Lagi, Polisi Selidiki MOS

Kompas, halaman 13

Penyidik Kepolisian Resor Bintan di Kepulauan Riau menyelidiki kematian M Arif Husein. Pelajar SMPN 11 Bintan itu diduga tewas, Minggu (2/8), akibat penganiayaan. Dugaan penganiayaan terjadi saat Arif ikut kegiatan masa orientasi siswa (MOS). Sebelumnya, di Bekasi, Jawa Barat, polisi menyelidiki kematian Evan C Situmorang (12), siswa SMP Flora. Kematian Evan diduga berhubungan juga dengan MOS.

Menurut ayah dari M Arif Husen, Dodi Kuswanto, anaknya mengeluh sakit sebelum meninggal. Di dada korban ada memar. Menurut korban, sejumlah pelajar lain di SMPN 11 Bintan memukul dan menendangnya. Namun, korban tidak menyebut pelakunya.

Para psikolog berpendapat, perploncoan yang buruk pada anak dan remaja dapat menimbulkan trauma kejiwaan. Anak dapat merasa cemas, takut, tidak percaya diri, dan depresi. Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, yang juga psikologi anak, menuturkan, korban perploncoan yang turut menjadi pelaku kekerasan terjadi karena secara kejiwaan, korban tidak dapat memaafkan masa lalunya. Mereka rentan melakukan kekerasan serupa kepada keluarga atau teman.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad menegaskan, pemerintah melarang perploncoan. Larangan itu dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 Tahun 2014 tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah.

Again, the Police Investigate MOS

Kompas, page 13

Bintan Police Investigators in Riau Islands investigated the death of M Arif Husein. The student of SMPN 11 Bintan allegedly died, Sunday (2/8), due to harassment. Alleged harassment occurred when Arif took part in the student orientation period (MOS) activities. Earlier, in Bekasi, West Java, the police investigated the death of Evan C Situmorang (12), student of SMP Flora. Evan’s death was allegedly related to MOS.

According to M Arif Husen’s father, Dodi Kuswanto, his son complained of pain before he died. The victim’s chest was bruised. According to the victim, a number of other students in SMPN 11 Bintan hit and kicked him.   However, the victim did not mention the culprits.

Psychologists argue, severe hazing on children and adolescents could cause psychological trauma. Children could feel anxious, afraid, insecure, and depression. Chairman of the Board of Child Protection National Commission Seto Mulyadi, who is also a child psychologist, said victims of hazing who also become perpetrators of violence occur because psychologically, victims could not forgive their past. They are prone to conduct similar violence towards family or friends.

Meanwhile, Director General of Basic and Secondary Education Ministry of Education and Culture Hamid Muhammad asserted the government prohibits hazing. This prohibition is declared in the Minister of Education and Culture Regulation Number 55 Year 2014 on New Student Orientation Period in Schools.

kom_lagi polisi selidiki MOS

16 Ribu Pekerja Anak Akan Dikembalikan ke Sekolah

Indopos, halaman 3

Sedikitnya 16 ribu pekerja anak akan ditarik oleh Kementerian Tenaga Kerja (Kemanker). Ini adalah salah satu program Kemenaker tahun 2015 dalam rangka pengurangan pekerja anak dan membebaskan anak dari eksploitasi dari sisi ekonomi.

Menteri Tenaga Kerja M Hanif Dhakiri, kemarin (31/7) menyerahkan paket peralatan sekolah dan uang saku kepada 1.350 pekerja anak dalam rangka mendukung program Perlindungan pekerja anak (PPA) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang berasal dari 11 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

Target atau sasaran penarikan 16.000 pekerja anak tersebut tersebar di 24 propinsi dan 138 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Rincian pekrja yang mendapatkan bantuan adalah 53 anak SD, 349 anak SMP, 362 anak SMA, 122 anak Kerja Paket A, 255 anak Kejar Paket B, 136 anak Kejar Paket C, 16 anak pondok pesantren, 55 anak peserta keterampilan, dan 2 orang yang belum terfasilitasi.

Hanif mengungkapkan, sedikitnya sebanyak 64,055 anak telah dikembalikan ke satuan pendidikan sejak tahun 2008. Sebelum pekerja anak tersebut ditarik, terlebih dahulu ditempatkan sementara di rumah (shelter) untuk mendapatkan pendampingan khusus dan masa pembinaan.

Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 1,7 juta pekerja anak di Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat 400.000 orang pekerja anak yang terpaksa bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan yang terburuk dan berbahaya, seperti perbudakan, pelacuran, pornografi dan perjudian, pelibatan pada narkoba, dan pekerjaan berbahaya lainnya.

16 Thousand Child Workers to be Sent Back to Schools

Indopos, page 3

At least 16 thousand child workers will be withdrawn from their employments by the Manpower Ministry. It is one of the ministry’s programs in 2015 to reduce the child labor incidence and to free children from various forms of economic exploitation.

Manpower Minister Hanif Dhakiri on yesterday (7/31) delivered stationaries and pocket money to 1,350 child workers from 11 regencies and cities in Central Java Province in order to support the Child Labor Protection Program (PPA) and the Hopeful Family Program (PKSH).

The details of child workers who received the assistance are 53 elementary school students, 349 junior high school students, 362 senior high school students, 122 Package A Learning Group students, 255 Package B Learning Group students, 55 skill training participants and 2 children who are not facilitated   yet. Overall, the 16,000 child worker withdrawals will be carried out in 24 provinces and 138 regencies/cities across Indonesia.

Hanif asserted at least 64,055 students had been sent back to schools since 2008. Prior to the withdrawal, the child workers were accommodated in shelters to get special mentoring and self-development.

Nowadays, it is estimated that there are 1.7 million child workers across Indonesia. Out of the total number, around 400,000 child workers are forced to work in the worst and most dangerous forms of employment such as slavery, prostitute, pornography and gambling, involvement in drugs and narcotics and other worst forms of employment.

IP_16 Ribu Pekerja Anak Akan Dikembalikan ke Sekolah

Kekurangan Tempat, 80 Murid TK di Sekolah Master Belajar di Masjid

http://www.kompas.com

Pihak Sekolah Master, Depok, Jawa Barat, kekurangan tempat untuk menampung anak-anak jalanan yang ingin belajar di sana. Sebanyak 80 murid tingkat TK di Sekolah Master sendiri tidak punya tempat di ruangan yang disediakan sehingga harus menempati halaman masjid di dekat sekolah sebagai tempat belajar. Staf Lembaga Yayasan Bina Insan Mandiri atau Sekolah Master Indonesia, Mustomi mengatakan belum ada pengganti kelas-kelas itu dan anak-anak pun belum bisa belajar dengan nyaman.

Tempat yang disediakan oleh Sekolah Master saat ini diakui masih terbatas. Meski ada donatur yang membantu dana untuk operasional sekolah, itu belum bisa digunakan secara maksimal untuk kegiatan belajar mengajar murid yang berjumlah 2.000 orang lebih.

Sekolah yang dibangun dari tahun 2000 itu pun terancam kehilangan tempat lagi karena Pemerintah Kota Depok sudah ada rencana akan menggusur sebagian lahan milik Sekolah Master. Lahan yang digusur akan dibuat menjadi Terminal Terpadu Depok, apartemen, mal, dan bangunan lainnya yang bersifat komersial.

Menghadapi kondisi seperti itu, Mustomi meminta bantuan pihak-pihak terkait agar Sekolah Master tetap bisa beroperasi. Setiap tahun, pertumbuhan anak-anak jalanan yang belajar di Sekolah Master pun cukup signifikan, mencapai 50 persen dari pertumbuhan peserta didik pada tahun-tahun sebelumnya.

80 Master School’s Kindergarten Students Have Classes at Mosque Complex due to Inadequate Space

http://www.kompas.com

Master School in Depok, West Java lacks space to accommodate street children who want to study at the school. 80 kindergarten students at the school cannot be accommodated by the existing number of rooms so that they must have classes in a mosque’s yard closed to their school. The Bina Insan Mandiri Foundation -well known as Indonesia Master School- staff Mustomi said there was insufficient number of classrooms and the students could not have comfortable learning activities yet.

Currently, the space managed by Master School is still limited. Although a number of donors already support the school operational fund, it is not sufficient yet to finance the learning activities of more than 2,000 students.

The school which was built in 2000 is also in a risk to be displaced since the Depok City Government plans to use some parts of the Master School area. The land will be commercially used to be the integrated Depok bus station, apartment, shopping mall and other types of building.

To deal with the situation, Mustomi requested key stakeholders’ support to sustain the school operation. Each year, the growth number of street children who study at Master School is very significant which reaches 50 percent of the number of students in the former years.

Link: http://megapolitan.kompas.com/read/2015/07/30/22170081/Kekurangan.Tempat.80.Murid.TK.di.Sekolah.Master.Belajar.secara.Ngemper.di.Masjid

kompasCom_Kekurangan Tempat 80 Murid TK di Sekolah Master Belajar di Masjid

Peserta LKIR LIPI Meningkat

Jawa Pos, halaman 32

Antusiasme peserta lomba karya ilmiah remaja (LKIR) yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus meningkat. Pada 2015, jumlah proposal mencapai 2.041, naik dari tahun 2014 yang mencapai 1.431 dan tahun 2013 yang mencapai 1.375 proposal.

Ketua Dewan Juri LKIR LIPI Trilaksana Tri Handoko menjelaskan, diantara 2.041 proposal, ada 60 yang tersaring untuk bimbingan secara intensif. Peserta yang lolos mengikuti final pada 25-27 Agustus. Peningkatan jumlah peserta tersebut cukup bagus. Ide-idenya juga lebih liar, orisinal, inovatif, dan kreatif.

Namun, meski ide inovatif dari para siswa banyak, belum banyak karya ilmiah yang muncul dalam kategori maritim. Sekretaris Utama LIPI Siti Nurmaliyati Prijono menuturkan, kebumian dan kemaritiman merupakan kategori baru yang dilombakan. Keduanya melengkapi kategori yang sudah ada seperti IPA, ilmu pengetahuan hayati, dan sosial kemanusiaan.

Diantara 25 proposal yang terseleksi, hanya ada lima proposal kategori kebumian dan kemaritiman. Satu diantaranya membahas kemaritiman. Oleh karena itu, sebagai negara maritim, Indonesia harus memperkuat kepedulian terhadap perairan dan menumbuhkan kecintaan sekaligus memahami apa yang ada dalam isi laut.

Tahun ini, LKIR LIPI didukung British Council yang mengucurkan dana untuk pengembangan penelitian di 15 negara, termasuk Indonesia. Theresia Birks, director education and society Britih Council, mengatakan, pihaknya mendukung penembangan pengetahuan di Indonesia. Indonesia mendapat kucuran dana 2 juta poundsterling per tahun. Sebanyak 900 poundsterling dikelola British Council. Salah satu programnya adalah mendukung kolaborasi dan peningkatan sains, teknologi, dan matematika.