Pemetaan Siswa Dinilai Lemah

Republika, halaman 5

Peneliti madya dari Pusat Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan kebduayaan (Kemendikbud) Mahdiansyah menyebut guru memiliki kelemahan dalam assesment siswa. Penilaian masih menurut hasil, guru belum miliki kompetensi membuat soal untuk penilaian itu,

Hal itu disampaikan Mahdiansyah dalam Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Selasa (23/5). Mahdiansyah menjabarkan, salah satu esensi reformasi kurikulum dari 2006 ke 2013, yakni standar penilaian hasil belajar. Penilaian tersebut untuk mengetahui standar kompeteni pendidikan Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, ungkapnya, sistem hasil belajar belum optimal sebagaimana mestinya.

Ia mencontohkan, penilaian kelas, seharusnya digunakan untuk mendiagnosis hasil belajar. Selama ini kemajuan siswa belum untuk penilaian hasil pelajaran. Pemerintah juga melakukan penilaian melalui ujian nasional (UN). Namun, ketika hasil UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan, maka hasil belajar menjadi tanggung jawab satuan pendidikan.

Mahdiansyah mengatakan, permasalahannya, guru belum mampu meneerjemahkan kisi-kisi soal.  Menurut Mahdiansyah, dengan adanya kebijakan baru terkait hasil UN, maka pemerintah harus menguatkan kemampuan penilaian di tingkat sekolah. Ia beranggapan, sistem penilaian harus diberikan pada satuan pendidikan. Kendati, menurutnya, UN tetap diperlukan, tetapi bukan sensus. Pemda dapat menggunakan hasil UN untuk pemetaan dan intervensi kebijakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s