebuah negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia.

Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2014 menunjukkan bahwa sebanyak 42% tenaga kerja Indonesia saat ini hanya lulusan SD. Sementara, sebanyak 26% lulusan SMP dan sebanyak 22% adalah lulusan SMA. Sisanya, sebanyak 10% adalah lulusan perguruan tinggi.

Namun pada akhirnya, komposisi tenaga kerja yang ada pada saat ini akan berubah, tidak sampai tahun 2030, ketika Indonesia diperkirakan juga akan kehilangan memanfaatkan bonus demografinya.

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud, Ananto Kusuma Seta, mengatakan, komposisi tenaga kerja saat ini akan terbalik pada 2030, dimana tenaga kerja Indonesia yang lulusan SD hanya sebesar 20%, sedangkan lulusan SMA akan meningkat menjadi 30%.

Tenaga kerja Indonesia saat ini didominasi lulusan SD karena mereka merupakan produk dari sistem pendidikan lama, dimana program wajib belajar yang diluncurkan pada 1984 hanya mewajibkan sekolah selama enam tahun. Sementara, meningkatknya presentase tenaga kerja lulusan SMP karena program wajib belajar Sembilan tahun telah digagas sebelumnya pada tahun 1994. Sedangkan, program wajib belajar 12 tahun baru di luncurkan pada tahun lalu.

Meski belum lama diluncurkan, lanjut Ananto, ia optimis Indonesia masih memiliki banyak waktu untuk memastikan lulusan SMA nantinya akan mendominasi tenaga kerja Indonesia pada tahun 2030.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s