Kecakapan Dasar Siswa Pelosok Perlu Disiasati

Kompas, halaman 13

Mangkirnya para guru di daerah kepulauan karena alasan transportasi dikhawatirkan menghambat gerakan literasi nasional. Siswa tidak mahir membaca, menulis, dan menghitung karena guru tidak selamanya hadir di depan kelas untuk mengenalkan aneka konsep. Padahal, menurut Ketua Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud Pangesti Wiedarti, kemampuan baca, tulis, hitung (calistung) merupakan modal dasar siswa memahami bahan ajar. Kemampuan calistung juga modal dasar untuk membangun kecakapan literasi.

Menurut Pangesti, sebaiknya di Indonesia juga dilakukan penelitian soal dampak kemampuan calistung siswa. Riset ini bisa diinisiasi oleh Badan Bahasa karena penelitian harus dilakukan longitudinal, yaitu dilakukan dari awal pembelajaran hingga SMP secara berkelanjutan dengan sampel dari sejumlah wilayah. Balai Bahasa di tiap provinsi bisa melakukannya.

Di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), menurut Pangesti, menggunakan bahasa ibu lebih baik agar emosi dan rasa berbahasa bisa melekat kuat. Di Pendidikan Guru SD, calon guru perlu diberikan juga strategi calistung dengan permainan menyenangkan dan media yang fungsional.

Sejumlah guru di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, meninggalkan tempat tugas karena kecewa dengan situasi. Berulang kali mereka meminta perhatian pemerintah terkait transportasi dan rumah dinas, tetapi tidak ditanggapi pemerintah. Untuk berangkat ke tempat tugas misalnya, para guru menumpang kapal ikan dengan jadwal tidak menentu karena tergantung cuaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s