Para Korban Berusaha Akhiri Pernikahan Usia Anak

The Jakarta Post, halaman 3

Tidak adanya manfaat yang diperoleh dengan menjadi pengantin anak dan malah dapat menggiring para gadis muda kedalam jurang kemiskinan dan kesehatan yang buruk adalah gambaran posisi ketiga korban yang menikah dalam usia anak. Atas dasar itu, mereka menggugat Undang Undang (UU) Perkawinan Tahun 1974 sebagai upaya untuk mengakhiri praktik-praktik pernikahan dini yang masih marak terjadi.

Sebelumnya, pada 2015, Koalisi Indonesia untuk Mengakhiri Perkawinan Anak (Koalisi 18+) telah mengajukan permohonan untuk menaikkan batas usia minimum bagi anak perempuan untuk menikah, yaitu dari usia 16 menjadi usia 18 tahun. Namun, permohonan itu ditolak oleh Mahkamah Konstitusi  (MK) dengan dalih bahwa tidak ada jaminan dengan naiknya batas usia menikah menjadi 18 tahun tersebut akan dapat mengurangi tingkat perceraian atau dapat memecahkan masalah-masalah sosial dan kesehatan.

Kini, gugatan koalisi tersebut mewakili para penggugat yang juga korban, yaitu Endang Warsinah, 35 tahun, Maryanti, 30 tahun, dan Rasminah, 32 tahun. Mereka adalah mantan pengantin anak yang terpaksa menikah di usia muda akibat kemiskinan. Endang dan Maryanti menikah pada usia 14 tahun, sedangkan pernikahan pertama Rasminah terjadi ketika ia berusiaa 13 tahun.

Permohonan uji materi itu diajukan ke MK pada Kamis ini, bertepatan dengan Hari Kartini, yang diperingati setiap tanggal 21 April untuk menghormati perjuangan emansipasi wanita.

Pemohon secara spesifik menggugat Pasal 7 ayat 1 dalam undang-undang tersebut yang menetapkan bahwa batas usia minimum bagi perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. Dalam gugatannya, mereka menuntut pengadilan untuk menaikkan batas usia menikah bagi perempuan menjadi 19 tahun, yang saat ini menjadi batas usia minimum untuk laki-laki.

Mereka berpendapat bahwa frasa “16 tahun” dalam pasal tersebut melanggar Pasal 27 ayat 1 UUD 1945, yang menyatakan bahwa semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Dian Kartika, kuasa hukum Koalisi 18+, mengatakan, frasa tersebut diskriminatif terhadap hak-hak perempuan dalam memperoleh pendidikan dan kesehatan serta dapat meningkatkan resiko adanya eksploitasi anak.

Para korban menggugat UU tersebut karena mereka merasa menderita telah menjadi pengantin dalam usia anak dan tidak ingin anak-anak mereka atau generasi bangsa ini mengalami penderitaan yang sama. Ketiga korban tersebut akan berbagi pengalaman mereka dalam dengar pendapat di pengadilan yang jadwal persidangannya belum ditentukan.

Mereka termasuk di antara 700 juta wanita di dunia yang telah mengalami pernikahan usia anak, sebuah fenomena global yang masih menjadi masalah serius di Indonesia. Berdasarkan data UNICEF tahun 2015, tiap tahunya sebanyak 50.000 anak perempuan di Indonesia menikah sebelum mereka menginjak usia 15 tahun. Sedangkan, sekitar 340.000 atau satu dari enam anak perempuan di Indonesia tiap tahunnya menikah sebelum mereka berumur 18 tahun.

Koordinator kampanye Koalisi 18+, Freynia, menyayangkan sikap pemerintah yang tidak memberikan dukungan yang signifikan dalam memberantas angka pernikahan usia anak, meskipun untuk kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak, pemerintah dapat bertindak dengan cepat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform, Supriyadi Widodo Eddyono, menyampaikan harapannya bahwa MK akan meluluskan permohonan penggugat dan menaikkan batas usia minimum pernikahan. Karena, para penggugat itu adalah korban sehingga MK harus mendengarkan suara para wanita yang tidak ingin menikah dalam usia muda karena dipaksa oleh orang tua mereka itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s