Menristekdikti: Pemilihan Rektor Jangan Sampai Cacat Hukum dan Moral

www.beritasatu.com

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan dalam pemilihan rektor perguruan tinggi jangan sampai cacat hukum dan cacat moral. Menurutnya, permasalahan dalam pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri dulu tidak muncul, justru sekarang ini muncul. Ia pun menegaskan pemilihan rektor perguruan tinggi negeri berbadan hukum, perguruan tinggi negeri badan layanan umum, politeknik dan akademi harus sesuai dengan Peraturan Menristekdikti No 1 Tahun 2015 Tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua/ Direktur pada Perguruan Tinggi Negeri.

Nasir mengatakan, pihaknya harus lakukan perbaikan betul, taat peraturan dan harus menghasilkan rektor berkualitas dan menjalankan perguruan tinggi dengan baik. Saat ini Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) telah mengambil langkah-langkah penyelesaian permasalahan terkait proses pemilihan rektor di empat perguruan tinggi negeri (PTN). Empat perguruan tinggi negeri itu yakni Universitas Negeri Manado (UNIMA), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Haluoleo (UHO) dan Universitas Musamus Merauke (UNMUS).

Dalam pemilihan dan pengangkatan rektor ada 4 tahap yang perlu dilakukan yakni penjaringan, penyaringan, pemilihan dan pelantikan. Di keempat proses itu sangat rawan penyimpangan. Oleh karena itu Kemristekdikti membuka ruang pelaporan jika diduga ada praktik-praktik menyimpang pada pemilihan rektor.

Dalam pemilihan rektor, 65 persen suara berasal dari senat atau majelis wali amanat (WMA) dan 35 persennya Menristekdikti. Nasir pun menegaskan, tidak membuka peluang untuk bertemu dengan calon rektor agar penilaian pemilihan mengacu pada kualitas dan kemampuan sang calon.

Menristekdikti menjelaskan, untuk USU ada permasalahan pada pemilihan anggota MWA karena tata cara pemilihan one man one vote tidak dilakukan. Untuk penyelesainnya, Kemristekdikti membentuk tim pendamping penyelesaian masalah serta melakukan perbaikan peraturan-peraturan pemilihan WMA dengan ketentuan baru. Kemudian diakukan kembali pemilihan anggota MWA lalu pemilihan rektor. Isu lainnya yang muncul terkait adanya penerimaan mahasiswa baru yang melibatkan permainan uang.

Sedangkan di UNIMA, pemilihan rektor sudah selesai tapi ditemukan masalah karena pejabat lama proses pembelajarannya tidak benar maka sebagai calon dibatalkan. Kemudian dilakukan pemilihan ulang. Setelah terpilih ada satu calon perlu ditelusuri lagi karena ada pengaduan masyarakat bahwa calon ini menggunakan ijazah palsu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s