‘Pesantren’ Kunci untuk Lawan Radikalisme

The Jakarta Post, halaman 2

Umar Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Bandung, Jawa Barat, mengatakan, pada mulanya ia mengaku sangat sulit dan mendapat penolakan ketika berusaha meyakinkan orang bahwa ajaran Islam seharusnya berpandangan moderat di tengah meningkatnya paham ekstremisme. Namun demikian, ia tetap harus melanjutkan usahanya tersebut.

Umar membicarakan pengalamannya tersebut ketika mengikuti program Pesantren for Peace bersama 29 pengasuh pondok pesantren (ponpes) lainnya. Program tersebut mengampanyekan Islam yang moderat dengan mengunjungi lebih dari 750 sekolah di Jawa dan Madura melalui lokakarya, pelatihan dan diskusi.

Tren meningkatnya konservatisme akhir-akhir ini membuat implementasi program tersebut menjadi lebih sulit. Beberapa sekolah Islam yang telah dipengaruhi Salafisme, sebuah gerakan ultrakonservatif dalam Islam Sunni yang berasal dari Arab Saudi dan Yaman, adalah pihak yang paling sulit untuk diajak berdiskusi.

Umar mengatakan, banyak dari mereka yang berpikiran tertutup. Mereka banyak memberikan kritik dan merasa sangat tidak aman dengan apa yang akan ia sampaikan kepada mereka. Umar dulunya adalah seorang aktivis sebuah organisasi Muslim garis keras, dan mengaku pernah ikut terlibat dalam pembakaran sebuah gereja Kristen di Jawa Barat.

Peserta lainnya yang ikut dalam program Pesantren for Peace adalah KH Jazilus Sakhok, pimpinan ponpes Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta. Ia percaya bahwa sejak berabad-abad lalu, pesantren hanya mempromosikan ajaran Islam yang moderat. Sementara, beberapa sekolah Islam menjadi pusat kegiatan radikal setelah adanya gelombang baru kedatangan para ulama yang banyak dipengaruhi aliran dari Timur Tengah. Umar mengatakan, pihaknya terkejut ketika kelompok konversatif tersebut berkembang semakin kuat, dan lebih mengejutkan lagi dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat. Hal itu merupakan peringatan bagi kelompoknya untuk secara terang-terangan mempromosikan ajaran Islam moderat.

Umar dan Jazilus, yang tergabung dengan 30 pengasuh ponpes dari Jawa dan Madura, pada Kamis lalu sepakat untuk membentuk aliansi yang akan mempromosikan ajaran Islam yang moderat (tasamuh) dan toleran (tawassuth) di bawah program Pesantren for Peace.

Program yang telah berlangsung selama dua tahun itu diprakarsai oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang didukung oleh Konrad-Adenauer-Stiftung foundation dan Uni Eropa.

Direktur CSRC Irfan Abubakar mengatakan, program tersebut akan berupaya merumuskan sebuah kontra-naratif melawan gerakan radikalisme dan ekstremisme yang meningkat dalam komunitas Muslim. Akan tetapi, lanjutnya, program itu tidak akan ditargetkan untuk sekolah-sekolah Islam yang dikenal radikal, namun akan lebih difokuskan kepada masyarakat yang ia sebut sebagai “mayoritas yang diam.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s