Sekolah Sepelekan Sanitasi

Kompas, halaman 12

Sanitasi di sekolah sebagai bagian dari pemenuhan target Pembangunan Berkelanjutan masih dipandang sebelah mata. Kurangnya kesadaran masyarakat serta faktor geografi menjadi kendala. Padahal, sanitasi yang memadai dapat membuat siswa betah di sekolah. Chief of Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) UNICEF Aidan Cronin pada Konferensi Internasional WASH ke-5 di Jakarta, Senin (14/11), mengatakan, di berbaga wilayah, di mana sekolah menyediakan sarana sanitasi memadai, siswa dapat belajar mengenai kesehatan serta perilaku hidup bersih.

Dalam forum itu terungkap, di Indonesia, jumlah sarana sanitasi sekolah tak hanya belum mencukupi, tetapi juga tak sensitif jender. Data Pokok Pendidikan (Dapodik) 2016, menunjukkan, hanya 40 persen SMA dan 50 persen SMK yang memiliki toilet terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Sementara itu, hanya 65 persen SD dan 60 persen SMP memiliki toliet terpisah. Akhirnya, siswa risih dan enggan menggunakan toilet.

Direktur Jenderal Pendidikan dan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengatakan, terdapat kendalam utama sanitasi sekolah. Pertama, minimnya sarana sanitasi, seperti toilet dan wastafel yang layak. Kedua, ada daerah tertentu yang kesulitan memperoleh air bersih secara berkelanjutan. Ketiga, komitmen masyarakat sekolah untuk merawat sanitasi yang ada dengan baik belum betul-betul dijalankan. Kunci pendidikan bermutu ialah lingkungan yang sehat, aman, nyaman, dan sensitif jenderl dalam setiap sarana-prasarana di sekolah.

Reza Hendrawan, pakar WASH UNICEF menerangkan, meski bantuan operasional sekolah mencakup 5 persen alokasi dana untuk membangun sarana sanitasi, sekolah-sekolah yang berada di wilayah padat tak memiliki lahan untuk membangun toilet tambahan. Sebaliknya, ada sekolah yang memiliki lahan cukup, tetapi kepala sekolah dan guru belum menyadari pentingnya sanitasi. Penelitian UNICEF 2015 mengungkapkan, satu dari tujuh anak perempuan Indonesia memilih tidak sekolah karena minimnya sarana sanitasi di lembaga pendidikan. Anak perempuan yang mengalami masa haid membutuhkan sarana sanitasi yang mendukung kenyamanan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s