Mahasiswa Papua di Malang Minta Perlindungan

http://www.tempo.co

Puluhan pelajar dan mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMP) berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, Rabu, 27 Juli 2016. Mereka menuntut perlindungan dan perlakuan yang manusiawi menyusul adanya intimidasi yang mereka terima dalam sebulan terakhir ini.

Koordinator aksi unjuk rasa, Anton Nawipa, mengatakan, selama 36 tahun mahasiswa asal Papua belajar di Malang, mereka hidup berdampingan bersama warga dengan nyaman dan damai. Namun, belakangan ini, bermunculan spanduk dari organisasi tertentu yang menuding pelajar dan mahasiswa Papua tersebut akan melakukan makar. Bahkan organisasi itu tak segan-segan mengancam akan mengusir pelajar Papua.

Anton mengatakan, mereka merasa tertekan di lingkungannya, baik di tempat kos maupun di kampus. Dia mengaku sering dicurigai terlibat dalam organisasi mahasiswa yang akan melakukan makar. Mereka juga mendapat perlakuan rasial dan diskriminasi. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang turut membantu menjaga stabilitas di Kota Malang.

Menurut Anton, selama ini warga Malang menerima pelajar dan mahasiswa Papua yang menuntut ilmu di kota tersebut. Bahkan pelajar Papua berbaur dan berinteraksi dengan warga Malang. Anton mengatakan, mereka datang kesini hanya untuk menuntut ilmu di sini. Mereka pun merasa sudah menjadi bagian dari warga Malang.

Aksi ini sekaligus mengklarifikasi kabar tudingan separatis dan akan melakukan makar. Dalam aksinya, para pelajar dan mahasiswa Papua mengusung poster dan spanduk bertuliskan, “Maaf kami bukan separatis”, “Menolak rasis”, juga “Aksi solidaritas anti-diskriminasi dan rasis”.

Papuan Students in Malang Ask for Protection from Intimidation

http://www.tempo.co

Dozens of members of Papuan Student Association (IPMP) staged a rally in front of Malang City Hall, Wednesday, July 27, 2016. They demanded protection and more humane treatment following intimidation directed at them in the past month.

“After 36 years studying in Malang, we have been living peacefully with Malang residents. Pleasant and peaceful,” said the coordinator of the rally, Anton Nawipa. However, they have seen banners displayed of late by certain organizations accusing Papuan students of plotting a coup. The organization even had no hesitation in threatening to banish them.

Coordinator of the rally, Anton Nawipa said, the Papuan students have been left distressed from the dorms, to the campus. He claimed that he often been accused of being involved in a student organization plotting a coup. He had also been subject to racial discrimination. Therefore, he had asked Malang administration and city council to help maintain stability in Malang.

According to him, Malang residents have been welcome to Papuan students studying in Malang. In fact, they have been mingling and interacting with local residents. Anton said the students only came here to study and they are  part of Malang residents.

The rally was also staged to clarify and played down separatism and coup allegations. In the rally they hold posters and banners bearing the words: “Maaf kami bukan separatis” (Sorry, we are not separatists), “Menolak rasis” (Against racism), “Aksi solidaritas anti diskriminasi dan rasis,” (Solidarity action against discrimination and racism).

Link: http://en.tempo.co/read/news/2016/07/28/055791230/Papuan-Students-in-Malang-Ask-for-Protection-from-Intimidation

tempoco_papuan students in malang ask for protectionfrom intimidation

Tradisi Titipan Pejabat Harus Dihentikan

Republika, halaman 5

Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menyatakan, penyimpangan saat sebelum maupun sesudah Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) harus dihindari. Hal ini termasuk fenomena siswa titipan pejabat.

Pelaksana Tugas Ketua Umum (Plt Ketum) PB PGRI, Unifah Rasidi mengatakan, tradisi menitipkan anak-anak pejabat yang tidak memenuhi syarat harus dihentikan, karena hal ini akan mengambil kesempatan bagi anak lain yang memenuhi syarat.

Menurut Unifah, kondisi ini tentu menjadi contoh tidak baik bagi anak itu sendiri maupun bagi masyarakat. Pada aspek peserta didik, fenomena ini jelas dapat mengganggu, bahkan merusak rasa percaya diri mereka. Apalagi saat ini mereka tengah bekerja keras mengejar mimpi mendapatkan akses pendidikan terbaik bagi masa depannya.

Sampai saat ini, Unifah tidak mengetahui benar apakah fenomena ini terjadi secara merata atau tidak. Namun dia selalu memperoleh cerita terkait dengan fenomena titip menitip ini. Bahkan, biasanya sekolah maupun kepala sekolah tidak berdaya menghadapi hal ini. Pemerintah sebenarnya sudah melarang segala penyimpangan selama PPDB, tapi impelementasinya belum baik secara keseluruhan.

Menurut Unifah, pengawasan dari masyarakat dengan keterbukaan sistem, pelan tapi pasti akan menggiring orang untuk bertindak hati-hati. Sebab, sanksi sosial akan jauh memberikan dampak daripada sekedar perintah larangan dari pemerintah. Untuk itu, dorongan keterbukaan sistem, trasnparansi, dan tanggung jawab harus diperkuat lagi.

‘Special Request Student’ Tradition Must be Terminated

Republika, page 5

The Executive Board of Indonesian Teachers Association (PB-PGRI) said that any deviation before and after new student registration/admissions (PPDB) process should be avoided. This includes the phenomenon of ‘special students’ entrusted by government officials.

Acting Chairman of PB PGRI, Unifah Rasidi said on Tuesday (26/7), placement practice of ineligible children entrusted by officials should be terminated, because it denies the opportunity for other qualified children to obtain school seats.

Unifah believes that such a situation has a negative impact on the children and society in general. From the aspect of students, this phenomenon can clearly disturb them, even undermine their confidence. Moreover, they are currently working hard to pursue their dreams of having access to the best possible education in the future.

Currently, Unifah does not really know how regularly this phenomenon occurs. However, she is always being told about this special request student phenomenon. Moreover, schools and principals seem powerless to stop the practice. Yet the government has already prohibited any deviation during the PPDB process, but overall implementation has not been of the highest quality.

Unifah went on to say that public supervision with an open system would lead people to act cautiously. Therefore, social sanctions could have more of an impact than any prohibition by trhe government. Hence, it should strengthen the system of openness, transparency, and accountability.

Republika_tradisi titipan pejabat harus dihentikan

Kebiasaan Mendongeng harus terus Dilestarikan di Tengah Kehidupan Modern

www.thejakartapost.com

Beberapa tahun yang lalu, mendengar cerita sebelum tidur adalah saat-saat yang ditunggu banyak anak dan merupakan kesempatan untuk bercengkrama dan membangun ikatan dengan orang tua mereka. Namun, kebiasaan tersebut secara perlahan mulai ditinggalkan dan digantikan dengan permainan elektronik dan aplikasi gadget yang membuat orang terasing dari orang-orang yang dicintainya.

Merasa prihatin dengan situasi seperti itu, Komunitas Ayo Dongeng Indonesia berjuang untuk menghidupkan dan melestarikan kembali kebiasaan mendongeng sebagai pengantar tidur, dengan melakukan kampanye guna mempromosikan akan arti pentingnya mendongeng.

M. Ariyo Faridh Zidni, pendiri komunitas itu mengatakan, pihaknya ingin agar orang tua mengetahui bahwa ada cara lain untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan anak-anak mereka dibanding hanya mengajak mereka pergi ke mal. Ariyo pertama kali tertarik dengan keindahan mendongeng ketika ia berusia 18 tahun dalam sebuah acara di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, yang diadakan atas permintaan dari seorang dosen di kampusnya.

Ario mengatakan, mendongeng merupakan hal yang menakjubkan. Mendongeng merupakan kegiatan yang sangat sederhana dan tidak butuh waktu lama, namun memiliki efek luar biasa bagi orang-orang yang mendengarkan ceritanya. Pada Desember 2011, atas permintaan beberapa orang murid mendongengnya, Ariyo mendirikan komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Komunitas itu saat ini memiliki 120 anggota aktif di wilayah Jabodetabek.

Dalam upaya mereka untuk mempromosikan pentingnya mendongeng, Ayo Dongeng Indonesia mengadakan acara mendongeng setidaknya sebulan sekali di tempat-tempat umum seperti Taman Suropati dan Taman Menteng, Jakarta Pusat, perpustakaan umum dan bahkan rumah sakit.
Dalam peringatan Hari Anak Nasional, Sabtu (23/7), masyarakat akan mengadakan pertunjukan dongeng di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Acara tersebut juga mencakup sebuah seminar tentang pengajaran kreatif dan diskusi bertajuk “Mendongeng itu Mudah.”

Ariyo meminta orang tua untuk menggunakan dongen sebaga sarana untuk mendidik dan mengembangkan komunikasi dengan anak-anak mereka. Melalui dongeng, orang tua akan terbiasa berbicara dan berbagi dengan anak-anak mereka, tidak hanya mengajari. Hal ini juga dapat membangun karakter anak-anak dan merangsang imajinasi mereka pada usia dini. Mendongeng juga berfungsi untuk membentuk kebiasaan membaca di kalangan anak-anak dan mempertajam keterampilan penguasaan bahasa mereka.

Seorang ibu bernama Sekarsari Utami, 28 tahun, telah lama menyadari besarnya manfaat mendongeng. Ia tetap memelihara kebiasaan mendongeng sebelum tidur untuk anaknya yang baru berumur 2 tahun. Ia mengatakan, mendongeng merupakan hal terbaik dan termudah untuk mengekspresikan dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

Dia sering membacakan cerita untuk anaknya dengan cerita-cerita yang memiliki pesan moral, terutama mengenai bagaimana ia harus memperlakukan orang lain. Cerita, lanjutnya, banyak memiliki keuntungan bagi perkembangan anak serta memperkaya kosakata anaknya.

Storytelling habit worth preserving amid modern life

http://www.thejakartapost.com

Years ago, hearing bedtime stories was the moment many children waited all day for, a chance to chat and bond with their parents. The habit, however, is slowly dying out, replaced by electronic games and gadget applications that alienate people from their loved ones.

Concerned about this situation, community Ayo Dongeng Indonesia is striving to revive and preserve the bedtime story habit, campaigning to promote the importance of storytelling.

M. Ariyo Faridh Zidni, founder of the community, said that his party wants parents to know that there are other ways to have fun and spend quality time with their children than just taking them to malls. Ariyo was first captivated by the beauty of storytelling at an event at Cipto Mangunkusumo Hospital in Central Jakarta when he was 18, which he held at the request of his university lecturer.

Ario said, storytelling is so amazing. It is so simple, and doesn’t take long, but has an amazing effect on those listening. In December 2011, at the request of some of his students of storytelling, Ariyo established Ayo Dongeng Indonesia. The community currently has 120 active members in Greater Jakarta.

In their attempts to promote the importance of storytelling, Ayo Dongeng Indonesia holds storytelling events at least once a month in public areas such as Suropati Park and Menteng Park in Central Jakarta, public libraries and even hospitals.

In celebration of Saturday’s National Children’s Day, the community will hold a pertunjukan dongeng (fairy tale show) at Taman Mini Indonesia Indah in East Jakarta. The event will include a workshop on creative teaching and a discussion entitled “Storytelling is easy.”

Ariyo called on parents to use storytelling to educate and develop communication with their children.
Through storytelling, parents will get used to speaking and sharing with their offspring, instead of lecturing them. It can also build children’s characters and stimulate their imagination at an early age. Storytelling also works to form reading habits among children and sharpen their language skills, he said.

Sekarsari Utami, a 28-year-old mother, has long realized the benefits of storytelling and rigorously maintains a habit of reading bedtime stories to her 2-year-old son. She said that storytelling was the best and easiest way to express and convey the values of life.
She often read her son stories that have moral messages, especially regarding how he should treat others. She further said that storytelling had many advantages for child development. It enriches her son’s vocabulary.

Link: http://www.thejakartapost.com/news/2016/07/23/storytelling-habit-worth-preserving-amid-modern-life.html

the jakarta post OL_Storytelling habit worth preserving amid modern life

Pelajar Indonesia Raih Kemenangan di Tiongkok

The Jakarta Post, halaman 3

Lima siswa SMA asal Indonesia berhasil meraih medali emas dan penghargaan di International Exhibition for Young Inventors di Harbin, Cina, yang diselenggarakan dari 15 hingga 20 Juli.

Sekretaris Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Nuramaliati Prijono, Kamis, mengatakan, para pelajar tersebut berada di bawah bimbingan LIPI dan telah menghasilkan tiga karya ilmiah.

Aan Aria Nanda dan Feriawan Tan yang berasal dari SMA di Tarakan, Kalimantan Utara, memenangkan medali emas untuk inovasi mereka berjudul Detector Box untuk CO dan CO2. Penemuan ini dapat mendeteksi karbon dioksida dan karbon monoksida yang beracun bagi manusia yang ada di lingkungan.

Sementara itu, Ryan Timothy Abisha dari Sampoerna Academy Jakarta berhasil meraih medali perak untuk inovasinya yang diberinama Smart Trash Bin, yang dapat membantu orang, terutama anak-anak, untuk mengkategorikan apakah sampah itu limbah organik, anorganik atau logam. Penemuan ini juga memenangkan penghargaan khusus dari Jepang dan Makau.