Adolescent Summit Bahas Kehamilan di Usia Remaja

The Jakarta Post, halaman 5

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan John Hopkins University Centre for Communication (JHUCCP) Indonesia menyelenggarakan National Adolescents Summit, atau Temu Nasional Remaja Indonesia, di Hotel Hyatt Yogyakarta dari tanggal 21-23 Maret.

Para pemangku kepentingan yang ikut mengorganisir acara yang berlangsung selama tiga hari itu antara lain United Nations Population Fund (UNFPA), United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF), dan Bill and Melinda Gates Foundation.

Acara yang dijadwalkan dibuka pada Selasa malam ini akan mempertemukan para akademisi, pakar lembaga internasional, kelompok masyarakat, dan ratusan remaja dari seluruh Indonesia untuk secara komprehensif membahas cara-cara untuk meningkatkan akses untuk mendapatkan informasi yang benar seputar kesehatan reproduksi bagi para remaja sebagai upaya untuk menekan jumlah kehamilan dan tingkat kelahiran di kalangan remaja.

Fitri Putjuk, salah seorang anggota panitia penyelenggara mengatakan, acara tersebut bertujuan untuk mengajak semua pihak untuk saling membantu dalam pelaksanaan program-program bagi kalangan remaja. Karena, saat ini begitu banyak program yang ditujukan bagi kalangan remaja di Tanah Air, namun pelaksanaannya dilakukan secara terpisah oleh pihak-yang berbeda dan masing-masing memiliki target tersendiri.

Putjuk, yang juga wakil Indonesia untuk JHUCC mengatakan, hasil dari acara ini diharapkan menjadi program yang komprehensif yang melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk diantaranya adalah pemerintah, lembaga donor, badan PBB, organisasi masyarakat dan para kelompok-kelompok remaja.

Menurut data Sensus Penduduk, Indonesia saat ini memiliki sekitar 45.800.000 remaja yang berusia antara 10 hingga 19 tahun, atau sebesar 17,9 persen dari total jumlah penduduk pada 2015. Pada 2010, jumlahnya sekitar 43,5 juta, atau 18,3 persen.

Data dari survey yang dilakukan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (PRJM) menunjukan bahwa akses para remaja untuk mendapatkan informasi kesehatan reproduksi masih rendah. Hal itu ditunjukkan dengan tidak adanya perbaikan yang signifikan antara tahun 2002-2015. Selanjutnya, jumlah remaja yang mendapatkan informasi sekitar permasalahan kehamilan dan kelahiran, seperti Keluarga Berencana, pencegahan kehamilan dan kontrasepsi hanya kurang dari 50 persen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s