Toleransi Masih Sebatas Pengetahuan bagi Siswa

Kompas, halaman 12

Konsep keberagaman pada benak siswa sebetulnya seiring tumbuh kembang mereka. Sayangnya, konsep akan toleransi baru sebatas pengetahuan dan pasif. Akibatnya, praktik kerja sama dengan orang yang berbeda agama atau etnis cenderung canggung dan gamang. Hal ini mengemuka dalam acara Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat dengan topik Merajut Kebhinekaan Melalui pendidikan yang digelar Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia di Jakarta, Rabu (26/4).

Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Nur Berlian Venus Ali mengatakan, dari Kajian Pendidikan Kebhinekaan pada Satuan Pendidikan Menengah di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dan Kota Salatiga, Jawa Tengah mewakili kota yang multikultural), ternyata sikap intoleran siswa masih ada. Dalam memilih teman, apalagi pemimpin, merasa lebih nyaman pada yang seetnis dan seagama. Berlian mengatakan, sekolah dan pemerintah daerah perlu mendukung terjadinya pembauran siswa ataupun guru dari latar belakang yang berbeda. Lewat program, penguatan pendidikan karakter, pembaruan itu nantinya tidak hanya di sekolah, tetapi juga bisa di luar sekolah.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Kementerian Agama M Adlin Sila mengatakan, tantangan untuk memperkuat kebhinekaan adalah terbangunnya kesadaran, bukan sekadar pengetahuan. Menurut dia, karena baru sebatas pengetahuan, terlihat kerja sama dari interaksi rendah. Kesadaran ini bisa ditumbuhkan. Kemenag mengembangkan modul-modul budaya damai dan budaya kerukunan supaya kebhinekaan bisa dipraktikkan. Dengan demikian kerja sama dengan orang yang berbeda tidak jadi masalah

Berdasarkan Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama 2016 yang dilaksanakan Kemenag, indeks kerja sama lebih rendah dibandingkan toleransi dan kesetaraan.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Lektur dan Manajemen Organisasi Kementerian Agama Choirul Fuad Yusuf mengatakan, pendidikan agama, khususnya agama Islam, berperan penting membentuk siswa bersikap toleran dan cinta damai. Karena itu, buku-buku pendidikan agaman nantinya akan diawasi Kemenag. Ia juga berharap guru agama punya sikap moderat. Bahkan guru agama yang berbeda bisa saling berkomunikasi untuk menemukan cara yang baik mendorong sikap toleransi antar pemeluk agama yang berbeda.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s