OECD: Mutu Guru Masih Tertinggal

The Jakarta Post, halaman 4

Sebuah kajian mengungkapkan, kemampuan siswa Indonesia saat ini masih berada di bawah rekan-rekan mereka dari negara-negara lain karena guru yang mengajar tidak dilengkapi dengan keterampilan untuk membantu para siswa untuk berkembang.

Dalam sebuah ulasan baru tentang kebijakan pendidikan di Indonesia, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan bahwa rendahnya kualitas guru di Indonesia adalah alasan utama di balik tertinggalnya pendidikan di Indonesia.

Dalam ulasan OECD, angka partisipasi kasar untuk sekolah dasar pada tahun 2004 sebesar 100 persen dan meningkat drastis menjadi 110,68 persen pada tahun 2013 dan 2014. Sementara itu, angka partisipasi kasar untuk pendidikan menengah meningkat drastis dari 76,1 persen pada 2001 menjadi 96,9 persen pada tahun 2013.

Namun, dalam tes Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 menempatkan Indonesia berada di posisi kedua terendah dari 65 negara yang berpartisipasi. Ini berarti 50 persen siswa Indonesia tidak memiliki keterampilan dasar matematika. Sehingga jika dibandingkan dengan rata-rata standar global, rata-rata anak Indonesia saat ini tertinggal tiga tahun.

Dalam ulasan tersebut tercatat bahwa kuantitas guru di Indonesia tidak bermasalah seperti yang diperkirakan sebelumnya; pada 2013, 54 persen sekolah dilaporkan kekurangan guru, sementara pada 2012 hanya 16 persen sekolah dilaporkan kekurangan guru.

Reporter OECD Michael Gallagher merekomendasikan bahwa guru dan kepala sekolah harus didorong untuk berbagi hal-hal apa saja yang harus dilakukan di kelas sehingga semua pendidik secara nasional bisa belajar satu sama lain. Kemendikbud juga harus berfokus pada peningkatan kualitas pendidik dalam pendidikan anak usia dini sehingga dengan begitu akan menciptakan efek domino pada tingkat pendidikan selanjutnya.

Teacher Quality Remains Poor: OECD

The Jakarta Post, page 4

Indonesian students are performing below their counterparts in other countries because their teachers are not equipped with the skills to help them develop, a study says.

In a new review on the country’s education policies, the Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) says that the poor quality of teachers in Indonesia is the main reason behind Indonesia’s poor education.

In the OECD review, the gross enrollment ratio for elementary schools in 2004 was 100 percent and increased drastically to 110.68 percent in 2013 and 2014. Meanwhile, the gross enrolment ratio for secondary education increased drastically from 76.1 percent in 2001 to 96.9 percent in 2013.

However, the Programme for International Student Assessment (PISA) said that Indonesia finished second lowest out of the 65 countries participating in its 2012 assessment. It means the 50 percent of Indonesian students do not have the basic skills of mathematics. So, the average child in Indonesia compared to the global standard seems to have three years less of schooling.

The review noted that the number of teachers was not the problem as many have speculated before; 54 percent of schools reported of a shortage of teachers in 2013 while only 16 percent of schools reported shortage in 2012.

The OECD rapporteur Michael Gallagher recommended that teachers and principal should be encouraged to share what works in the classrooms so that educators nationwide could learn from each other. Kemendikbud should also focus on improving the quality of educators in early childhood education first as doing so would create a domino effect on the following levels of education.

Teacher Quality Remains Poor: OECD

Teacher Quality Remains Poor: OECD

Pendaftaran SBMPTN Dimajukan April

Koran Sindo, halaman 16

Koordinator Kelompok Kerja Panitia Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Bambang Hermanto mengatakan, berdasarkan jadwal, SBMPTN akan diluncurkan pada pertengahan April atau sekitar 19 April. Meski tidak merinci jelas apa alasan dimajukannya jadwal tersebut, dia mengatakan bahwa panitia sudah memberitahukan ke publik ada skema penerimaan mahasiswa baru selain di seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dan jalur mandiri.

Bambang mengatakan, kuota per perguruan tinggi negeri (PTN) sesuai Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi No. 22/2015 ditetapkan per PTN akan menerima 30% dari daya tamping kampusnya.

Bambang memperkirakan jumlah pendaftar SBMPTN akan meningkat 15% dari tahun lalu, yang jumlahnya ada 664.509 siswa dan diterima 104.862 siswa.  Kenaikan terjadi karena ada 13 PTN baru yang boleh melaksanakan SBMPTN, di antaranya Universitas Singaperbangsa Karawang, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) di Surabaya dan Yogyakarta, Institut Teknologi Sumatera, Institut Teknologi Kalimantan, Universitas 19 November Kolaka, Universitas Sulawesi Barat, dan Universitas Negeri Timor. Bambang pun menerangkan, bahwa kuota penerimaan pada 13 perguruan tinggi tersebut sebesar 80%, karena mereka tidak mengikuti SNMPTN.

SBMPTN Registration Advanced to April

Koran Sindo, page 16

Coordinator of the Working Group of State University Entrance Joint Selection (SBMPTN) Committee, Bambang Hermanto said based on the schedule, SBMPTN would be launched in mid April or around 19 April. Despite not detailing clearly the reason for advancing the schedule, he said that the committee has informed the public there is a new student admissions scheme in addition to the state university entrance national selection (SNMPTN) and the independent path.

Bambang said the quota per state university (PTN) is in accordance with Minister of Research, Technology and Higher Education Regulation No. 22/2015 which  stipulates per PTN would accept 30% of the campus’ capacity.

Bambang estimates the number of SBMPTN applicants would increase 15% from last year, which totaled 664,509 students and 104,862 students were admitted.  The increase occurs because there are 13 new PTN allowed to implement SBMPTN, among them the University of Singaperbangsa Karawang, University of Pembangunan Nasional Veteran (UPN) in Surabaya and Yogyakarta, Sumatera Institue of Technology, Kalimantan Institute of Technology, University of 19 November Kolaka, University of West Sulawesi, and State University of Timor.  Bambang explained that the quota of admissions in the 13 universities is 80%, because they do not follow SNMPTN.

SBMPTN Registration Advanced to April

SBMPTN Registration Advanced to April

Persiapan UN Sudah 90 Persen

Republika, halaman 6

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan, persiapan ujian nasional (UN) thaun ini telah mencapai 90 persen, baik dalam pesiapan naskah UN, pendistribusian, hingga koordinasi dengan panitia lokal.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Nizam, mengatakan, soal UN paper based test (PBT) untuk daerah yang jauh sudah didistribusikan, sedangkan untuk daerah yang dekat sudah siap dikirim.

Nizam memastikan tiga hari sebelum pelaksanaan UN, naskah soal UN PBT akan tiba di tiap-tiap panitia lokal. Terkait naskah UN yang menggunakan huruf braille, Nizam menambahkan, semuanya sudah selesai dan mulai didistribusikan ke panitia lokal masing-masing. Sedangkan untuk UN computer based test (CBT), persiapan 585 sekolah saat ini sedang memasuki tahap pelatihan protokol dan teknisi, dan koordinasi dengan panitia provinsi, kabupaten, kota, dan sekolah-sekolah terus dilakukan.

Sementara itu Ketua Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Abdul Waidl meminta pemerintah sebagai penyelenggara UN memastikan penyelenggaraan berjalan secara baik, bebas dari kecurangan, dan kebocoran soal. Pemerintah pun harus menjamin semua siswa di seluruh pesolok Tanah Air bisa mengikuti UN secara tepat waktu, aman, dan nyaman.

UN Preparations Already 90 Percent

Republika, page 6

Ministry of Education and Culture (Kemendikbud) stated, this year’s national exams (UN) preparations have reached 90 percent, both in UN script preparations, distribution, to coordination with local committees.

Head of Center for Education Assessment (Kapuspendik), Research and Development Agency (Balitbang) Kemendikbud, Nizam said  paper based UN  (UN PBT) questions for the far regions have been distributed, while for regions that are near they are ready for delivery.

Nizam ensures three days before UN implementation, the UN PBT question scripts would arrive in every local committee.   Regarding UN script using braille,  Nizam added, all are completed and start to be distributed to the respective local committees. While for the computer based test (CBT) UN,  preparations of the 585 schools are currently in the protocol and technical training stage, and coordination with the provinces, regencies, cities, and schools  continue to be conducted.

Meanwhile, Chairman of the Indonesian Education Monitoring Network (JPPI) Abdul Waidl asked the government as UN organizer to ensure implementation runs well, free of fraud/cheating, and question leakage. The government must also ensure all students in all corners of the country could follow the UN in a timely, safe and comfortable manner.

UN Preparations Already 90 Percent

UN Preparations Already 90 Percent

USAID Dorong Guru Terapkan Metode Siswa Berpikir

Republika, page 5

United States Agency for International Development (USAID) Indonesia bidang pendidikan menggelar pelatihan dan bimbingan untuk mendorong para guru SD dn SMP di Jawa Barat (Jabar) dan Banten menerapkan metede pelajaran yang membangun siswa berpikir dan kreatif.

Visi Profesional Koordinator Provinsi Jabar-Banten Rifki Rosyad mengatakan, kegiatan untuk para guru tersebut nantinya dapat melatih siswa untuk berpikir sejak dini dan produktif. Kegiatan tersebut melibatkan 78 guru SD dan SMP se-Jabar dan 53 guru perwakilan sekolah dari Banten.

Kegiatan yang berlangsung slema tiga hari ini lebih menekankan pada sistem literasi, membaca, berbicara, menulis, dan mendengarkan, kemudian mempresentasikan. Selama ini, metode pelajaran yang diterapkan di sejumlah sekolah terkesan tidak memberikan tantangan bagi siswa baik untuk berpikir dalam mencari pengetahuan baru maupun memecahkan suatu persoalan.

Teacher Training Institute Development Specialist Provinsi Jabar-Banten berharap lokakarya ini dapat menghasilkan guru yang baik yang dapat melatih siswa untuk berpikir sejak dini. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah wawasan metode pendidikan bagi para guru, sehingga mereka dapat menerapkan metode pelatihan yang produktif di sekolahnya masing-masing.