Guru adalah Seorang Transformator, bukan Teknokrat

The Jakarta Post, halaman 7

Oleh: Setiono Sugiharto

Sangat jelas bila dikatakan bahwa upaya-upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional tidak terlepas dari peran pentingnya seorang guru dalam menerjemahkan cita-cita luhur dan tujuan pendidikan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Sehingga, tidak mengherankan bahwa program Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PPLG) dan Uji Kompetensi Guru (UKG) hingga kini masih menjadi agenda utama nasional.

Meski program-program tersebut bertujuan baik, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas kinerja guru secara keseluruhan.

Memang benar jika program-program tersebut telah membantu meningkatkan penghasilan para guru (terutama bagi mereka yang telah lulus program sertifikasi guru), namun kualitas profesionalisme mereka masih tetap membutuhkan perhatian (Kompas, 21 November).

Karena itu, banyak orang berasumsi bahwa program-program tersebut tidak memiliki pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap upaya keras dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Salah satu penjelasan yang masuk adalah bahwa kedua program tersebut masih bersifat teknokratis. Hal ini berarti bahwa arahan pedagogis yang ada dalam program-program tersebut masih diatur dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas.

Oleh Karena itu, guru harus melihat diri mereka seperti yang diistilahkan oleh Henry Giroux sebagai  “intelektual yang transformatif” – yaitu mereka yang memilliki hak untuk menyuarakan keyakinan mereka sendiri akan nilai-nilai pedagogis dan pengetahuannya, dan juga untuk menentang nilai-nilai tersebut yang secara sepihak telah diterapkan kepada mereka. Mereka adalah para intelektual yang memiliki kewenangan untuk menanamkan nilai-nilai dan pengetahuan mereka kepada siswanya untuk kelak menjadi warga negera yang bertanggung jawab dan kritis.

Sebagai intelektual, mereka bukan individu-individu yang secara pasif menerima pengetahuan begitu saja, mereka adalah individu-individu yang secara bebas dapat bereksperimen dengan metode dan bahan pembelajaran mereka sendiri untuk diajarkan kepada muridnya tanpa harus mengalah pada prosedur kurikuler yang kaku.

Tampaknya, reformasi pendidikan tidak harus membatasi para guru dengan meningkatkan keahlian teknis mereka melalui pelatihan dan penilaian uji kompetensi yang dimaksudkan untuk memperoleh sertifikasi. Program-program pendidikan seperti itu terbukti telah mengurangi peran guru menjadi individu yang hanya sekedar menerima pengetahuan profesionalisme mereka, dan juga telah menyangkal akan arti pentingnya guru sebagai  makhluk intelektual.

Untuk merombak sistem pendidikan tersebut jelas membutuhkan pergeseran perspektif dari guru yang hanya sebagai teknisi terampil menjadi intelektual yang transformatif. Namun demikian, hal ini hanya bisa diwujudkan jika kita memiliki kemauan politik untuk kembali meng-kontekstualisasikan ruangan kelas menjadi tidak hanya sebagai termpat pertukaran intelektual, namun juga sebagai tempat untuk perjuangan politik dan ideologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s