Pendidikan Islam Hadir di Daerah Garis Depan

Suara Pembaruan, halaman 16

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kabalitbang Kemdikbud), Totok Suprayitno, mengatakan, pendidikan Islam sangat berperan penting bagi daerah garis depan. Pasalnya, pendidikan Islam telah berhasil mengisi kekosongan layanan pendidikan untuk anak-anak garis depan dengan ciri khas Islam.

Hal tersebut dikatakan Totok merujuk pada kekuatan dan jangkauan madrasah yang telah memberikan layanan pendidikan umum dengan ciri khas Islam di daerah terpencil, terluar, dan terdepan (3T). Tercatat sekitar 20% anak usia sekolah telah belajar melalui Diniyah Formal. Padahal sebelumnya, pendidikan keagamaan Islam masih diselenggarakan secara non-formal. Kini, pendidikan Islam telah menjadi formal sehingga dapat disetarakan dengan pendidikan umum. Hal itu disampaikan Totok dalam acara peluncuran hasil-hasil diskusi studi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) sebagai referensi perumusan kajian yang bertemakan “Peningkatan Kualitas Pendidikan Islam di Indonesia”.

Di masa mendatang, Totok berharap, pendidikan Islam juga mampu memberikan andil pada pendidikan moral. Dalam hal ini menyangkut karakter kebangsaan Indonesia, guna bersaing pada era globalisasi ini. Adanya pendidikan agama diperlukan untuk membentuk karakter moral, dengan tujuan menghasilkan best practices agama Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamiin atau kehadiran Islam itu untuk semesta alam, bukan hanya untuk Islam sendiri tetapi juga untuk seluruh umat manusia.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya menegaskan, potensi serta keunggulan yang didapatkan dari pembelajaran agama Islam dapat menjadi sebuah modal dalam membangun bangsa. Apalagi, Pendidian Islam Indonesia ke depannya memiliki visi untuk mewujudkan pendidikan Islam yang unggul, moderat untuk di rujukan dunia dalam integrasi ilmu agama, pengetahuan dan teknologi. Lebih lanjut, ia menyebutkan akan terus meningkatkan pembelajaran agama Islam. Pasalnya, studi ini menemukan pembelajaran masih menitikberatkan pada teori dan nilai-nilai damai yang belum dikaitkan dengan penghayatan. Untuk itu, akan dilakukan pengayaan, agar para murid merasa sekolah itu menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s