Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia dalam Global QS Ranking Naik

The Jakarta Post, halaman 3

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) mengatakan, ia optimis bahwa perguruan tinggi (PT) di Indonesia dapat lebih kompetitif dalam kancah internasional. Menristekdikti mempertimbangkan hal itu karena naiknya peringkat kampus-kampus top Indonesia dalam sebuah daftar universitas terbaik dunia yang baru-baru ini dirilis.

Sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat pendidikan dunia Quacquarelli Symonds (QS) yang dirilis pada hari Kamis lalu menempatkan tiga perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia berada dalam jajaran 500 universitas terbaik dunia.

Dalam survei QS berjudul “World University Rankings 2018”, Universitas Indonesia (UI) Depok berada di peringkat 227, naik dari posisi 325 pada tahun sebelumnya. Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta masing-masing menempati peringkat ke 331 dan 402.

Berbicara di depan mahasiswa dan tamu undangan saat memberikan kuliah umum di Universitas Borneo Tarakan (UBT) Kalimantan Utara, Menristekdikti Mohammad Nasir memuji prestasi yang telah dicapai oleh tiga PTN tersebut. Ketiga PTN tersebut, lanjut Nasir, telah melakukan lompatan yang signifikan dalam pemeringkatan QS rangking. Hal ini membuktikan bahwa kualitas perguruan tinggi  Indonesia meningkat dari tahun ke tahunnya.

Di tingkat Asia, UI menempati peringkat 67, sementara ITB dan UGM berada di peringkat 86 dan 105. Survei QS University Rankings dalam sistem penilaiannya menggunakan enam indikator, dimana reputasi akademis berkontribusi sebesar 40 persen dari keseluruhan penilaian.

Indikator lainnya adalah reputasi pimpinan PT, rasio dosen dengan mahasiswa di tiap fakultas, jumlah publikasi yang dihasilkan tiap fakultas, serta jumlah pengajar internasional dan mahasiswa intersional dalam tiap fakultas.

Rektor UI Muhammad Anis mengatakan, hasil QS rangking tersebut menunjukan bahwa pendidikan tinggi Indonesia telah diakui secara global. UI, lanjutnya, merasa bangga berada di antara 300 kampus terbaik dunia. UI akan terus berupaya meningkatkan kualitas pengajarannya. Hasil yang telah dicapai UI menunjukkan bahwa keahlian di bidang ilmu sosial, humaniora, studi kesehatan dan sains merupakan keunggulan UI.

Advertisements

Indonesian Universities Step up in Global QS Ranking

The Jakarta Post, page 3

The higher education minister has said he was optimistic Indonesian universities can be more competitive on the global stage, taking into account the improving ranks of its top campuses in a recently released world ‘s best list.

A survey conducted by education rating institution Quacquarelli Symonds (QS) released on Thursday place three of Indonesia’s top state campuses among the best 500 universities in the world.

The University of Indonesia (UI) in Depok was ranked 277th in QS’s “World University Rankings 2018” survey, rising from the previous year’s 325th position. The Bandung Institute of Technology (ITB) and Yogyakarta-based Gadjah Mada University (UGM) were repectively ranked 331st and 402nd.

Speaking to students and guest during a public lecture at Borneo Tarakan University (UBT) in North Kalimantan, Research, Technology and Higher Education Minister Mohammad Nasir praised the three universities for their achievement. He said there has been a significant leap made by our campuses in the recent QS ranking. This result shows that the quality of Indonesian universities is improving from year to year.

In Asia, the University of Indonesia ranks 67th, while the Institute of Technology and Gadjah Mada University landed in 86th and 105th position, respectively. The QS University Rankings survey uses six indicators in its scoring system, with academic reputation making up 40 percent of the entire score.

Other indicators are employers’ reputation, faculty-to-student ratio, citations per faculty, international faculty and international students.

According to the University of Indonesia, the QS results showed that Indonesian higher education had been recognized globally and the university was proud to be included among the world’s 300 best campuses. University of Indonesia rector Muhammaf Anis said they will always try to improve our teaching quality. This result demonstrates our expertise in the social sciences, humanities, health studies and science.

‘Pesantren’ Kunci untuk Lawan Radikalisme

The Jakarta Post, halaman 2

Umar Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Bandung, Jawa Barat, mengatakan, pada mulanya ia mengaku sangat sulit dan mendapat penolakan ketika berusaha meyakinkan orang bahwa ajaran Islam seharusnya berpandangan moderat di tengah meningkatnya paham ekstremisme. Namun demikian, ia tetap harus melanjutkan usahanya tersebut.

Umar membicarakan pengalamannya tersebut ketika mengikuti program Pesantren for Peace bersama 29 pengasuh pondok pesantren (ponpes) lainnya. Program tersebut mengampanyekan Islam yang moderat dengan mengunjungi lebih dari 750 sekolah di Jawa dan Madura melalui lokakarya, pelatihan dan diskusi.

Tren meningkatnya konservatisme akhir-akhir ini membuat implementasi program tersebut menjadi lebih sulit. Beberapa sekolah Islam yang telah dipengaruhi Salafisme, sebuah gerakan ultrakonservatif dalam Islam Sunni yang berasal dari Arab Saudi dan Yaman, adalah pihak yang paling sulit untuk diajak berdiskusi.

Umar mengatakan, banyak dari mereka yang berpikiran tertutup. Mereka banyak memberikan kritik dan merasa sangat tidak aman dengan apa yang akan ia sampaikan kepada mereka. Umar dulunya adalah seorang aktivis sebuah organisasi Muslim garis keras, dan mengaku pernah ikut terlibat dalam pembakaran sebuah gereja Kristen di Jawa Barat.

Peserta lainnya yang ikut dalam program Pesantren for Peace adalah KH Jazilus Sakhok, pimpinan ponpes Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta. Ia percaya bahwa sejak berabad-abad lalu, pesantren hanya mempromosikan ajaran Islam yang moderat. Sementara, beberapa sekolah Islam menjadi pusat kegiatan radikal setelah adanya gelombang baru kedatangan para ulama yang banyak dipengaruhi aliran dari Timur Tengah. Umar mengatakan, pihaknya terkejut ketika kelompok konversatif tersebut berkembang semakin kuat, dan lebih mengejutkan lagi dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat. Hal itu merupakan peringatan bagi kelompoknya untuk secara terang-terangan mempromosikan ajaran Islam moderat.

Umar dan Jazilus, yang tergabung dengan 30 pengasuh ponpes dari Jawa dan Madura, pada Kamis lalu sepakat untuk membentuk aliansi yang akan mempromosikan ajaran Islam yang moderat (tasamuh) dan toleran (tawassuth) di bawah program Pesantren for Peace.

Program yang telah berlangsung selama dua tahun itu diprakarsai oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang didukung oleh Konrad-Adenauer-Stiftung foundation dan Uni Eropa.

Direktur CSRC Irfan Abubakar mengatakan, program tersebut akan berupaya merumuskan sebuah kontra-naratif melawan gerakan radikalisme dan ekstremisme yang meningkat dalam komunitas Muslim. Akan tetapi, lanjutnya, program itu tidak akan ditargetkan untuk sekolah-sekolah Islam yang dikenal radikal, namun akan lebih difokuskan kepada masyarakat yang ia sebut sebagai “mayoritas yang diam.”

‘Pesantren’ key to fighting radicalism

The Jakarta Post, page 2

Umar Yusuf, a cleric from a pesantren (Islamic boarding school) called Babussalam in Bandung, West Java, said it is truly difficult to convince people that Islam is supposed to be moderate amid the growing extremism. He was met with rejection at first, but he must keep going.

Umar was speaking about his experience in joining the Pesantren for Peace program with leaders from 29 other pesantren, visiting more than 750 of such schools in Java and Madura to campaign on Islam wasatiyah (middle-path Islam) through workshops, training and discussions.

The growing trend of conservatism has recently made the job more difficult. Some Islamic schools that have been influenced by Salafism, an ultraconservative movement within Sunni Islam that originated mainly in countries like Saudi Arabia and Yemen, are the most difficult to talk with.

Many of them are close-minded and criticized him a lot and were very insecure about what he would tell them, umar said. Umar was formerly an activist in a hardline Muslim organization who claimed to have once taken part in torching a Christian church in West Java.

Another participant in the Pesantren for Peace movement is Jazilus Sakhok, a cleric from the Sunan Pandanaran Islamic boarding school in Sleman, Yogyakarta, who believed that centuries ago pesantren promoted only a moderate strand of Islam and that some Islamic schools became hubs for radical ideas only after the arrival of a new wave of Middle Eastern-influenced clerics. He said that moderate Muslim groups were caught by surprise by the growing conservatism and that’s when they took action. Umar said that he was surprised that conservative ideas only grew stronger and, more surprisingly, were easily accepted by the public. That was a wake-up call for him to be outspoken in promoting our moderate teachings.

Umar and Jazilus, along with clerics from 30 pesantren in Java and Madura, on Thursday agreed to set up an alliance that would promote a tasamuh (moderate) and tawassuth (tolerant) version of Islam, under the Pesantren for Peace program.

The program, which has been going on for the past two years, was initiated by the Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) of Syarif Hidayatullah Islamic State University (UIN) Jakarta and was backed by the Konrad-Adenauer-Stiftung foundation and the European Union.

CSRC director Irfan Abubakar said the program would work on formulating a counter-narrative against the growing radicalism and extremism in the Muslim community. However, Irfan said the program would not target Islamic schools that were known to be radical and would only focus what he called the “silent majority.”

Guru SLB Kupang 5 Bulan Belum Digaji

Kompas, halaman 12

Sebanyak 30 guru aparatur sipil negara yang bertugas di sekolah dasar luar biasa dan sekolah menengah pertama luar biasa di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, sejak Februari-Juni belum menerima gaji. Untuk menopang biaya hidup, sebagian di antara mereka berutang kepada tetangga.

Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Menengah Pertama Asuhan Kasih Kota Kupang Amini, di Kupang, Kamis (8/6), mengatakan, sejak alih kelola SLB dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah provinsi, sistem penggajian terhadap guru-guru SLB tingkat SD dan tingkat SMP Kota Kupang tidak diakomodasi. Padahal, sejak Oktober 2016, guru-guru telah menyerahkan persyaratan yang diminta ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang terkait proses mutasi status dari kota ke provinsi.

Para guru itu pernah mencoba menemui pejabat Pemkot Kupang dan sejumlah pejabat terkait mengenai status gaji mereka. Namun, para pejabat tetap itu memberi alasan yang sama, yakni status para guru itu sudah dialihkan ke provinsi sejak Februari 2017.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Alo Min mengatakan, mekanisme pengalihan itu diawali dengan mengirim berkas guru dari dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten/kota ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD), lalu dilanjutkan ke Badan Kepegawaian Nasional (BKN). Hasil dari BKN dikirim ke provinsi untuk direalisasikan, tetapi sampai hari ini provinsi belum menerima berkas para guru SLB Kota Kupang dari BKN.

Namun, Alo Min menambahkan, ketika BKD Kota Kupang mengajukan berkas para guru SLB ke BKN Wilayah Bali-Nusra di Denpasar, pihak BKN Denpasar sudah menutup pendaftaran pengalihan status guru. Dengan demikian, berkas dilanjutkan ke BKN pusat di Jakarta. Berkas itu kini masih diproses di BKN Jakarta.

Kupang SLB Teachers Unpaid for 5 Months

Kompas, page 12

From February to June, 30 teachers of civil servant status who work in elementary and junior high schools for children with special needs in Kupang, East Nusa Tenggara have not received their salaries. To manage their lives, some of these teachers have been forced to borrow from neighbors.

Headmaster of School for Special Needs (SLB) of Asuhan Kasih Kota Kupang Amini, said in Kupang on Saturday (8/6) that since the transfer of management from regency/city to the provincial government, the salaries of SLB teachers at the Elementary School (SD) and Junior High School (SMP) in Kupang City have not been paid. This is despite the teachers having already submitted the requested requirements relating to the process of change from city to province status to the Education and Culture Board of Kupang City in October 2016.

These teachers have tried to meet the officials of Kupang City Government and several officials in regard to the status of their salaries. However, the officials all gave the same reason that the status of the teachers had been transferred to province from February 2017.

The Secretary of Education and Culture Board of NTT, Alo Min, said that the mechanics of the transfer began with the sending of the teachers’ documentation from the education and culture board of regency/city to Local Civil Service Agency (BKD), which was next continued by their transfer to National Civil Service Agency (BKN). The BKN result is then sent to the province for realization. To date, however, the province has not received the documentation of the Kupang City SLB teachers from BKN.

Alo Min added that BKD of Kupang City had submitted SLB teachers’ documents to BKN in Bali-Nusra Area in Denpasar, and BKN Denpasar had already completed the registration of the transfer of teachers’ status. From there, the documents continued to the BKN center in Jakarta, where they are currently still being processed.

 

 

 

Kemristekdikti Siapkan Formula Cegah Gerakan Radikal

www.republika.co.id

Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) telah mempersiapkan formula untuk mencegah berkembangnya gerakan-gerakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, paham radikal, dan intoleransi di kampus. Formula tersebut akan diterapkan melalui program General Education. Hal itu dikemukakan Menristekdikti Mohamad Nasir di Tarakan, Kamis (8/6).

Nasir menjelaskan program di bawah Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) ini berusaha menanamkan wawasan kebangsaan, bela negara, cinta tanah air, serta pluralisme kepada civitas akademika di lingkungan kampus.

Menristekdikti beserta rektor PTN/PTS di Kalimantan  pada Kamis (8/6) menandatangani deklarasi antiradikalisme bertajuk “Dari Kalimantan untuk Indonesia” di Universitas Borneo Tarakan. Deklarasi ini merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi di Kalimantan terhadap upaya pencegahan radikalisme, terorisme, dan penyalahgunaan narkoba di perguruan tinggi. Sebelumnya, deklarasi serupa dilakukan di universitas-universitas di Sumatra.

Pada kesempatan itu, Nasir juga berpesan kepada para mahasiswa untuk mencermati perkembangan teknologi. Nasir menyatakan mahasiswa sebaiknya menggunakan teknologi informasi dengan bijak agar tidak menjadi bumerang. Nasir menuturkan teknologi informasi harus digunakan untuk memyebarluaskan hal-hal yang memajukan negara. Perkembangan teknologi informasi, yang di antaranya terwujud melalui media sosial, tidak digunakan untuk saling menjelekkan orang lain.