68% Guru di Papua Tidak Paham Surat Elektronik

Suara Pembaruan, halaman 17

Konsultan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia Totok Amin Soefijanto mengatakan, pada 2015 ACDP melakukan studi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan responden para guru di Papua. Hasil menunjukkan, hanya 30% elektrifikasi di Papua, sehingga penggunaan TIK di sekolah tidak komprehensif. Perangkat memang diadakan, tetapi tidak disiapkan pelatihan atau konten pembelajar yang memadai.

Totok menyebutkan, survei ini dilakukan kepada 112 kepala sekolah dan 1.500 guru, dimana ditemukan hampir lebih dari 50% kepala sekolah tidak menggunakan internet. Bahkan, untuk guru, 68% tidak mengertik dan tidak menggunakan surat elektronik (surel). Padahal, TIK sudah terintegrasi hampir di seluruh kehidupan modern. TIK mengubah bagaimana orang bekerja, bersosialisasi, berkomunikasi, termasuk mempengaruhi pembelajaran di kelas. Menurut Totok, keadaan seperti itu sangat memprihatinkan. Sebab, di era teknologi, jika tidak menggunakan surel, akan sangat sulit bagi guru-guru berkomunikasi dengan rekan-rekan dari daerah lain.

Pendapat senada juga diungkapkan pakar TIK Onno W Purbo. Ia menuturkan, pemerintah harus tetap menjadikan TIK sebagai pelajaran. Baik TIK di tiap pelajaran, maupun khusus TIK. Sebab, tidak mungkin mengubah semua mata pelajaran untuk menggunakan TIK. Guru yang belum siap terhadap TIK merupakan salah satu kendala untuk kemajuan pendidikan. Onno juga mempertanyakan apakah di Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) mengajari TIK untuk masing-masing mata pelajaran. Sebab, jika yang diajarkan adalah hasil produk, guru tentu akan siap mengaplikasikan teknologi, bukan seperti yang terjadi saat ini.

Sementara itu, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Nizam mengatakan, perjalanan TIK di dunia pendidikan cukup panjang, dimulai dari disparitas akses. Sebab, esensi kecakapan abad ke-21 dalah mengolah infromasi jadi ilmu pengetahuan, dan menjadikannya kompetensi untuk problem solving. Ia menjelaskan, hal-hal yang perlu dibangun, bukan hanya sekadar bagaimana menggunakan alat teknologi atau sekadar diajarkan. Namun bagaimana menggunakan alat teknologi untuk pembelajaran, nilai-nilai seperti attitude untuk membangun empati anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s