Orangtua Jaga Asa terhadap Anak Mereka yang Difabel

The Jakarta Post, halaman 9

Rossi mengkhawatirkan anaknya yang berumur sembilan tahun, Ahmad Diabi, yang memiliki Down syndrome, setiap kali dia pergi ke luar untuk bermain dengan anak-anak lain. Karena beberapa orang tua, ujarnya, memperlakukan Ahmad secara berbeda, bahkan melarang Ahmad masuk rumah mereka. Mereka menyebut Ahmad seorang ‘anak idiot’ dan akan membuat rumah mereka berantakan jika masuk rumah mereka.

Sebagian besar tetangga Rossi menilai Ahmad berdasarkan penampilannya. Dia berharap mereka tahu bahwa anaknya adalah orang yang sangat bertanggung jawab yang akan merapikan mainannya setiap kali ia selesai memainkannya.

Rossi mengatakan, dari usia dini, Ahmad telah menunjukkan minat yang kuat dalam pekerjaan mekanikal, menatap mesin mobil dan bermain-main dengan barang-barang elektronik. Rossi menambahkan, dia mungkin bisa bekerja di bengkel suatu hari nanti, meski dia akan lebih setuju jika anaknya menjadi penata rias, karena pekerjaan itu bisa dilakukan dengan baik oleh orang-orang difabel.

Hendry Rozali juga merasa optimistis dengan anak difabelnya yang berumur delapan tahun, Rafaelfas Putraning Bagas, bisa mempersiapkan dirinya sendiri ketika ia beranjak dewasa. Para guru di SMK Swakara, tempat anaknya belajar, mengajarkan siswanya dengan berbagai keterampilan yang dapat membantu mereka mendapatkan penghasilan, seperti membuat keset atau keranjang rotan.

Hendri mengatakan, butuh kesabaran luar biasa untuk menjadi orang tua dari anak difabel. Namun demikian, cintanya terhadap Rafaelfas tak akan berkurang hanya karena cara menatapnya atau harus membereskan rumah empat sampai lima kali sehari. Baru-baru ini, ia menambahkan, Rafaelfas membuatnya bangga dengan memenangkan medali perak dalam perlombaan lari dalam Kompetisi Paralimpiade, dan mungkin saja dia akan menjadi atlet Paralimpiade suatu hari nanti.

Rafaelfas dan Ahmad adalah dua dari jutaan orang-orang difabel di Indonesia. Pada 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa ada 2,1 juta penyandang cacat fisik dan intelektual di Tanah Air. Jumlah itu meningkat menjadi 3.840.000 orang pada 2012.

Wahyudiono, seorang guru di sekolah berkebutuhan khusus Syafiiyah, mengatakan bahwa dengan pelatihan dan pendidikan yang tepat, anak-anak difabel bisa tumbuh menjadi mandiri di usia dewasanya nanti. Karena, sekolah Syafiiyah, tempat belajar anak-anak difabel dengan berbagai jenis tingkat kecacatan, telah melihat lulusannya bekerja di pabrik-pabrik atau bengkel.

Wahyudiono menyesalkan fakta masih banyaknya perusahaan yang tidak menggunakan kuota minimal untuk penyandang cacat. Undang-Undang Nomor 4/1997 tentang penyandang cacat menyatakan bahwa penyandang cacat harus dimasukkan sebesar 1 persen sebagai staf di semua perusahaan di Indonesia. Ia berharap peraturan ini akan diterapkan segera

Parents Maintain Hope in Their Disabled Children

The Jakarta Post, page 9

Rossi worries about her nine year-old son, Ahmad Diabi, who has Down syndrome, every time he goes outside to play with other children. As some parents, she said, treated him differently, or even asked him not to enter their houses. They called her son an ‘idiot boy’ and he would make a mess if he entered their houses.

Most of Rossi’s neighbors judged Ahmad by his appearance. She wished they knew her son was a very responsible person who picked up his toys every time he finished playing with them.

Rossi said, from an early age, Ahmad had shown a strong interest in mechanical works, gazing at the car’s engine and tinkering with electronics. Rossi added, he might be able to work in a workshop someday, but she would prefer to see her son as a makeup artist, as it was good job that could be done by disabled people.

Hendry Rozali was equally optimistic that his intellectualy disabled eight-year-old son, Rafaelfas Putraning Bagas, could provide himself when he became an adult. The teachers at his son’s Swakara Vocational School were teaching the students various skills that could help them earn a living, such as making doormats or wicker basket.

Hendri said, it took an extraordinary amount of patience to be a parent of an intellectually disabled child. Nevertheless, neither judging stares nor having to tidy is home four to five times a day could reduce his love for Rafaelfas. Recently, he added, Rafaelfas made him proud by winning silver in a running race in a Paralympic Competition, and he might become a Paralympic athlete someday.

Rafaelfas and Ahmad are two of millions of disabled people in Indonesia. In 2009, the Central Statistics Agency (BPS) revealed that there were 2.1 million intellectually or physically disabled people in the country. The number increased to 3.84 million in 2012.

Wahyudiono, a teacher at the Syafiiyah special purpose school, said that with proper training and education, disabled children could grow up to become independent adults. As Syafiiyah school, which caters to children with various kinds of disability, has seen its graduates go on to work in factories or workshops.

Wahyudiono deplored the fact that many companies still did not employ the minimum quota of disabled people. Law No. 4/1997 on disabled people stipulates that disabled persons should account for 1 percent of staff in all companies in Indonesia. He hopes that this regulation will be enforced soon.

Parents Maintain Hope in Their Disabled Children

Parents Maintain Hope in Their Disabled Children

Mahasiswa Surabaya Mengasuh Anak Terlantar

Kompas, halaman 11

Mahasiswa di Surabaya, Jawa Timur, melatih kepekaan sosial melalui program mengasuh anak-anak miskin yang tidak mampu bersekolah. Mereka mendampingi dan memfasilitasi anak-anak itu hingga dapat bersekolah.

Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Supomo mengatakan, mahasiswa terlibat langsung, mulai dari menginventarisasi persoalan anak hingga mencarikan solusi. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki manfaat ganda, yaitu mengentaskan anak-anak miskin sekaligus mengasah empati mahasiswa.

Kegiatan yang bernama Campus Social Responsibility (CSR) ini telah memasuki tahun kedua. Tahun ini ada 256 mahasiswa dari 22 perguruan tinggi yang mengasuh 256 anak miskin dan terlantar di 31 kecamatan. Dalam kegiatan ini, mahasiswa bertanggung jawab terhadap satu anak miskin. Setelah menggali penyebab anak tersebut tidak dapat bersekolah, mahasiswa mancarikan cara untuk memecahkan masalah itu.

Mahasiswa yang terpilih rata-rata berpengalaman dalam organisasi sosial. Hal itu berdasarkan pertimbangan tugas yang diemban mahasiswa dalam program CSR berat. Ketika mendatangi rumah keluarga dari anak-anak yang dijadikan adik asuh, terkadang muncul penolakan. Mahasiswa itu harus terus mendekati keluarga tersebut hingga terjalin hubungan yang erat.

Surabaya Students Minding Neglected Children

Kompas, page 11

(University) students in Surabaya, East Java, train social awareness through a program of caring for underprivileged children who cannot afford to go to school. They assist and facilitate the children until they could go to school.

Head of Surabaya City Social Services Supomo said, students were directly involved, starting from making an inventory of children’s issues to seeking solutions. Hence, this activity has double benefits, namely the eradication of poverty in children and simultaneously honing student empathy.

The activity named Campus Social Responsibility (CSR) is in its second year. This year there are 256 students from 22 higher education (institutions) caring for 256 poor and neglected children in 31 subdistricts. In this activity, a student is responsible for one underprivileged child.   After uncovering the cause of the child not being able to go to school, the student seeks a way to solve the problem.

Students selected are on average experienced in social organizations. This was based on consideration of duties to be borne by the students in the CSR program are weighty. When visiting the homes of the families of the targeted children, sometimes there is rejection. The students must continue to approach the family until there is close relationship.

Surabaya Students Minding Neglected Children

Surabaya Students Minding Neglected Children

Pengamat: Pendidikan Indonesia Harus Bertingkat Internasional

www.antaranews.com

Pengamat pendidikan dari Putera Sampoerna Foundation, Nenny Soemawinata mengatakan, bahwa pendidikan Indonesia harus berani memulai menuju pada tingkat internasional. Menurut Nenny, untuk mengejar ketertinggalan, Indonesia harus meningkatkan kompetensi yang setingkat dengan internasional. Ia menjelaskan, paling tidak pada tingkatan universitas, kompetensi yang muncul sudah memasuki standar internasional.

Tingkatan internasional yang dia maksud adalah, mulai dari disiplin ilmu, penguasaan bahasa, materi pengajar, serta daya saing yang mulai diperhitungkan.

Menurut Nenny, sebentar lagi Indonesia akan memasuki pasar internasional, maka kompetensi kerja individu bisa jadi akan berhadapan langsung dengan lulusan-lulusan terbaik di negara masing-masing.

Pada Desember 2015 Indonesia akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan persaingan tersebut akan menyebabkan banyak kompetisi dalam dunia kerja dan usaha. Ketika tingkat pendidikan Indonesia bisa memasuki kategori internasional, maka akan lebih mudah bagi individu untuk bersaing dengan lulusan dari luar negeri.

Ia berharap semangat belajar dari masyarakat Indonesia tetap besar untuk membawa kompetensi individu menjadi lebih baik, mengingat kemampuan Indonesia secara individu tidak kalah dengan negara-negara tetangga.

Link: http://www.antaranews.com/berita/504447/pengamat-pendidikan-indonesia-harus-bertingkat-internasional

Indonesia’s Education Must Have International Standards: Observer

www.antaranews.com

Education observer at Putera Sampoerna Foundation Nenny Soemawinata said Indonesia’s education must be directed towards international level. According to Nenny, to catch up the backwardness, Indonesia needs to improve competencies. She explained that at least at university level, the competences must already meet international standards.

The international standards include subjects, language proficiency, teaching materials and competitiveness.

According to Nenny, Indonesia was about to enter international market in which individual competencies would have face-to-face competitions with the best graduates from other countries.

In December 2015, Indonesia will enter the ASEAN Economic Community (MEA) which will intensify labor market and business competition. Once Indonesia’s education already meet international standards, it will be easier for Indonesians to compete with other countries’ graduates.

She expected that learning spirit of Indonesians remained high to improve individual competencies since individually Indonesians’ skills were competitive with those from neighboring countries.

Link: http://www.antaranews.com/berita/504447/pengamat-pendidikan-indonesia-harus-bertingkat-internasional

Indonesia’s Education Must Have International Standards: Observer

Indonesia’s Education Must Have International Standards: Observer

Sambut MEA, Perkuat Kompetensi

Jawa Pos, page 32

Persaingan sumber daya manusia (SDM) di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semakin ketat. SCG selaku salah satu pemimpin bisnis berkelanjutan di ASEAN kembali menggelar SCG International Internship Program, yakni program pelatihan dan magang berskala regional untuk mahasiswa di kawasan ASEAN. Program itu dilaksanakan kali ketiga pada 2015.

Tahun ini, 10 mahasiswa dari universitas terkemuka di Indonesia akan menjalani magang selama sebulan di kantor pusat SCG di Thailand. Mereka akan bergabung dengan mahasiswa dari Vietnam, Myanmar, Filipina, dan Kamboja.

Country Director SCG Indonesia, Nantapong Chantrakul, mengatakan, pihaknya memahami pentingnya kualitas manusia untuk memastikan pertumbuhan ASEAN secara berkelanjutan. Program tersebut merupakan bagian dari komitmen SCG dalam pengembangan SDM di ASEAN dan ikut mendorong peningkatan kompetensi mahasiswa ASEAN.

Dalam program itu, mahasiswa dibekali dengan pengetahuan lintas budaya disamping keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia profesional. Progam ini dibuka bagi mahasiswa ASEAN di jurusan teknik, bisnis, hukum, dan ilmu sosial yang sedang menjalani tahun kedua perkuliahan.

Sebelum menjalani program magang di kantor pusat SCG di Thailand pada 16 Juni-15 Juli 2015, sepuluh mahasiswa Indonesia yang terpilih menjalani orientasi dengan tim human resources (HR) SCG Indonesia di FM7 hotel Cengkareng. Para mahasiswa tersebut nantinya akan ditempatkan di departemen berbeda seperti corporate HR, corporate legal, sales and marketing, serta pabrik untuk para insinyur.