Revitalisasi Pendidikan Guru sejak Tahap Seleksi

Kompas, halaman 13, Sabtu, 15 Okt

Revitalisasi lembaga pendidikan tenaga kependidikan atau LPTK makin mendesak karena pendidikan menentukan kemajuan bangsa. Perombakan sistem pendidikan guru mesti dimulai dari awal., yakni sejak seleksi calon mahasiswa kependidikan. Demikian salah satu pokok Deklarasi Jakarta, hasil Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) VIII, 12 – 15 Oktober di Jakarta. Rektor Universitas Negeri Malang Ahmad Rofiudin menjelaskan, perbaikan paradigma pendidikan di Indonesia harus dimulai dari pangkalnya, yakni pendidikan guru. Sistem perekrutan atau seleksi pendidikan guru mesti dibenahi untuk mendapat pendidik yang berkualitas.

Saat ini, seleksi LPTK hampir sama dengan seleksi masuk universitas non-LPTK. Jalur masuk terbagi menjadi SNMPTN, SBMPTN, dan ujian mandiri. Padahal, seharusnya ada seleksi khusus untuk calon mahasiswa kependidikan untuk memastikan mereka berminat dan sesuai menjalani profesi guru.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahab mengatakan, seleksi masuk LPTK seharusnya tak dilakukan lewat tes yang sama dengan universitas pada umumnya. Harus ada tes potensi akademik dan tes minat-bakat sebagai calon pendidik. Wahab mengusulkan, calon mahasiswa menyertakan  portofolio untuk seleksi. Dengan begitu, LPTK dapat menentukan apakah sang calon betul-betul berminat menjadi guru. Ia mengingatkan, sebagai profesi, pendidikan calon guru tidak boleh asal-asalan. Lewat seleksi yang ketat dan pendidikan guru yang mendalam, guru bermutu akan terbentuk.

Secara terpisah, Profesor Akademi Pendidikan University of Turku, Finlandia, Erno Lehtinen, menyatakan, Finlandia memberlakukan seleksi dan pendidikan yang ketat  bagi guru. Berdasarkan sejumlah riset internasional, negara ini memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Erno menguraikan, untuk masuk pendidikan guru kelas jenjang SD, calon mahasiswa harus mengirim nilai ujian nasional dan mengikuti dua tahap ujian, yakni ujian masuk universitas dan ujian kecocokan untuk akademi pendidikan. Setelah itu, guru menjalani pendidikan program sarjana selama lebih kurang tujuh tahun. Selama periode itu, mereka ditempa aspek pedagogik, konten pelajaran, psikologi murid, dan latihan mengajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s