Budaya Membaca Proses, Tak Bisa Instan

www.okezone.com

Banyak penelitian yang menyatakan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah. Padahal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menerapkan program membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti di setiap sekolah.

Direktur Pengembangan Sekolah Menengah Pertama Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Supriano mengungkapkan, mewujudkan budaya baca dimulai dari pembiasaan. Sehingga, menumbuhkan budaya tak bisa dilakukan secara instan. Harus dibiasakan dan diulang-ulang. Kemudian baru nanti menjadi karakter dan akhirnya membentuk budaya. Permendikbud tersebut mendorong seluruh sekolah, termasuk di pelosok-pelosok. Hal itu disampaikan Supriano dalam diskusi pendidikan Kopi Darat Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), di Perpustakaan Kemdikbud, Jakarta, Rabu (12/10/2016).

Dia mengakui dengan program tersebut memang kegiatan membaca masih bersifat instruksional. Menurut Supriano, program 15 menit membaca sebaiknya dijalankan dahulu, lalu perlahan akan dikembangkan.

Pada kesempatan tersebut Supriano juga menegaskan, dalam melihat hasil riset atau survei menenai minat baca dan literasi harus dilihat terlebih dahulu indikatornya. Pasalnya, setiap penelitian menggunakan indikator yang berbeda, seperti daerah yang diambil sampelnya, umur sampel, intervensi literasi di daerah tersebut, dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s