‘Pesantren’ Beraliansi Tanamkan Toleransi

The Jakarta Post, halaman 3

Adanya aksi teroris dan meningkatnya konservatisme agama mendorong beberapa pondok pesantren (ponpes) membentuk aliansi guna menangkal paham radikalisme dan mempromosikan nilai-nilai toleransi dan moderat dalam Islam sebagai agama yang damai.

Pesantren-pesantren ini dapat berperan penting dalam menangkal paham radikalisme dan ekstremisme. Namun, hal itu juga menjadi sorotan ketika serentetan sentimen keagamaan menggema di seluruh pelosok negeri menyusul adanya polarisasi  dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 – dimana Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dihukum karena kasus penistaan agama.

Dalam lokakarya yang diselenggarakan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta dalam program Pesantren for Peace, para peserta sepakat bahwa pesantren adalah institusi terbaik dalam melawan sentimen negatif terhadap Islam dan dalam menangkal paham radikalisme.

Sekretaris Umum PP Muhammdiyah, Abdul Mu’ti, mengatakan, pesantren sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan tentang ajaran Islam, dimana para santrinya belajar lebih banyak tentang ajaran Islam ketimbang sekolah negeri, seharusnya bisa menjadi agen perubahan dalam mempromosikan Islam yang moderat dan damai.

Mu’ti menyampaikan kepada para pengasuh ponpes se-Jawa dan Madura itu bahwa mereka seharusnya bisa berperan dalam memecahkan masalah yang dihadapi bangsa.

Dia menyebut pesantren-pesantren ini sebagai pemain kunci dalam mengintegrasikan para santri dan gurunya, tidak peduli latar belakang, budaya dan etnis mereka. Jika berbicara tentang perdamaian, lanjutnya, pesantren memiliki semua kriteria itu; yang diperlukan hanya memperkuat peran mereka. Ia menambahkan, pesantren harus menjadi kekuatan dalam menciptakan ketenangan dan perdamaian, tidak hanya menolak adanya perang.

Mu’ti mendesak ponpes untuk memodernisasi metodologi pengajarannya dan memberikan berbagai perspektif kepada para santrinya sehingga mereka dapat menunjukkan sikap toleransinya ketika berhadapan dengan orang yang berkeyakinan lain.

Sebanyak 30 pengasuh ponpes tersebut mendeklarasikan komitmen mereka dan beraliansi untuk mempromosikan Islam yang moderat dalam program Pesantren for Peace yang didukung oleh Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Jerman dan Uni Eropa.

Direktur CSRC UIN Jakarta Irfan Abubakar mengatakan, program ini bertujuan untuk memperkuat peran sekolah-sekolah Islam di Indonesia dalam mempromosikan hak asasi manusia (HAM) dan menjunjung perdamaian serta menolak konflik.

Adanya lokakarya yang menghasilkan aliansi ponpes tersebut diharapkan dapat membantu menghapus kontradiksi antara nilai-nilai HAM dan ajaran Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s