British Council Adakan Pelatihan untuk Guru agar Generasi Muda Lebih Kompetitif

www.jakartaglobe.id

The British Council Indonesia dan HSBC, Kamis (12/1), meluncurkan program pengembangan kapasitas bagi para kepala sekolah, guru, dan siswa untuk tingkat SMA dan SMK. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kompetensi generasi muda.

Program yang  bertajuk “Pendidikan Global: Membangun Generasi Muda Cerdas dan Berkarakter” ini akan digelar pada Sabtu ini hingga November 2017. Program tersebut didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan melibatkan kerjasama enam sekolah mitra dari Jakarta dan enam sekolah mitra dari Bandung, Jawa Barat.

Direktur British Council di Indonesia, Paul Smith, mengatakan, program tersebut sangat penting untuk Indonesia, karena memungkinkan generasi muda yang profesional dan berwawasan internasional untuk mempelajari keahlian dan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan guna meniti dan memulai karir mereka.

Smith yakin bahwa hal ini akan membuat generasi muda Indonesia menjadi lebih kompetitif di kawasan Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan mempersiapkan mereka untuk mampu bersaing di tingkat global, dengan melengkapai mereka dengan keahlian abad-21.

Program pelatihan tersebut akan meliputi keahlian pengetahuan penggunaan media digital, berpikir kritis, tanggung jawab social dan kepemipinan – yang ditujukan baik untuk guru maupun siswa – ditargetkan sebanyak 1.800 guru dapat mengikuti pelatihan hingga berakhirnya program tersebut.

Kemendikbud sangat mendukung program pelatihan terasebut karena sejalan dengan strategi pembangunan pendidikan nasional, yang mencakup penguatan pelaku pendidikan, peningkatan akses dan kualitas keterampilan, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengembangkan ekosistem pendidikan.

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta, mengatakan, belajar bahasa baru sangat penting dalam mengajarkan generasi muda untuk menghormati budaya lain dan membantu mereka menjadi lebih berpikiran terbuka. Selain itu, ia juga yakin akan pentingnya bagi siswa untuk mengasah sebanyak mungkin keahlian yang mereka miliki karena hal itu akan membuat mereka siap apabila ada tren perubahan dunia kerja.

British Council to Train Teachers to Make Indonesia’s Youth More Competitive

www.jakartaglobe.id

The British Council Indonesia and lender HSBC launched a capacity-building program for vocational school and high school students, teachers and principals on Thursday (12/01) aimed at raising the bar for the country’s workforce.

The program titled “Global Education: Building an Intelligent Young Generation With Character” will be launched on Saturday and is set to run until November. It is supported by the Ministry of Education and Culture and involves the collaboration of six schools in Jakarta and six in Bandung, West Java.

Paul Smith, Indonesia director of the British Council said the program is absolutely critical for this country, which is about enabling young people with professional and international aspirations to learn the skills and get the knowledge they need to navigate and start their careers.

Smith believes this will make Indonesia’s young workforce more competitive in the Asean Economic Community and also prepare them for competition on a global level by equipping them with 21st century skills.

This includes skills such as digital literacy, critical thinking, social responsibility and leadership – intended for both educators and students – with a target to train 1,800 teachers by the end of the program.

The ministry strongly favors the program as it is in line with the national educational development strategy, which includes strengthening education actors, improving access to and quality of skills, and raising public participation to improve the educational ecosystem.

Ananto Kusuma Seta, a senior advisor for innovation and competitiveness at the ministry, said that learning new languages is important as it will teach young people to respect other cultures and help them become more open-minded.  He also believes that it is important for students to hone as many skills as they can as it would allow them to prepare for changing job trends.

link: http://jakartaglobe.id/news/british-council-to-train-teachers-to-make-indonesias-youth-more-competitive/

jakartaglobe_british-council-to-train-teachers-to-make-indonesias-youth-more-competitive

Peraih Nobel Ekonomi: Pendidikan Merupakan Kunci Keberhasilan dalam Persaingan Global

The Jakarta Post, halaman 10

Tenaga kerja Indonesia harus meningkatkan kemampuan mereka agar dapat bersaing dengan para pekerja asing di era globalisasi saati ini, hal ini di peringatkan oleh salah satu pemenang Nobel di bidang ekonomi.

Pasalnya perusahaan Internasional hanya tertarik dengan para pekerja terampil sementara para pekerja yang kurang terampil akan sulit dalam bersaing nantinya, hal tersebut dikatakan oleh peraih Nobel tahun 2007 Eric Stark Maskin pada hari Minggu (15/1) di Universitas Surabaya (Ubaya), Jawa Timur.

Maskin mengikuti rangkaian kegiatan ASEAN “Bridges Dialogues Towards a Culture of Peace” yang diselenggarakan oleh International Peace Foundation (IPF) dengan mendatangkan para pemenang nobel ke beberapa kota di Indonesia dari bulan Januari sampai Maret.

Perusahaan internasional pada pasar globalisasi tidak akan memperkerjakan para pekerja yang tidak memiliki keterampilan, mereka hanya akan tertarik kepada tenaga kerja yang mampu menawarkan keterampila yang mumpuni, mengutip perkataan Maskin pada saat memberikan kuliah umum dengan tema “Why Global markets have failed to reduce inequality”.

Profesor asal Massachusetts Institute of Technology mengatakan para pekerja terampil akan mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dan akan meninggalkan jauh kebelakang para pekerja yang tidak memiliki keterampilan. Untuk menyikapi ketidaksetaraan pada pasar globalisasi, Maskin mengusulkan, untuk menyediakan pendidikan khusus untuk para pekerja yang tidak memiliki keterampilan.

Lebih lanjut Maskin menambahkan bahwa harus ada kesadaran dan komitmen pemerintah, pengusaha, tokoh masyarakat dan semua pihak secara kolektif untuk aktif dalam budidaya perdamaian dunia melalui kegiatan ekonomi positif dan tidak mementingkan diri sendiri.

Meskti Maskin tidak mengomentari apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia selama ini dalam mendidik para pemuda yang akan segera memasuki pasar tenaga kerja. Namun, upaya pemerintah dengan memberikan subsidi tunai patutut diapresiasikan. Ia mengatakan para keluarga kurang mampu dapat menggunakan subsidi tunai untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah agar bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan dikemudian hari anak-anak tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja yang terampil.

Persaingan lainnya yang harus diantisipasi, dikatakan oleh Maskin, adalah persaingan antara manusia dengan teknologi. Ia mengatakan bahwa kita tidak tahu persis apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang namun yang dapat dipastikan ialah teknolgi sedang dalam proses untuk menghilangkan para tenaga kerja tidak terampil. Maka dari itu hal tersebut sangatlah penting untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki beberapa keterampilan sehingga mereka tidak menjadi tawanan dari teknologi.

Maskin: Education Key to Success in Global Competition

The Jakarta Post, page 10

Indonesian workers have to improve their skills to be able to compete with workers from other countries in the current globalization era, a Nobel laureate has warned.

International companies are only interested in accommodating skilled workers while unskilled ones will have little place, 2007 Nobel laureate for economics Eric Stark Maskin said on Sunday at Surabaya University (Ubaya) in East Java.

Maskin kicked off the ASEAN series “Bridges – Dialogues Towards a Culture of Peace” by the Vienna-based International Peace Foundation (IPF) presenting lectures by Nobel laureates in several Indonesia cities between January and March.

International companies in global markets will not employ unskilled workers. They are interested only in people who can offer additional skills, he said in his lectures taking the theme “Why Global markets have failed to reduce inequality”.

The professor from the Massachusetts Institute of Technology said skilled workers would earn higher incomes and leave the unskilled behind. Inequality in global markets could be alleviated by providing jobs and education for unskilled people, Maskin proposed.

He added that there should be a collective awareness among government, employers, community leaders and other stakeholders to achieve world peace through positive economic activities, which are unselfish.

Maskin would not comment on what the Indonesian government had done so far in educating the youth who will soon enter the labor market. But the government’s efforts by providing cash subsidies are achievable. He said poor families can use cash subsidies to send their children to school to get a better education and then these children would meet the need for skilled workers.

Another trend which Maskin said should be anticipated was the competition between humans and technology. He said we do not know exactly what is in the future but certainly machines are in the process of eliminating unskilled labor. Then it becomes more important to make sure that everybody has some skills so they don’t become captive to machines.

the-jakarta-post_maskin-education-key-to-success-in-global-competition

Pelarangan Iklan Rokok di Televisi dan Radio di Rancang

The Jakarta Post, halaman 3, Sabtu, 14 Januari

Kemungkinan diterapkannya pelarangan iklan rokok di radio dan TV di seluruh Indonesia dengan tujuan untuk mengendalikan konsumsi tembakau di Tanah Air telah membuat gelisah para produsen rokok dan stasiun TV. Karena, peraturan baru itu akan sangat berpengaruh terhadap bisnis mereka.

Peraturan pelarangan tersebut telah ditetapkan dalam draft RUU penyiaran terbaru pada Desember 2016. Dalam RUU itu disebutkan bahwa iklan TV dilarang mempromosikan alkohol, rokok dan bahan adiktif lainnya. RUU tersebut merupakan revisi dari UU No. 21/2002 tentang Penyiaran.

Anggota Komnas Pengendalian Tembakau (Komnas PT) Bidang Hukum dan Advokasi , Muhamad Joni, mengatakan, jika pelarangan iklan tersebut terealisasi, maka akan menjadi perang terbesar antara industri rokok dengan para penggiat pengendalian tembakau. Joni mengungkapkan, menurut World Health Organization (WHO) penyakit yang berhubungan dengan rokok telah membunuh sekitar 200.000 orang Indonesia tiap tahunnya. Iklan rokok di TV, yang dipromosikan industri rokok, menghabiskan belanja iklan lebih besar dibanding produk lainnya. Hal tersebut, lanjut Joni, menyebabkan sebanyak 20,3 persen remaja usia 13 hingga 15 tahun menjadi seorang perokok.

Pada 2007, sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) dan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), misalnya, menunjukan bahwa sebanyak 46,3 persen remaja di Indonesia mulai merokok karena tertarik dengan iklan rokok, dengan 50 persen dari mereka merasa bahwa iklan rokok tersebut menggambarkan sosok mereka. Mengapa ada iklan rokok? Imbuh Joni, karena Industri rokok ingin mencari perokok potensial. Para perokok yang berhenti harus digantikan. Anak-anak dan remaja merupakan pasar baru bagi mereka, karena nantinya mereka akan menjadi perokok setia.

Banyak negara-negara lain di dunia telah menyadari akan bahaya rokok yang dapat ditimbulkan kepada generasi muda mereka. Sehingga, mereka melakukan sejumlah langkah ketat dalam pengendalian tembakau, seperti pelarangan total terhadap iklan dan sponsor dari produk rokok. Menurut laporan WHO pada tahun 2013, sebanyak 144 negara telah memberlakukan pelarangan total terhadap iklan rokok.

Diantara negara-negara ASEAN, Indonesia adalah satu-satunya negara yang masih mengizinkan tayangan iklan rokok, meski jam tayang iklannya  dibatasi dari jam 21:30 hinga 05:00. Namun, pembatasan jam tayang ini tidak efektif, karena berdasarkan sebuah survei cepat pada 2012 yang dilakukan Komnas PA di 10 kota di Indonesia menunjukan bahwa sebanyak 92 persen remaja berusia antara 13 dan 15 tahun terpapar iklan rokok di televisi.

Adanya kemungkinan pelarangan iklan rokok di televisi telah membuat sejumlah stasiun TV ketar-ketir. Syafril Nasution, Direktur Humas MNC Group, yang memiliki beberapa stasiun TV, mengatakan, pelarangan penuh iklan rokok nantinya akan berpengaruh terhadap industri penyiaran, karena iklan rokok adalah salah satu penyumbang terbesar bagi pendapatan perusahaan. Syafril mengatakan, pelarangan tersebut terntu akan memiliki dampak tidak hanya bagi industri penyiaran, namun juga pada pabrik-pabrik rokok dan yang terkait dengannya. Ada baiknya untuk menangkal iklan rokok di televisi dengan tayangan kampanye kesehatan.

Mengomentari hal ini, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan, stasiun televisi tidak perlu khawatir dengan dampak dari pelarangan penuh iklan rokok tersebut. Sebab, tayangan produk lainnya seperti iklan ponsel, mobil, dan bank mulai menggantikan iklan rokok di TV .

Total Ban Looms for Cigarette Advertisements on TV, Radio

The Jakarta Post, page 3, Saturday, January 14

The possible total banning of cigarette advertisements from TV and radio nationally, aimed at controlling tobacco consumption in Indonesia, has sent jitters through tobacco producers and TV stations, as the new law could heavily affect their businesses.

The total ban is stipulated in the latest draft of the broadcasting bill, dated December 2016, saying that broadcast advertisements are forbidden from promoting alcohol, cigarette and other addictive material. The bill is revision of Law No. 32/2002 on broadcasting.

National Commission on Tobacco Control (Komnas PT) law and advocate department member Muhammad Joni said this is the greatest war between the tobacco industry and tobacco control proponents, whether tobacco ads should be banned. Annually, according to the World Health Organization (WHO) smoking-related illnesses kill about 200,000 Indonesians. Tobacco ads, which the tobacco industry had spent more on than any other product in TV advertising, has resulted in 20.3 percent of teenagers aged 13 to 15 becoming smokers, Joni said.

A 2007 study by Muhammadiyah University Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) and the National Commission on Child Protection (Komnas PA), for instance, showed 46.3 percent of teenagers in Indonesia started smoking because of cigarette ads, with 50 percent of them feeling that their images were portrayed in the ads. Joni said why are there cigarette ads? Because the tobacco industry wants to find potential smokers. Smokers who are quitting have to be replaced. Kids and teens are new markets for them because they will become loyal smokers.

Many other countries in the world have realized the dangers smoking poses on their younger generations, and thus have introduced strict tobacco control measures, such as total ban on cigarette ads and sponsorships. According to WHO report in 2013, 144 countries had imposed total bans on cigarette ads.

Among ASEAN countries, Indonesia is the only country that still allows cigarette ads, which are restricted from 9:30 p.m. until 5 a.m. the restriction has proven to be ineffective, as a quick survey in 10 cities by Komnas PA in 2012 showed that 92 percent of teenagers aged between 13 and 15 were exposed to cigarette ads on TV.

The possibility of total ban on cigarette ads has made TV stations nervous. Syafril Nasution, corporate affair director at MNC group, which has several TV stations, said a total ban would affect the broadcasting industry was among the biggest spenders in advertising. Syafril said that will be an impact. But we can’t just see impact on TV, but also on the tobacco factories and so on. It was better to counter tobacco ads on TV with health campaigns.

Commenting on this, YLKI (Indonesian Consumer Foundation) chariman, Tulus Abadi said TV stations should not worry about the impact of total ban. He said other products have started replacing tobacco ads, such as cell phones, cars, and banks.

the-jakarta-post_total-ban-loom-for-cigarette-advertisements-on-tv-radio

Pelajar Jakarta Tak Lagi Anggap Tawuran Keren

The Jakarta Post, halaman 1

Begitu memasuki lorong dari SMA Negeri 70 Jakarta, staf dan siswa sekolah itu diingatkan kembali akan janji perdamaian yang dibuat baik antar sekolah lain maupun dengan sekolah yang menjadi tetangganya, yaitu SMA 6 Jakarta.

SMA Negeri 70 dan SMA Negeri 6 yang berada di wilayah yang berdekatan, terkenal selalu berseteru di masa lalu, hingga mengakibatkan kematian salah satu siswa dari SMA 6 Jakarta. Dengan kejadian itu, maka dibuatlah perjanjian perdamaian yang dipajang di dinding pintu masuk sekolah dalam bentuk poster yang bertuliskan “Dilarang Melakukan Tindakan Kekerasan seperti Bullying dan Tawuran”. Kalimat tersebut merupakan isi perjanjian pertama dari 6 janji yang dibuat pada bulan Oktober 2012 silam dan ditandatangani oleh kepala sekolah, ketua OSIS, pejabat walikota Jakarta Selatan, termasuk wakil walikota.

Unro, yang telah mengajar selama 16 tahun di SMA 70, mengatakan, insiden fatal yang pernah terjadi merupakan sebuah pengingat untuk semua orang, baik staf sekolah maupun siswa, bahwa perkelahian hanya membuang waktu saja dan menimbulkan korban. Hal ini juga membuka mata semua orang.

Bentrokan yang pernah terjadi di antara kedua sekolah tersebut menempati posisi paling tinggi pada “era tawuran”. Menurut data yang didapatkan oleh tim Jakarta Post dari Kepolisian Metro DKI Jakarta, sebanyak 42 tawuran, pada tahun 2012, 31 diantaranya berlangsung di Jakarta Selatan. Pemerintah Kota DKI Jakarta setiap tahunnya secara konsisten mencatat tingginya kasus tawuran yang terjadi antara tahun 2007 hingga 2016. Dari total 181 kasus tawuran yang terjadi selama satu dekade, 108 tawuran tersebut terjadi di Jakarta Selatan. Namun, terjadi perubahan 180 derajat, pemerintah kota mencatat nol kasus tawuran yang terjadi pada tahun 2016 di daerah Jakarta Selatan.

Di masa lalu, para siswa SMA di ibukota percaya bahwa mereka akan terlihat keren jika mereka terlibat dalam tawuran antar siswa dari sekolah lain. Dalam beberapa kasus, para siswa bahkan membawa senjata tajam yang dapat menyebabkan kematian seperti parang, pedang samurai, batu dan tongkat. Menyusul kejadian tawuran paling fatal pada tahun 2012, namun jumlah tersebut turun secara signifikan pada tahun 2013, dengan hanya 10 insiden yang terjadi di Jakarta. Jumlah yang sama juga dilaporkan pada tahun berkutnya, sebelum turun hanya satu kasus yang terjadi di tahun 2015. Tahun lalu, jumlahnya meningkat menjadi dua kasus dan keduanya terjadi di daerah Jakarta Timur.

Adiska Nur Safira, 17 tahun, siswa kelas 12 di SMA 70, mengatakan bahwa tawuran hampir sepenuhnya tidak disukai di sekolah, ditambah lagi pemerintah telah mulai menerapkan kebijakan dan pengawasan yang ketat. Selain itu, lanjutnya, para siswa telah memilih untuk menjadi lebih disiplin, karena setiap pelanggaran yang pada kebijakan sekolah akan mendapatkan hukuman, hingga dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, tawuran sudah dianggap sebagai tindakan yang kampungan. Para siswa lebih memilih untuk berkonsentrasi pada kegiatan dan prestasi sekolah serta menyalurkan waktu luang dan energi mereka ke dalam hobi yang mereka sukai.