Mayoritas Anak Indonesia tak Kuliah

Republika, halaman 5

Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah X Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau, Prof Herri mengatakan, upaya pemerataan pendidikan tinggi di Indonesia akan meningkatkan produktivitas perekonomian negara. Negara maju baik perekonomiannya karena Angka Partisiasi Kasar (APK) perguruan tingginya lebih dari lima puluh persen, hal tersebut perlu diupayakan pemerintah.

Dia menjelaskan, saat ini, APK perguruan tinggi di Indonesia baru mencapai 30 persen, artinya, masih ada tujuh puluh persen manusia Indonesia usia 19 hingga 23 tahun yang tidak berkuliah. Angka tersebut jika dibandingkan Malaysia tertinggal, karena negara tetangga itu APK nya sudah mencapau 60 persen.

Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terus giat dalam pemerataan pendidikan tinggi, salah satunya mendorong pembangunan kampus di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sebab, kata Prof Herri, di daerah jarang ditemukan perguruan tinggi sehingga pendidikan rata-rata di daerah tersebut minim yang sarjana datau diploma.

Pentingnya pemerataan pendidikan tinggi juga diungkapkan Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah sebagai langkan dalam menyiapkan bonus demografi di tahun 2040 mendatang. Saat ini, separuh warga negara Indonesia berada pada usia produktif dan akan terus bertambah. Meskipun demikian, kata dia, penyiapan sumber daya manusia berkualitas harus diupayakan secepatnya, perguruan tinggi dan sekolah menjadi kunci utama ke arah tersebut.

Majority of Indonesian Children do not Continue on to Higher Education

Republika, page 5

Coordinator of Private Universities (Kopertis) region X of West Sumatra, Riau, Jambi, and Riau Islands, Prof. Herri said that efforts to equally provide higher education in Indonesia would increase the productivity of the country’s economy. The good economy of developed countries is because the Gross Enrollment Figure (APK) of their universities is greater than fifty percent, and this needs to be pursued by the Indonesian government.

He explained that currently, the university APK in Indonesia just reached 30 percent, meaning there are still seventy percent of Indonesian people aged 19 to 23 years who are not enrolled. This figure compared to Malaysia lags behind, because the APK of that neighboring country already reached 60 percent.

Presently the government through the Ministry of Research, Technology and Higher Education continues to actively promote higher education parity, one of which is through encouraging the development/construction of campuses in the frontier, outermost and disadvantaged regions (3T). Prof. Herri said that in the regions higher education institutions are rarely found so the average education in the regions lacks undergraduates (sarjana) or diploma degrees.

The importance of equity of higher education is also disclosed by Padang Mayor, Mahyeldi Ansharullah as a step in preparing the demographic bonus in the year 2040. Currently, half of Indonesian citizens are in the productive age and will continue to grow. Nevertheless, he said that preparing qualified human resources should be sought as soon as possible; higher education and schools is the key factor towards that direction.

republika_mayoritas-anak-indonesia-tak-kuliah

Kursus Bahasa Indonesia di Hungaria Digemari

http://www.thejakartapost.com

Budapesti Gazdasági Egyetem (BGE) atau Sekolah Bisnis Budapest, Hungaria, meluncurkan kursus Bahasa Indonesia. Pembukaan kursus Bahasa Indonesia itu secara resmi diresmikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Hungaria Wning Esthyprobo. Dalam kesempatan tersebut sebanyak 39 orang mendaftar untuk mengikuti kursus yang sesungguhnya hanya bisa mengakomodasi 15 peserta per kelas.

Wening mengatakan, belajar bahasa asing memiliki beberapa keuntungan, khususnya bahasa seperti Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa utama bagi 258 juta orang Indonesia. Ia menambahkan, peserta kursus dapat mendapatkan lebih dari sekadar belajar bahasa. Mereka juga bisa mempelajari kebudayaan Indonesia.

Kepala Jurusan Studi Oriental Prof. Tamas Novak mengatakan, sekolah bisnis tersebut terpilih menjadi sekolah yang menawarkan kursus Bahasa Indonesia mengingat semakin pentingnya peran Indonesia dalam percaturan global, khususnya Asia. Ia menambahkan, belajar Bahasa Indonesia dapat semakin membina hubungan kerjasama dan riset ilmu sosial di masa mendatang.

Dalam sistem kurikulum di BGE, penguasaan sedikitnya dua bahasa asing bagi mahasiswa adalah salah satu prasyarat dalam kelulusan. Atas pertimbangan tingginya minat peserta dalam mengikuti kursus Bahasa Indonesia, sekolah itu berencana akan membuka kelas kedua, namun saat ini terkendala oleh kurangnya tenaga pengajar. Kelas baru yang akan dibuka akan diajar oleh staf Kedutaan Besar Indonesia di Hungaria yang menguasai baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Hungaria.

BGE saat ini menawarkan kursus kelas internasional dan telah bekerja sama dengan beberapa universitas di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Universitas Mercu Buana, Universitas Teknologi Yogyakarta.

Selain BGE, Kedutaan Besar Indonesia untuk Hungaria telah menerima permintaan untuk menggelar kelas pengajaran Bahasa Indonesia untuk Hajtomu Language School di Budapest.

Bahasa Indonesia Course in High Demand in Hungary

http://www.thejakartapost.com

The Budapest Business School (BGE) in Hungary has launched a Bahasa Indonesia language course. Officially inaugurated on Tuesday by Indonesian Ambassador to Hungary Wening Esthyprobo, 39 people reportedly signed up to join the course that can only accommodate 15 people per class.

Wening said, learning a foreign language has many advantages, especially Bahasa Indonesia, which is used as the main language of the country’s 258 million citizens. Wening added that the students could expect to learn more than just the language, namely also Indonesian culture.

The head of the university’s Oriental Studies Department, Prof. Tamas Novak, said the business school had chosen to offer the course due to Indonesia’s increasing role in the world and in Asia in particular, adding that learning Bahasa Indonesia would allow smoother cooperation and social science research in the future.

Mastering at least two foreign languages is part of graduation requirements for BGE students. Due to high demand, the university is said to be considering opening a second class for Bahasa Indonesia, but currently lacks lecturers. The newly opened course will be taught by staff members of the Indonesian Embassy in Budapest, who master both Bahasa Indonesia and Hungarian.

BGE presently offers international courses and has cooperated with several Indonesian universities, such as Gadjah Mada University, Mercu Buana University and Yogyakarta Technology University.

Aside from BGE, the Indonesian Embassy in Budapest has reportedly also received a request to provide a Bahasa Indonesia lecturer for the Hajtomu Language School in Budapest.

Link: http://www.thejakartapost.com/youth/2017/02/16/bahasa-indonesia-course-in-high-demand-in-hungary.html

Bank Dunia Sarankan Perkuat Pendidikan

Republika, halaman 5

Bank Dunia menyarankan negara mengembangkan pendidikan. Sebab, sektor tersebut mampu meningkatkan sumber daya manusia (SDM) sehingga memicu pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas. Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mengingatkan, pendidikan menjadi dasar pertumbuhan perekonomian di berbagai negara. Pihak swasta dan pemerintah harus bekerja sama meningkatkan kualitas pendidikan.

Sektor swasta diibaratkan sebagai mesin pertumbuhan. Pemerintah adalah pengemudinya, sedangkan pendidikan adalah bahan bakar yang menjalankan mesin. Kim mencontohkan, Korea Selatan setelah Perang Korea 1950-an, sebanyak 78 persen warga di sana buta huruf. Penghasilan perkapita di Korea Selatan pada 1970 masih sekitar 200 dolar AS. Korsel menyadari pendidikan adalah cara yang paling efektif untuk keluar dari kesengsaraan. Pemerintah berfokus memperbarui sekolah dan anak-anak dapat menikmati pendidikan dengan baik. Hal itu ditunjang oleh kebijakan pemerintah yang cerdas dan inovatif dan sektor swasta giat dan fokus pada edukasi. Hal itulah yang membuat Korsel menjadi salah satu negara maju seperti saat ini.

Kim mengatakan, negara perlu berinvestasi besar dalam bidang pendidikan. Kebijakan yang ada harus mengajarkan ilmu pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak untuk dapat beradaptasi pada masa depan. Dunia merupakan tempat yang terus berubah. Anak didik harus kreatif dan menjadi pemikir kritis untuk mendapatkan pengetahuan dan solusi permasalahannya.

Sistem pendidikan harus menyediakan keahlian yang relevan dengan pasar. Anak harus diberi bekal agar dapat memudahkan mereka mendapatkan pekerjaan pada masa depan.

World Bank Advises to Strengthen Education

Republika, page 5

The World Bank advised the country to develop education. For this sector is able to improve human resources (HR) to trigger economic growth of higher quality. World Bank Group President Jim Yong Kim reminded education is the basis of economic growth in various countries. The private sector and the government must work together to improve the quality of education.

The private sector is likened to the engine of growth. The government is the driver, while education is the fuel that runs the engine. Kim pointed out, South Korea after the Korean War of the 1950s, as many as 78 percent of people there were illiterate.  Income per capita in South Korea in 1970 was about USD 200.  South Korea realized education was the most effective way to get out of misery. The government focused on updating schools and children could enjoy a good education. It was supported by government policies that were intelligent and innovative and the private sector was enterprising and focused on education. That’s what makes South Korea one of the developed countries as it is today.

Kim said the country needs to invest heavily in education. Existing policies should teach the knowledge and skills children need to be able to adapt in the future. The world is a place that is constantly changing. The learners must be creative and become critical thinkers to gain knowledge and solutions of the problems.

The education system should provide expertise relevant to the market. Children should be given the provisions in order to facilitate them to get a job in the future.

republika_bank-dunia-sarankan-perkuat-pendidikan

Para peneliti bioteknologi Coba Hasilkan Energi Listrik dari Bambu

www.tempo.co

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tengah melakukan penelitian untuk menghasilkan energi listrik dari tanaman bambu. Kepala pusat penelitian Tandya Tjahjana, di Kabupaten Selaman, Provinsi Yogyakarta, Sabtu (11/2), mengatakan, bambu juga bisa menjadi sumber potensial energi listrik. Dalam konsep sederhana, bamboo telah lama digunakan sebagai bahan bakar tungku dalam memasak.

Bambu dapat digunakan sebagai sumber energi listrik alternatif dan yang terpenting sekarang adalah menemukan cara untuk mengolah bambu untuk menjadi kekuatan pendorong pembangkit listrik. Penelitian dengan menggunakan bamboo untuk menghasilkan energi, lanjutnya, saat ini sedang berlangsung dan telah dilakukan di beberapa daerah. Penelitian membuktikan bahwa tanaman bambu dapat terbakar dengan cepat dan menghasilkan panas yang dibuktikan dalam penelitian.

Tandya mengatakan jika penelitian tersebut mampu menemukan cara untuk mengolah bambu menjadi sumber energi listrik alternatif, maka akan sangat membatu pemerintah dalam menyediakan pasokan energi  listrik bagi masyarakat. Ia mengatakan, pemerintah secara akktif mewujudkan program untuk menghasilkan 35 ribu megawatt listrik. Ia berharap bambu bisa menjadi sumber energi alternatif untuk pembangkit listrik dalam rangka membantu pemerintah merealisasikan program tersebut.

Ia mengungkapkan, keuntungan lain adalah bahwa bambu dapat tumbuh dengan cepat di semua jenis tanah dan ketinggian. Kabupaten Sleman secara aktif mengembangkan bambu sebagai produk hutan non-kayu.

Industri kerajinan bambu telah berkembang pesat di Kabupaten Sleman sebagaimana Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan Sleman sebagai pusat pengembangan industri komoditas bambu di Indonesia. Ia menambahkan, prospek budidaya bambu diklasifikasikan sangat luar biasa. Adanya teknologi yang mampu mempercepat proses pertumbuhan bambu juga sangat membantu. Hal ini sangat luar biasa, lanjutnya, dan ia telah mempraktikkannya di lapangan. Ia bekerja di pusat penelitian yang bertugas mendukung program pemerintah terebut.