Pemerintah Terus Lakukan Pembiaran

Kompas, halaman 13, Sabtu, 26 Nov

Hari pertama Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Seksual terhadap Perempuan mengingatkan belum adanya komitmen kuat dari pemerintah untuk menghentikan dan mencegah perkawinan anak. Padahal, dampak negatif dari pembiaran tersebut sudah terlihat di mana-mana.

Dwi Rubiyanti Kholifah mewakili Barisan Indonesia Beragam yang terdiri atas berbagai organisasi perempuan mengatakan, angka kematian ibu (AKI) masih 300 per per 100.000 kelahiran. Hal tersebut membuat Indonesia gagal meraih Target Pembangunan Milenium AKI tahun 2015 menjadi 102 per 100.000 per kelahiran. Barisan itu meminta DPR agar mengesahkan Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender serta merevisi UU No 1/1974 tentang Perkawinan yang masih menyatakan batas usia minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki.

Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan Zumrotin Susilo menjelaskan, perkawinan anak berkontribusi kepada terjadinya kehamilan di usia remaja. Hal ini berbahaya karena ibu dan janin berebut asupan gizi. Perkawainan dini, lanjut Zumrotin, juga merupakan lingkaran setan kemiskinan. Putus sekolah akibat menikah membuat anak-anak tersebut tidak memiliki keterampilan. Mereka kemudian terpaksa mencari nafkah dengan menjadi pembantu rumah tangga dan tenaga kerja ke luar negeri. Kedua pekerjaan ini pun rentan eksploitasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s