Mendikbud: Materi Bahaya Rokok Diajarkan

Republika, halaaman 1

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan materi tentang bahaya rokok kemungkinan akan dimasukkan dalam pendidikan karakter di sekolah. Muhadjir menegaskan, materi tersebut tak akan dijadikan mata pelajaran (mapel), karena jumlah mapel di sekolah saat ini sudah banyak sehingga penambahan mapel-mapel baru belum mungkin dilakukan.

Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Kartono Muhamamad mengatakan, materi soal rokok sebaiknya disampaikan dalam hal kecil dan contoh nyata di sekolah. Ia menyarankan materi bahaya rokok diajarkan mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.

Sementera, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir, dunia kampus pun dipandang perlu untuk memasukan bahaya rokok dalam paket perkuliahan. Namun, penyampaiannya harus terintegrasi dengan materi lainnya, seperti dalam bela negara atau pun wawasan kenegaraan.

Nasir menambahkan, dunia kampus harus terhindar dari bahaya rokok, namun di sisi lain kampus pun harus menyediakan tempat khusus bagi para perokok. Untuk perusahaan rokok yang memberikan bantuan pendidikan, ia tetap meminta mereka tidak memasang iklan rokok di kampus.

Sebelumnya, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menegaskan, kebijakan memasukan bahaya rokok dalam kurikulum pendidikan sudah mendesak. Sehingga, para pendidik bisa menejelaskan dampak buruk rokok pada anak didiknya.

Mendikbud: Subject on the Dangers of Cigarette Smoking Should be Taught

Republika, page 1

Minister of National Education (Mendikbud), Muhadjir Effendy said that the dangers of cigarette smoking will most likely be included in character building in school. Muhadjir further explained that such a subject will not become a lesson since there are already a lot of lessons in school and adding to them is not possible.

Head of National Commission for Tobacco Control, Kartono Muhammad said that subject on cigarette smoking should be taught with simple and real examples at school. He suggested that this subject should be taught from kindergarten up to senior high students.

Meanwhile, Minister of Research, Technology and Higher Education, Mohammad Nasir, said that universities also need to include a subject on the dangers of cigarette smoking in the lectures package. However, the delivery must be integrated with other subjects such as state defense or statehood knowledge.

Nasir added that university environment must avoid the dangers of cigarettes, but smoking areas must also be provided. However, he insisted, while cigarette companies do provide funding for education, they cannot place cigarette advertisements on campuses.

The Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), previously stated that the policy for including the subject of the dangers of cigarette smoking in the curriculum is urgent. Educators must be able to explain the negative impacts of cigarettes to their students.

republika_materi bahaya rokok diajarkan

Bidikmisi Rp 1 Juta Diusulkan pada 2017

Republika, halaman 4

Pemerintah berencana menambah biaya hidup penerima beasiswa Bidikmisi dari Rp 600 ribu menjadi Rp 1 juta per bulan. Hal itu diungkapkan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, saat acara simbolis pemberian beasiswa Bidikmisi di Universitas Lampung (Unila), Lampung, Kamis (25/8).

Namun, karena terbatasnya besaran tersebut, ia meminta pemerintah daerah untuk bisa membantu kekurangannya sebesar Rp 400 ribu, sehingga besaran Rp 1 juta per bulan dapat diterima mahasiswa penerima Bidikmisi. Saat ini, lanjut Nasir, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menyiapkan payung hukumnya.

Nasir mengatakan, kemungkinan besar hal tersebut baru bisa direncanakan pada 2017, dengan melihat kondisi anggaran negara terlebih dahulu. Mekanisme awalnya adalah pemerintah daerah mencatat semua mahasiswa penerima Bidikmisi di tiap perguruan tinggi, kemudian ditentukan besaran tambahan biaya yang akan dibantu oleh pemerintah daerah.

Rektor Unila Hasriadi menjelaskan, sekitar 0,5 persen dari 5.300 mahasiswa Bidikmisi Unila, indeks prestasi kumulatif nya sekitar 4.00. hal ini, kata dia, merupakan prestasi luar biasa bagi mahasiswa Bidikmisi di Unila. Selain itu, beberapa mahasiswa Bidikmisi juga berprestasi di bidang internasional. Bahkan, terdapat pula mahasiswa Bidikmisi yang diterima S-2 melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Proposed Rp 1 Million for Bidikmisi scholarships in 2017

Republika, page 4

The government plans to increase living funds for Bidikmisi scholarship receivers from Rp600,000 to Rp1,000,000 each month, revealed the Minister of Research, Technology and Higher Education, Mohammad Nasir, at the symbolic Bidikmisi scholarship award at the University of Lampung (Unila), Lampung, Thursday (25/8).

However, due to the Rp600,000 limit on the amount, he has asked local government to help with the remaining Rp400,000 to reach the target of Rp one million for those receiving Bidikimisi scholarships. Currently, his Ministry is coordinating with the Ministry of Home Affairs (Kemendagri) to prepare the legal protection.

Nasir added that this idea is most likely to be planned for 2017 by first considering the state budget. The initial mechanism will be for local governments to list all students receiving Bidikmisi from their university and then allocate the additional amount of funds they can provide.

Rector of Unila, Hasriadi explained that some 0.5% of 5,300 students of Bidikmisi Unila have a GPA of 4.00, which is an extraordinary achievement by the students. In addition, several Bidikmisi students have also made achievements at international level. Some students have even continues their Master’s degree (S-2) through scholarships from the Institution for Educational Fund Management (LPDP).

republika_bidikmisi rp1 juta diusulkan 2017

Revitalisasi Pendidikan Tingkatkan Kualitas

Media Indonesia, halaman 13

Dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan pendidikan tinggi di Indonesia, pemerintah gencar melakukan upaya revitalisasi pendidikan profesi. Hal itu dilakukan antara lain melalui praktik-praktik kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar untuk menghadapi era persaingan global.

Menurut Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir, tantangan pendidikan profesi di masa depan akan semakin besar dan menuntut revitalisasi untuk menjadikan pendidikan profesi lebih unggul. Ia mengatakan mahasiswa pendidikan profesi harus dibekali pengetahuan dan keterampilan profesional. Hal itu dapat diawali dengan menghubungkan pendidikan kejuruan (vokasi) sejak di sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Tiongkok, jumlah pendidikan profesi di Indonesia masih kalah jauh. Komposisi pendidikan vokasi di Tiongkok saat ini sebesar 60% dari total 2.824 perguruan tinggi yang ada di sana. Sementara itu, Indonesia, dari 4.300 perguruan tinggi, jumlah vokasi baru sekitar 620. Nasir menambahkan bahwa untuk bisa bersaing maka salah satu yang juga harus diperkuat di pendidikan profesi ialah mengenai riset inovatif.

Education Revitalizing Improves Quality

Media Indonesia, page 13

In order to improve the quality of higher education graduates in Indonesia, the government should conduct vigorous efforts at revitalizing professional education. It is conducted through vocational practices tailored to the needs of the market to face the era of global competition.

According to Minister of Research, Technology and Higher Education (Menristek Dikti) M Nasir, the challenges of professional education in future would be greater and demand revitalizing to improve professional education.   He said students of professional education should be equipped with knowledge and professional skills. This could be initiated by linking vocational education since secondary school until higher education.

When compared to other countries such as China, the number of professional education in Indonesia is still far behind. The composition of vocational education in China to date is 60% of a total of 2,824 universities available there. Meanwhile, Indonesia, out of 4,300 universities the number of vocational education is only around 620. Nasir added that in order to compete, one thing also to be strengthened in professional education is innovative research.

media indonesia_revitalisasi pendidikan tingkatkan kualitas

Budaya dan Posisi Geografis, Tantangan KIP

Media Indonesia, halaman 13

Program Indonesia Pintar (PIP) dengan kartu Indonesia pintar (KIP) sejatinya hendak menjawab persoalan akses dan pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan. KIP dimaksudkan untuk mengatasi pendanaan sebagai penyebab anak tak sekolah. Namun, selain masalah pendataan dan distribusi yang kini sedang digenjot pemerintah ke penerima KIP, harus diperhatikan tantangan kondisi budaya dan geografis wilayah.

Pemerhati pendidikan M Abduh Zen mengatakan memang hal terbesar atau sekitar 76% penyebab anak tak sekolah ialah minim dana atau miskin. Namun, sekarang ini disamping dana, penyebab anak tak bersekolah juga faktor budaya dan geografis sehingga tak dapat diselesaikan dengan KIP saja.

Dalam hemat dia, hambatan faktor budaya ialah orangtua tak menyekolahkan anak karena sekolah dinilai tidak memberikan nilai pragmatis atau kemanfaatan langsung bagi kehidupan sehari-hari. Abduh menambahkan dalam masalah geografis, yaitu lokasi sekolah yang sukar dijangkau. Ini jelas memerlukan upaya komprehensif melibatkan pemda dan kementrian diluar Kemendikbud. KIP saja bisa disfungsional terhadap problem-problem seperti ini. Ia menyarankan, untuk kondisi dan budaya wilayah itu, pemerintah mesti mengenali kompleksitas masalah secara baik dengan menyusun strategi yang fleksibel.