Pemerintah akan Bantu Mahasiswa Indonesia yang Terancam tidak bisa Melanjutkan Studi di Turki

www.thejakartapost.com

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi, Selasa (23/8) mengatakan, pemerintah Indonesja tengah mencari cara untuk memastikan kelanjutan studi ratusan mahasiswa Indonesia penerima beasiswa PASIAD yang telah dicabut oleh pemerintah Turki.

Menlu Retno mengatakan, ia telah berbicara dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) serta Lembaga Pengelola Dana pendidikan (LPDP) guna membahas langkah-langkah kelanjutan studi para mahasiswa tersebut di Turki.

Retno menuturkan, berdasarkan data dari Kemenristek dikti, saat ini terdapat 248 mahasiswa Indonesia yang memperoleh beasiswa PASIAD. Empat di antaranya tengah mengejar gelar S-2, sedangkan sisanya  tengah menyelesaikan pendidikan S-1. PASIAD adalah lembaga bantuan untuk pengembangan sosial dan ekonomi bagi negara-negara di kawaasan Asia Pasifik, yang dihubungkan dengan ulama asal Turki yang bermukim di Amerika Serikat, Fathullah Gullen, yang dituduh oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendalangi kudeta gagal pada 15 Juli lalu.

Di Turki, mahasiswa Indonesia tersebar di 20 kota, dan mayoritas dari mereka berada di Istanbul, Ankara dan Kayseri. Kemenlu juga telah melakukan diskusi dengan pemerintah provinsi masing-masing guna membahas  mengenai kelanjutan pendidikan para mahasiswa tersebut.

Retno mengatakan, setelah melakukan pemetaan terhadap para mahasiswa itu, pihaknya akan membicarakan nasib kelanjutan pendidikan mereka karena beasiswa yang mereka terima dari PASIAD sudah tidak ada lagi. Pemerintah Indonesia, lanjut Retno, tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Turki, namun perlindungan terhadap mahasiswa Indonesia harus dilakukan.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah Indonesia tersebut, Konsulat Indonesia di Istanbul telah mengumpulkan dana pribadi mereka untuk mensubsidi biaya penidikan salah seorang mahasiswa Indonesia yang sangat membutuhkan bantuan. Menlu menolak untuk mengungkap identitas mahasiswa tersebut.

Govt to assist students at risk of losing university degrees in Turkey

www.thejakartapost.com

The government is seeking ways to ensure the completion of university degrees pursued by hundreds of Indonesian students in Turkey who had been grantees of PASIAD scholarships, the funding of which has been invalidated, a minister said on Tuesday.

Foreign Minister Retno LP Marsudi said she had spoken with the Technology, Research and Higher Education Ministry, the Culture and Education Ministry as well as the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) to discuss steps for the continuity of the education of the students.

There are currently 248 Indonesians studying on PASIAD stipends, Retno said, citing ministry data. Four of these are pursuing master’s degrees while the rest are studying for bachelor’s degrees. PASIAD, standing for Pacific Nations Social and Economic Development Association, is linked to US-based Muslim cleric Fethullah Gulen accused by Turkish President Recep Tayyip Erdoğan of orchestrating the failed coup attempt on July 15.

Indonesian students are spread across 20 cities in Turkey, with the majority of them located in Istanbul, Ankara and Kayseri. The Foreign Ministry has also begun discussions with the respective local governments on the education prospects of the students.

Retno said, after mapping out the students, ministry has to now chart out how these students can continue their schooling because it’s clear that the scholarships from PASIAD no longer exist. She added, Indonesia does not interfere with domestic politics, but the concern is about the protection of Indonesian students.

As proof of the government’s commitment, the Indonesian Consulate in Istanbul had collected personal funds to subsidize one student’s fees, after considering the urgency. The minister would not disclose the student’s identity.

Link: http://www.thejakartapost.com/news/2016/08/24/govt-to-assist-students-at-risk-of-losing-university-degrees-in-turkey.html

Pemerintah Dorong Kontribusi Perguruan Tinggi untuk Sektor Industri

www.beritasatu.com

Pembangunan industri pada kenyataannya tidak selalu bergantung pada ketersediaan sumber daya alam suatu negara. Beberapa negara industri maju justru minim sumber daya alam namun mampu mengoptimalkan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu teknik atau teknologi untuk mendukung pembangunan industrinya. Berkaca dari hal tersebut, pemerintah akan terus mendorong agar perguruan tinggi berperan serta melakukan inovasi melalui perkembangan teknologi untuk mendukung kemajuan industri.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, tantangan perguruan tinggi saat ini adalah mendorong pembangunan sumber daya manusia yang terampil dengan keahlian tertentu sesuai kebutuhan dunia kerja. Ke depan, kementerian mengusulkan pendidikan vokasional di bidang industri untuk SMK hingga D1 dan D2, dengan porsi pengajaran 60 persen di praktek lapangan dan 40 persen di kelas. Jadi, ada program magang minimal tiga bulan per semester.

Pemerintah juga giat mendorong kepada pelaku industri untuk mendirikan politeknik, dimana saat ini industri tekstil dan otomotif yang sudah mengimplementasikan. Menurut Airlangga, program tersebut didorong agar jadi gerakan oleh industri swasta atau BUMN. Untuk kurikulumnya sendiri kementerian akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kementerian Perindustrian (Kemperin), lanjutnya, juga terus mendorong penyediaan lembaga atau unit pendidikan vokasional untuk menyuplai tenaga kerja terampil yang tepat guna. Kemperin telah merencanakan konsep pendidikan vokasional (SMK, D1, D2) yang melibatkan lembaga pendidikan dan industri yang berbasis klaster. Sehingga, jelas Airlangga, SMK tidak lagi harus seragam tapi penjurusannya betul-betul diarahkan pada kebutuhan industri di wilayah pertumbuhan masing-masing.

Government Encourages Universities to Contribute to the Industrial Sector

www.beritasatu.com

Development in industries does not necessarily depend on the availability of natural resources within a country. Certain advanced industrial countries even have minimal natural resources but they optimally employ science, especially technical and technological science, to support their industrial development. Reflecting on such a point, the government will continue to encourage universities to take part and produce innovations through the development of technology to support industrial development.

Minister of Industry, Airlangga Hartanto said that today’s challenge for universities is to develop human resources who are skilled in specific expertise according to the needs of working world. For the future, his Ministry suggested planning vocational education in the fields of industry for the level of SMK up to D1 and D2, with the proportion of instruction being 60% practical in the field and 40% classroom teaching. Thus, there will be an internship program for a minimum of three months each semester.

Government also continues to encouraging industrial enterprises to build polytechnics, which currently has been taken up by the textile and automotive industries. Airlangga added that the movement for such a program is to meet the demands of both private industry and state-owned enterprises. His Ministry will coordinate with the Ministry of Manpower and Ministry of National Education in regard to the curriculum.

Ministry of Industry will also encourage the establishment of institutions or units of vocational education to supply efficient and skilled human resources. The Ministry has prepared the concept of vocational education (SMK, D1 and D2) that will involve cluster-based educational institutions and industries. SMKs, therefore, need not necessary be uniform in their programs but should be arranged in regard to the needs of industry in each region.

Link: http://www.beritasatu.com/ekonomi/380971-pemerintah-dorong-kontribusi-pt-untuk-sektor-industri.html

berita satu_pemerintah dorong kontribusi PT untuk sektor industri

Sarana dan Prasarana Sekolah di NTT Belum Memadai

www.okezone.com

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Sinun Petrus Nurak mengatakan, hampir semua sekolah di wilayahnya belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai dan merata. Hal itu disampaikan berkaitan dengan bagaimana penguatan sarana dan prasarana olahraga di NTT khususnya di sekolah-sekolah dalam rangka menunjang bakat dan minat dari para siswa dalam hal olahraga. Ia menilai, tidak meratanya sarana prasarana di sejumlah sekolah di provinsi berbasis kepulauan itu akibat karena kepala sekolah belum paham betul soal mengolah dan memanajemen.

Menurut Sinun, kepala sekolah seharusnya tahu bagaimana mengelola keuangan serta keperluan sekolah dalam mendukung ekstrakurikuler yang salah satunya dalam bidang olahraga. Sehingga tujuan akhirnya adalah mencetak anak yang cerdas bagi bangsa dan negara, khusus bagi daerah dimana sang anak bertempat tinggal. Dan sarana untuk cerdas adalah meningkatkan sarana prasarana yang mendukung kreativitas anak.

Oleh karena, pemerintah provinsi dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT selalu mendorong semua sekolah khususnya kepala sekolah untuk bisa lebih kreatif dalam mengolah sarana prasarana yang ada di sekolah masing-masing demi menunjang kecerdasan dan bakat dari siswa-siswa itu.

Pihaknya berharap agar secepatnya di setiap sekolah mempunyai sarana prasarana olaharga yang memadai sehingga kelak dapat menciptakan generasi muda yang berprestasi dalam olahraga, dan kemudian bisa membawa nama NTT di kancah nasional serta Indonesia di kancah dunia internasional.

School Facilities in NTT are Inadequate

www.okezone.com

Head of Department of Education for East Nusa Tenggara (NTT) Province, Sinun Petrus Nurak, said that almost all schools in his region lack adequate and equal facilities. This was revealed in regard to the provision of sports facilities in NTT, particularly in schools for supporting students’ talents and interest in sport. He pointed out that the inequality of facilities in certain schools in this island-based province is due to a lack of understanding by headmasters in managing the schools.

Sinun added that headmasters should succeed in managing school finances and needs to support extracurricular activities including sports so that ultimately schools can produce smarter students for the nation and especially for the region in which they live. One way to achieve this is by improving the facilities that support the students’ creativity.

Therefore, the government of NTT province, in this case its Department of Education, always urges all the schools and especially the headmasters to become more creative in managing their school facilities to support their students’ talents and intelligence.

He hoped that every school would soon have adequate sport facilities and can produce a younger generation that is outstanding in sport and proudly carries the name of NTT at the national level and Indonesia in the international world.

Link: http://news.okezone.com/read/2016/08/23/65/1471080/sarana-prasarana-sekolah-di-ntt-belum-memadai

okezone_sarana prasarana di NTT belum memadai

Tantangan Pendidikan Vokasi pada Industri Digital

www.okezone.com

Pendidikan vokasi menghasilkan tenaga kerja siap pakai yang memiliki keterampilan di industri atau bidang tertentu. Seperti di era digital saat ini, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) kompeten untuk tenaga operator. Sayangnya, para lulusan SMK yang seharusnya mengisi tenaga operator digital tersebut justru tak terserap industri.

Ketua Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK), Ir Dedi Yudiant dalam sebuah diskusi mengatakan, Indonesia masih sangat kekurangan SDM yang kompeten untuk mengelola industri teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Padahal, berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), ada sekitar 4,4 juta siswa SMK yang bisa menjadi generasi siap pakai.

Dedi berpendapat, tenaga kerja lulusan SMK atau pendidikan vokasi seharusnya menjadi tumpuan pemerintah dalam mewujudkan visi ekonomi digital secara cepat. Meskipun selain lulusan itu juga ada SDM dari balai latihan kerja (BLK) yang menyasar generasi muda tamatan SD/SMP, yakni mencapai 62 persen dari angkatan kerja. Ia menambahkan, butuh dukungan SDM yang kuat di segala bidang untuk membuat sebuah produk startup bisa menjadi viral semacam Facebook, Twitter, Google, yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, dan bisa meraup pendapatan.

Dalam rangka mewujudkan lulusan SMK yang kompeten tersebut, lanjut dia, KPTIK salah satunya menggagas berdirinya Cyber Maestro Center (CMC). Platform ini dirancang sebagai training for trainer dari para ‘maestro’ TIK di bawah koordinasi KPTIK untuk para guru dan pelatih, serta generasi muda yang mau masuk ke dunia TIK.