Penelitian: Pendidikan Islam Perlu di Reformasi

The Jakarta Post, halaman 2

Di sebuah negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti di Indonesia, pendidikan Islam di sekolah diharapkan dapat berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi di kalangan para pelajar.

Namun, hasil penelitian yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama pada hari Rabu lalu menunjukan bahwa bentuk pendidikan Islam yang diajarkan di kelas terlalu terfokus pada banyaknya teori dan praktek dan kurang memperhatikan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi beragama, yang mana menurut penelitian tersebut sebenarnya bisa ditemukan di dalam Al-Quran.

Penelitian yang dilakukan oleh Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), sebuah organisasi yang didirikan oleh Uni-Eropa, telah menemukan bahwa banyak nilai-nilai yang berkaitan dengan perdamaian, toleransi, dan demokrasi dapat di temukan dalam Al-Quran, namun para guru pendidikan Islam tidak memiliki kemampuan untuk menerjemahkannya untuk para siswa mereka.

Setelah mewawancarai 159 siswa SMA dan 146 guru agama Islam di empat kota di seluruh Indonesia, yaitu Jakarta, Medan, Surakarta, dan Manado, ACDP menemukan bahwa sebagaian besar siswanya memiliki sedikit pemahaman nilai-nilai perdamaian dan toleransi, sebagaian memilih untuk menghindari isu yang berhubungan dengan agam di dalam kelas.

ACDP bertanya kepada dua siswa Muslim di Medan apakah mereka mengucapkan ucapan selamat Natal untuk teman Kristen mereka di sekolah. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa guru pendidikan Islam mereka melarang untuk mengucapkan ‘Selamat Natal’, sebab mereka dianggap mempercayai itu. Sementara yang lain menjawab bahwa dirinya meminta maaf kepada teman-teman Kristennya, karena mengucapkan selamat natal adalah haram atau dilarang menurut keyakinannya.

Konsultan ACDP pada Kementerian Agama Muljani Nurhadi mengatakan bahwa dari penelitian ini, ACDP menemukan bahwa keluarga dan orang tua sebagian besar para siswa menaruh kepercayaan kepada para siswa tertuama kepada guru pendidikan Islam mereka. Pendidikan Islam adalah subjek paling tidak  populer dikalangan siswa di sekolah karena umumnya disampaikan dengan cara dogmatis dan konvensional, membuat pelajaran tersebut terasa membosankan disekolah.

Dalam studi ini juga dikatakan bahwa ajaran radikal bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah melalui partisipasi siswa dalam ormas radikal di masyarakat atau melalui program ekstrakurikuler dalam pendidikan Islam yang biasanya dikendalikan oleh pihak-pihak radikal.

Radikalisme, menurut penelitian, juga bisa berpotensi masuk ke sekolah secara tidak langsung melalui media massa, khususnya televisi. Namun, Muljani mengatakan, guru bukan satu-satunya pihak yang dianggap bersalah atas kegagalan dalalam mengajarkan pendidikan Islam untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di kalangan siswa.

ACDP merekomendasikan bahwa pemerintah, melalui Kementerian Agama, harus melakukan reformasi pendidikan Islam sehingga dapat menanamkan nilai-nilai kepada siswa yang terkait dengan perdamaian, toleransi dan demokrasi. Dari hasil penelitian tersebut disarankan agar reformasi harus mencakup sinergi kurikulum dan guru, yang bergeser dari mengajarkan ajaran dan mulai mengarah ke pembelajaran berbasis pengalaman untuk mengembangkan pemikirian kritis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s