400.000 Siswa SD Tak Naik Kelas

Kompas, halaman 1

Pendidikan di sekolah dasar (SD) perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Jumlah terbanyak siswa yang mengulang atau tidak naik kelas dan putus sekolah terjadi di SD. Lebih detail lagi, mengulang dan putus sekolah paling banyak dialami oleh siswa yang duduk di kelas rendah atau kelas I – II. Berdasarkan Ikhtisar Data Pendidikan 2015/2016 yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah siswa yang mengulang atau tidak naik kelas tahun 2015 di SD mencapai 422.082 orang. Jumlah siswa mengulang di kelas I tertinggi, yakni 194.967 orang. Di kelas II jumlahnya 89.561 orang, sedangkan di kelas III angkanya 65.493 orang.

Sementara jumlah siswa putus sekolah di SD tahun 2015 tercatat 68.066 orang (0,26 persen dari total 25.885.053 peserta didik SD). Jumlah SD yang putus sekolah kelas I terbanyak, yakni 16.447 orang, sedangkan di kelas II jumlahnya 12.714 orang.

Itje Chodidjah, praktisi pendidikan mengatakan, mengatasi tingginya angka mengulang dan putus sekolah di SD seharusnya pemerintah fokus untuk memastikan ketersediaan guru berkualitas di jenjang SD. Menurut Itje, di kelas rendah, seharusnya disediakan guru yang memiliki pemahaman tentang anak yang sangat memadai, mengingat tak semua anak SD melewati pendidikan taman kanak-kanak. Jika seorang anak memiliki kelemahan, ia justru harus didampingi intensif agar memiliki motivasi belajar. Dampak psikologis yang diakibatkan mengulang dan putus sekolah sejak kelas rendah sangat besar. Di usia dini, anak sudah dikenalkan pada kegagalan daripada perlunya keberhasilan.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud Wowon Widaryat mengatakan, kondisi dan tata kelola pendidikan sedang dikaji, terutama dialami SD di sekolah di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Di daerah ini, mutu pendidikan rendah karena banyak kelas yang rusak hingga jumlah guru tidak memadai. Kajian Bappenas menyebutkan, anak yang tidak menyelesaikan SD dan yang tidak  melanjutkan ke SMP setelah lulus hampir separuhnya adalah anak yang berasal dari keluarga miskin di daerah tertinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s