Inovasi Harus Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan

Koran Sindo, halaman 2

Pemerintah mendorong adanya inovasi dalam berbagai bidang kehidupan dunia. Hanya saja inovasi itu harus berbasis teknologi ramah lingkungan agar tidak terjadi kerusakan global di masa datang.  Indonesia sangat concern pada berbagai inovasi untuk mencapai kehidupan lebih baik. Hanya saja inovasi itu harus berbasis pada kesinambungan lingkungan hidup.

Hal itu diungkapkan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dalam acara pembukaan Tangsel Global Innovation Forum (TGIF) di Puspitek Serpong kemarin TGIF dihadiri 90 wali kota dari 47 negara yang tergabung dalam World Technopolish Association (WTA). Kota Tangsel yang masuk dalam keanggotaan WTA pada tahun 2014 lalu terpilih menjadi kota pertama di Indonesia yang dipercaya menjadi tuan rumah gelaran rutin organisasi yang berdiri sejak tahun 1998 di Korea Selatan itu.

Puan meminta negara-negara maju mengedepankan gotong-royong dalam membangun inovasi teknologi kreatif. Terutama teknologi yang ramah lingkungan. Dia mengingatkan, ke depan akan ada ancaman kelangkaan air bersih dan masalah udara. Dengan dasar itu, inovasi harus juga memperhatikan lingkungan.

Puan menuturkan, teknologi ramah lingkungan jangan sampai menjadi isu global yang hanya dimonopoli negara tertentu saja. Inovasi teknologi ramah lingkungan harus dijangkau peneliti Indonesia dengan biaya yang terjangkau. Sebab inovasi ramah lingkungan bisa mendukung pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia.

Sementara itu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir mengatakan, modal penting untuk membangun ekonomi Indonesia yang merata bisa dikejar melalui 60.000 technopark yang saat ini dibangun di beberapa daerah. Diharapkan, lanjut Nasir, inovasi kreatif akan menjadi penggerak ekonomi Indonesia, dan pihaknya akan terus mendorong langkah strategis tersebut.

Innovation Must Be Based on Eco-Friendly Technology

Koran Sindo, page 2

The government encourages innovation in every sector of life. However, such innovation must be based on eco-friendly technology to prevent global damage in the future. Indonesia is very concerned about various innovations to achieve a better life, but these innovations must also consider the sustainability of the environment.

This was revealed by Puan Maharani, Coordinating Ministry for Development of Humanity and Culture (PMK) at the opening of Tangsel Global Innovation Forum (TGIF) at Puspitek Serpong, yesterday. This event was attended by 90 mayors from 47 countries, member of the World Technopolish Association (WTA). Kota Tangsel became a member of WTA in 2014 and was selected to be the first city in Indonesia to host this organization’s periodic event. WTA was established in 1998 in South Korea.

Puan asked developed countries to prioritize cooperation in establishing creative technology innovation, especially eco-friendly technology. She warned that there is a future threat of clean water scarcity and clean air problems. In light of this, innovations must also pay attention to the environment.

Puan added that we cannot let eco-friendly technology become a global issue for certain countries only. Eco-friendly technology must be achieved by Indonesian researchers at affordable cost. Eco-friendly technology can support sustainable development in Indonesia.

Meanwhile, Minister of Research, Technology and Higher Education, M Nasir, said that the key asset to equally improve Indonesian economy can be realized through 60,000 technoparks that are currently being established in certain regions. This creative innovation is expected to become a driver for the Indonesian economy and his Ministry will continue to encourage this strategic step.

sindo_inovasi-harus-berbasis-teknologi-ramah-lingkungan

Menteri Puan Minta Inovasi PTN Disalurkan ke Industri

www.republika.co.id

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK) , Puan Maharani, mengatakan hasil penelitian inovasi harus lebih banyak diaplikasikan di sektor industri. Ia menyebut baru tiga persen hasil penelitian inovasi dari perguruan tinggi yang dimanfaatkan.

Puan, usai membuka Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek), Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (21/9), mengatakan, pihaknya menginstruksikan agar Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan lembaga terkait agar bisa menyalurkan hasil inovasi dengan kebutuhan industri.

Dengan demikian, lanjut Puan, ada lebih banyak hasil inovasi yang bisa diaplikasikan kepada masyarakat secara nyata. Selain penelitian dari perguruan tinggi, Puan juga meminta Kemenristekdikti membantu pendampingan potensi unggulan daerah.

Sementara itu, Menristekdikti , Muhammad Nasir, mengatakan saat ini ada delapan perguruan tinggi yang menjalin kerja sama secara tetap dengan dunia industri. Delapan universitas tersebut yakni UI, ITB, IPB, UGM, Universitas Airlangga, ITS, Universitas Brawijaya dan Universitas Diponegoro.

Untuk menguatkan sistem inovasi nasional, Nasir menuturkan, pihaknya berkewajiban mengintegrasikan sistem inovasi nasional dengan sistem ekonomi nasional, salah satu langkah yang sudah dilakukan adalah membangun technopark di seluruh wilayah Indonesia.

Sebelumnya, Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jumain Appe, mengatakan pemanfaatan hasil penelitian inovasi oleh industri masih minim. Hingga saat ini baru sekitar tiga persen hasil penelitian inovasi yang diaplikasikan di dunia industri.

Menurut Jumain, saat ini ada sekitar 900 hasil inovasi yang terdaftar di departemennya. Jumlah tersebut berasal dari puluhan ribu publikasi inovasi oleh dosen perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut, baru ada tiga persen yang diadaptasi oleh industry. Adapun industri yang telah mengaplikasikan penelitian inovasi adalah otomotif dan kesehatan. Ratusan penelitian lain, lanjut Jumain, kini sedang menanti untuk dapat diaplikasikan untuk industri.

Minister Puan Asking University Innovation Distributed to Industries

www.republika.co.id

Coordinating Minister for Human Development and Culture, Puan Maharani, said that results of innovative researches should be applied more in the industrial sector. She said that only 3 percent of innovative researches by higher education have been utilized.

After opening, Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) at the Center for Science, Technology and Technology (Puspitek), Serpong, South Tangerang, Wednesday (9/21), Puan said that she has instructed the Ministry of Research, Technology and Higher Education and related institutions to distribute their innovations to industrial life.

Thus, Puan added, there will be more innovations which can be implemented by the public. In addition to research in universities, Puan urged the Ministry to provide companionships for leading potentials in regions.

Meanwhile, Minister of Research, Technology, and Higher Education said that currently there eight universities which already have permanent cooperation with industries worlds. They are UI, ITB, IPB, UGM, Airlangga Universit, ITS, Brawijaya University and Diponegoro University.

In order to strengthen the national innovation system, Nasir said that the Ministry has required integration of national innovation system and national economic system. One of the actions is to build technopark across the Archipelago.

Previously, Director General of Innovation Strengthening of the Ministry of Research, Technology and Higher Education, Jumain Appe, said that the utilization of innovation research results by industries remains low. So far, only three percent of innovation research has been applied in the industrial world.

According to Jumain, currently, there are some 900 results of innovation researches registered in his department. They come from tens of thousands of innovation publications by lecturers. Of that number, only three percent has been adapted to industries. Among industries which have applied innovation research are automotive and health industries. Hundreds of other researchers, Amin added, are waiting for their application in industries.

link: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/09/21/odv2dp335-menteri-puan-minta-inovasi-ptn-disalurkan-ke-industri

rol_menteri-puan-minta-inovasi-ptn-disalurkan-ke-industri

Bangsacerdas.com Luncurkan Platform Belajar Gratis Berbasis Aplikasi Android

www.jakartaglobe.beritasatu.com

Bangsacerdas.com, sebuah penyedia platform belajar online, meluncurkan sebuah aplikasi berbasis Android untuk memperluas layanan dan memudahkan penggunanya untuk mengakses materi pendidikan menggunakan smartphone mereka. Platform ini dikembangkan berdasarkan gagasan untuk meningkatkan akses pendidikan dan menyediakan forum interaktif untuk para penggunanya sehingga dapat menjembatani komunikasi antara guru dan siswa.

CEO Bangsacerdas.com Jupiter Zhuo mengatakan bahwa baru-baru ini mereka juga meluncurkan sebuah channel untuk guru pada aplikasi dan website mereka untuk memberikan kesempatan bagi para guru yang ingin menjadi sukarelawan dan meng-upload materi pelajaran mereka sendiri.

Menurut dia, sejak pertama kali diluncurkan pada Januari tahun ini, lebih dari 5.000 orang telah mendaftar untuk menggunakan layanan tersebut. Melalui Platform ini, para pengguna dapat belajar Microsoft Office, bahasa Mandarin, pemrograman, pemasaran digital dan belajar IT dan perangkat lunak secara online melalui video. Platform ini juga memiliki forum diskusi dan obrolan secara online di mana pengguna dapat berbicara satu sama lainnya.

Jupiter mengatakan, untuk menjadi seorang guru dalam platform tersebut, pengguna harus mendaftar terlebih dahulu dengan mengisi data pribadi dan meng-upload materi pelajarannya. Materi pelajaran harus sesuai dengan kurikulum lokal, dan ditinjau secara ketat oleh tim Bangsacerdas.com yang terdiri dari insinyur dan mahasiswa tingkat PhD.

Bangsacerdas.com juga tengah mempersiapkan untuk meluncurkan platform belajar gratis versi iOS pada September dan berencana membuat sebuah kelas offline di Jakarta pada tahun depan, yang ditujukan untuk memberikan akses yang lebih luas bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses internet dan pendidikan. Perusahaan ini, lanjut Jupiter, mendapatkan keuntungan melalui iklan online dan kelas offline-nya.

Bangsacerdas.com Launches Android App for Free Courses

www.jakartaglobe.beritasatu.com

Bangsacerdas.com, an online open course platform, launched an Android-based app to expand its service and make it easier for users to access educational material using their smartphones. The platform was developed on the idea to improve education access, providing interactive user forums that can bridge communication between teachers and students.

Bangsacerdas.com chief executive Jupiter Zhuo said that they recently also launched a teachers channel on their app and website to give opportunity for teachers who want to volunteer and upload their own materials.

According to him, since it was first launched in January this year, more than 5,000 people have signed up to the service. The platform allows users to learn Microsoft Office, Mandarin language, programming, digital marketing and online IT & software courses using videos. It also features an online chat and discussion forum where users can talk to each other.

Jupiter said, to become a teacher, users need to register, fill up personal data and upload their material. He added that the course material is written in accordance with local curriculum, while also being reviewed strictly by their own team consisting of engineers and PhD students.

The company is preparing to launch an iOS version of their app in September and also plans to set up an offline class in Jakarta next year to give wider access for anyone who has limited access on internet and education. Jupiter said the company generates its profit through online ads and from its offline classes.

Link: http://jakartaglobe.beritasatu.com/business/bangsacerdas-com-launches-android-app-for-free-courses/

jakglobe_bangsacerdas

Indonesia Giat Perbaiki Akses Pendidikan Berkualitas

http://www.jakartaglobe.beritasatu.com

Para delegasi pada saat pembukaan GESS Indonesia, sebuah acara pendidikan dan konferensi terbesar di Asia Tenggara, Rabu (14/09), diberitahu bahwa memperbaiki akses pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu tantangan utama pemerintah Indonesia yang saat ini tengah giat dilakukan.

Ananto Kusuma, Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan, belum semua orang bisa mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama, terutama pada daerah terpencil di Tanah Air Sekarang ini, teknologi yang canggih bisa membuat sebuah perubahan sehingga siswa di daerah perbatasan bisa mendapatkan layanan pendidikan yang sama seperti yang ada di Pulau Jawa.

Ananto menyebut peran Sektor swasta turut membantu dalam menangani permasalahan ini, seperti inisiatif kemitraan dengan Google Educators dan British Council.

Dalam upacara pembukaan acara pendidikan yang berlangsung selama 3 hari tersebut, banyak berkumpul para tokoh kalangan pendidikan dan industri terkemuka untuk berbagi wawasan mereka tentang peluang dan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam sektor pendidikan. Antara lain, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat; Tazeen Fasih, ekonom senior di Education Global Practice World Bank; Dr Gatot Hari Priowirjanto, Direktur Southeast Asian Ministers of Education Secretariat (Seames); Syarika Bralini, Ketua Komite Inovasi Kebudayaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin); dan Peter Massey, Direktur Pengelola Tarsus untuk wilayah Asia Tenggara, perusahaan induk dari F&E Education, yang menyelenggarakan GESS Indonesia.

Lebih dari 4.000 profesional dalam bidang pendidikan diharapkan dapat mengunjungi acara selama tiga hari ke depan itu untuk belajar dari para ahli pendidikan lokal dan internasional, yang akan tampil lebih dari 120 sesi, lokakarya dan presentasi yang meliputi berbagai topik dan tema yang dirancang guna meningkatkan kualitas belajar mengajar di Tanah Air.

Menurut Ananto, Indonesia telah membuat langkah besar dalam mengembangkan sektor pendidikannya. Karena, ketika Indonesia merdeka pada 1945, sekitar 95 persen penduduk Indonesia masih buta huruf. Sementara , kini tinggal 3,6 persen masyarakat Indonesia yang buta aksara.

Project Direkur F&E Education Matt Thompson mengatakan, mereka senang menjadi mitra guna membantu para pemangku kepentingan di bidang pendidikan mencapai tonggak baru dengan menyediakan platform untuk bertukar ide dan praktik terbaik yang akan mendorong sektor pendidikan ke tingkat yang lebih baik, karena Indonesia terus menunjukan kemajuannya dalam mengembangkan sektor pendidikannya. Ia menambahkan, selama konferensi berlangsung, lebih dari 100 perusahaan yang mewakili lebih dari 20 negara akan menampilkan produk terbaru dan solusi terbaik guna meningkatkan pengalaman belajar mengajar di sekolah-sekolah di seluruh pelosok Tanah Air.