Papua Masih Hadapi Kendala Besar di Bidang Pendidikan

www.jakartaglobe.beritasatu.com

Selama satu dekade terakhir ini, Indonesia telah berupaya keras memperbaiki sistem pendidikannya dengan mengalokasikan 20 persen dari APBN-nya untuk bidang pendidikan. Indonesia kini memiliki 62 juta siswa dan 3,5 juta guru dan dosen. Namun, upaya yang kuat dan jumlah anggaran yang besar tersebut gagal untuk menjamin pemerataan dalam penyaluran dan peningkatan kualitasnya.

Sistem pendidikan yang ada di Indonesia bagian barat umumnya relatif jauh lebih baik dibanding dengan wilayah timur, seperti Papua, di mana masih banyak anak yang tidak memiliki akses yang tepat untuk mendapatkan pendidikan.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), dalam kurun waktu 2013/2014, terdapat 117.529 siswa SD dan 39.529 siswa SMP di Papua Barat, dan 336.644 siswa SD dan 94.897 siswa SMP di Papua. Angka tersebut terlihat baik, namun kenyataannya jauh dari yang diharapkan.

Kondisi ekonomi, budaya dan aksesibilitas geografis di Papua menjadi kendala utama bagi anak-anak disana dalam memperoleh akses pendidikan, bahkan untuk tingkat SD sekalipun. Banyak warga Papua belum menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka, atau merasa tidak mampu untuk membiayai sekolah anak mereka karena kesulitan ekonomi.

BPS melaporkan bahwa Papua Barat dan Papua berada pada nilai terendah diantara provinsi-provinsi lainnya di Indonesia dalam hal Indeks Pembangunan Manusia (HDI) dalam kurun waktu 2010-2015. HDI Papua Barat adalah 61,73 dan Papua 57,25. Sementara, rata-rata HDI Indonesia adalah 69,55.

Dalam indeks HDI, yang diukur adalah pencapaian rata-rata warga dalam hal pembangunan manusia. Variabelnya meliputi kesehatan umum dan harapan hidup, pendidikan dan standar hidup. Selain rendahnya nilai HDI, tingkat inflasi di Papua Barat dan Papua juga sangat tinggi. Anak-anak sering dipaksa untuk meninggalkan sekolah mereka untuk ikut bekerja guna menghidupi keluarga mereka.

Sudarwati, kepala sekolah SDN Abeale I mengatakan, warga Papua yang tinggal di kota-kota besar tidak akan mempertanyakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Mereka akan mengirim anak-anak mereka ke sekolah. Namun, hal itu berbeda bagi mereka yang tinggal di daerah perdesaan, dimana anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah karena harus bekerja untuk membantu orangtua mereka.

Sementara itu, Edi, seorang mantan guru di sebuah sekolah Katolik di Surabaya, Jawa Timur, yang telah tinggal di Sentani selama 11 tahun terakhir ini mengatakan, banyak orang Papua yang terlalu malas untuk bekerja. Mereka terlalu nyaman hidup dari sumber daya alam. Penduduk setempat sering mabuk dan tidak peduli dengan pendidikan. Hal itu menyebabkan mereka kalah berkompetisi dengan para pendatang dan kembali lagi ke pegunungan.

Data dari UNICEF menunjukkan bahwa sebanyak 30 persen dari siswa di Papua tidak menyelesaikan pendidikan tingkat SD dan SMP. Di daerah perdesaan, sebanyak 50 persen siswa SD dan 73 persen siswa SMP yang putus sekolah. Selain itu, kondisi geografis juga berkontribusi besar terhadap sulitnya memperoleh akses pendidikan dan tingginya tingkat ketidakhadiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s