Menggenjot Performa Sekolah Kejuruan

Media Indonesia, halaman 7

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus menggenjot performa pendidikan kejuruan atau sekolah menengah kejuruan (SMK). Harapan mereka SMK dapat mencetak generasi penerus bangsa yang terdidik, terlatih, serta siap bekerja di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Untuk mencapai tujuan itu, Kemendikbud menyasar tiga target utama. Target tersebut ialah SMK dapat memenuhi standar mutu yang meliputi guru, fasilitas, dan kegiatan pembelajaran; program keahlian dan kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan industri; dan minimal 80% lulusan SMK dapat terserap pada DUDI atau berwirausaha pada tahun pertama.

Dalam pemenuhan standar mutu, Direktorat Pembinaan SMK Dikdasmen Kemendikbud membagi lagi kategori dalam empat hal, yakni mutu kelembagaan, mutu tenaga pengajar, mutu proses pembelajaran, dan mutu lulusan. Mutu kelembagaan mencakup tata kelola sekolah, fasilitas sekolah, kerja sama dengan industri, dan struktur kurikulum yang mengacu pada kebutuhan industri.

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan tata kelola sekolah harus mampu menyeimbangkan yang dimiliki dengan kebutuhan. Misalnya pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) secara transparan, pengelolaan sumbangan masyarakat untuk pengembangan mutu, dan perencanaan diferensiasi mutu.

Tentang kualitas pengajar, Kemendikbud mengupayakan rasio guru produktif menjadi 60% dan guru adaptif normatif menjadi 40%. Pencapaian rasio tersebut dilakukan dengan cara merekrut tenaga dari industri sebagai bagian pengajar di sekolah. Begitu pun para guru diundang ke industri guna memahami perkembangan terkini sehingga yang diajarkan bersesuaian dengan kebutuhan pekerjaan.

Target guru produktif dalam tiga tahun ke depan mencapai 91 ribu orang. Untuk memenuhinya, dilakukan pendidikan keahlian ganda bagi guru adaptif normatif menjadi guru produktif. Program keahlian ganda telah mencetak 12.600 guru produktif dan ditambah menjadi 15 ribu guru produktif pada tahun ini. Saat ini guru SMK sekitar 300 ribu orang.

Proses pembelajaran SMK ke depan harus mengacu pada kebutuhan dan kemajuan industri. Setiap sekolah diberi kebebasan berekspresi asal sejalan dengan kurikulum yang diisi dengan pembelajaran produktif 5 jam per minggu. Penerapan proses pembelajaran tidak lagi berbentuk simulasi, tapi langsung dengan realisasi produk dan jasa. Contohnya SMK perhotelan membangun hotel guna melatih para siswa secara langsung lewat pembelajaran di sekolah dan praktik atau magang di hotel tersebut.

Selain itu, salah satu penguatan lulusan SMK melalui ujian nasional dan ujian kompetensi yang disinkronkan dengan lembaga sertifikasi. Dengan demikian, lulusan SMK mengantongi sertifikat kompetensi yang diakui Badan Nasional Standar Profesi (BNSP) sehingga banyak terserap pada DUDI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s