Menanamkan Semangat Daya Saing di Kalangan Siswa

the Jakarta Post, halaman 20

Oleh: Setiono Sugiharto, mengajar di Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya, Jakarta

Dalam sebuah budaya akademis di mana siswa cenderung menjaga hubungan yang harmonis dengan teman sebayanya, penanaman semangat daya saing kepada mereka dapat bermanfaat tidak hanya untuk bakat intelektual mereka, namun juga untuk kedewasaan sosial dan emosional mereka.

Di dunia yang cepat berubah saat ini, universitas mulai menyeimbangkan antara kurikulum inti dan kegiatan ko-kurikuler mereka. Selain kegiatan yang termasuk dalam kurikulum inti mereka, semangat daya saing merupakan hal yang paling sering ditanamkan melalui kegiatan ko-kurikuler seperti penulisan esai, debat publik, kontes menyanyi dan olahraga. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat belajar (secara individu atau dalam kelompok) bagaimana berkompetisi secara positif dengan siswa lain untuk mendapatkan keunggulan dan berprestasi dengan sebuah semangat sportivitas.

Siswa juga dapat belajar bahwa kompetisi dapat diartikan sebagai proses belajar yang berkesinambungan serta usaha keras dan ulet, yang tanpa itu kesuksesan hanyalah sebuah mimpi. Persaingan juga berarti bahwa siswa harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan dan dengan lapang dada menerima konsekuensi atas tindakan mereka.

Perlu disebutkan di sini bahwa upaya untuk menanamkan semangat daya saing tidak hanya perlu merangkul nilai-nilai intelektual yang terwujud dalam kurikulum inti, namun juga nilai-nilai sosial, psikologis, budaya dan rekreasi, yang semuanya dikembangkan melalui kegiatan ko-kurikuler.

Namun demikian, upaya-upaya ini sama sekali tidak berarti harus saling mengesampingkan kedua kegiatan kurikulum inti dan kurikuler. Sebaliknya, kurikulum inti dan ko-kurikuler harus saling menguatkan dan menunjukkan bahwa mereka saling melengkapi satu sama lain.

Selanjutnya, peningkatan pengembangan intelektual sebagai hasil partisipasi berkesinambungan siswa dalam kegiatan akademik perlu dilengkapi dengan pertumbuhan moral dan spiritual – nilai-nilai vital yang dapat ditanamkan melalui kegiatan non-akademis.

Dalam sebuah era yang kompetitif, menumbuhkan semangat daya saing di kalangan siswa jelas merupakan salah satu agenda terpenting bagi perguruan tinggi. Hal ini berarti bahwa siswa harus diberikan banyak kesempatan untuk menjelajahi dunia mereka sendiri; untuk bereksperimen dengan kreativitas dan strategi pembelajaran mereka sendiri serta berinteraksi dengan rekan dan guru mereka; dan bernegosiasi tentang program sekolah yang dikenakan kepada mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s