Pendidikan bagi Pengungsi Anak-Anak Ditingkatkan

Kompas, halaman 12

Pendidikan bagi pengungsi anak-anak di Indonesia belum memadai. Padahal, pendidikan merupakan salah satu jalan agar para pengungsi bisa meningkatkan  kemampuan dan bersosialisasi dengan warga setempat. Kepala Perwakilan UNHCR Thomas Vargas mengatakan, kendala utama dalam memberi pendidikan bagi pengungsi adalah bahasa. Mereka umumnya tidak bisa berbahasa Indonesia ataupun Inggris.

Di Indonesia, UNHCR mencatat ada 13.800 pengungsi yang berasal dari 40 negara, antara lain Myanmar, Irak, Somalia, Afganistan, dan Palestina. Pengungsi dari Myanmar adalah etnis Rohingya yang terusir dari tanah kelahiran mereka di wilayah Rakhine akibat konfilk horizontal.

Menurut Vargas, di Indonesia, UNHCR bekerja sama dengan Dompet Dhuafa untuk menyediakan pendidikan kepada pengungsi anak-anak. Jenis pelajaran yang diberikan antara lain Matematika dan Bahasa Indonesia. Salah satu target yang diharapkan adalah minimal mereka bisa berkomunikasi dengan penduduk setempat.

Sementara itu, Manajer Pengembangan Sosial Dompet Dhuafa Arih Rahmadi Haryono menjelaskan, para relawan telah menyusun Kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia-Bahasa Rohingya. Butuh wajtu lama bagi relawan untuk memastikan bentuk dan makna berbagai kosakata Rohingya. Menurut dia, pendidikan yang diberi bersifat umum, bukan sesuai jenjang usia anak. Hal ini dilakukan karena belum ada hukum mengenai pendidikan pengungsi anak-anak di Indonesia. Akibatnya, mereka tidak bisa belajar di sekolah reguler.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s